Buku Tujuh Puluh Empat

PucukcintabougenvilleJudul buku: Pucuk Cinta Bougenville
Pengarang: Sitta Wulandari
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Oktober 2008
Ukuran: 13 x 21 cm, 201 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

 

 

 

 

 

Novel Remaja, Nuansa Dewasa

Don’t judge a book by a cover. Ujaran itu mungkin berlaku untuk novel baru lansiran penerbit PT Andal Krida Nusantara (Akoer) ini. Jangan langsung menghakimi buku ini hanya karena covernya. Sepintas, grafis cover berupa telapak tangan kiri di antara guguran bunga bougenville mengesankan buku ini adalah novel percintaan orang dewasa layaknya cerita telenovela yang sampat merajai televisi di awal era tahun 2000-an.

Penghakiman itu akan patah dengan sendirinya begitu kita membaca lembar demi lembar buku setebal 201 halaman ini. Sitta Wulandari membawa pembaca larut dalam kehidupan remaja SMA yang biasanya menjadi tema sentral dalam novel bergenre teenlit, chicklit atau metropop yang belakangan menyerbu bursa buku Indonesia untuk pasar remaja. Bahasa tutur yang dipakai dalam cerita ini pun bahasa remaja sehari-hari yang sudah akrab didengar telinga.

“Pucuk Cinta Bougenville” jelas bisa dikategorikan sebagai buku remaja dengan tema cerita yang diangkat Sitta. Bercerita tentang kehidupan cinta Aura, seorang cewek SMA yang telah memiliki cinta Mike, cowok tajir di sekolahnya yang menjadi pujaan semua cewek SMA Tunas Yogyakarta. Pada akhirnya Mike bukanlah cinta sejati Aura. Ada cinta lain Aura setelah dia secara tidak sengaja menemukan naskah berjudul “Bougenville” karya mendiang kakeknya, Nugroho Sastrodarsono di rumah neneknya di Trenggalek.

Bermula ketika Aura n’ the gank —teman-temannya sesama redaksi majalah sekolah— berencana liburan ke Bali sekaligus meliput ‘Bali Crazy Nite Party’ untuk diterbitkan di majalah sekolah itu. Mereka pergi berpasangan; Aura-Mike, Intan-Tristan, Linda-Detry. Dalam perjalanan menuju Bali lewat jalur darat, rombongan ini terpecah. Mike-Aura terhenti di Trenggalek karena mobil sport-nya pecah ban, sedangkan kawan mereka yang lain tetap melanjutkan perjalanan ke Bali. Aura pun memutuskan bertahan di Trenggalek setelah secara tidak sengaja dia menemukan rumah bougenville dan bertemu dengan neneknya di pedesaan itu. Mike akhirnya melanjutkan perjalanan ke Bali dan sempat singgah di Surabaya untuk menjemput Angel mantan pacarnya yang tiba dari Singapura.

Di saat teman-temannya pesta di Bali —dan Mike menggandeng Angel—, Aura justru sibuk menulis cerita Bougenville untuk meneruskan karya kakek dan neneknya yang ternyata sama-sama berjudul Bougenville dan sama-sama tak punya lanjutan cerita, tapi hal itulah yang mempertemukan mereka berdua.

Sementara di Melbourne, Bryan Satrio Wicaksono juga sedang menyusun cerita tentang bougenville seperti yang ditulis Aura. Aura adalah karakter wanita dalam karya tulis dan lukis Bryan, dan Bryan adalah tokoh utama pria dalam cerita Aura. Dan akhirnya kehendak (penulis buku ini) mempertemukan mereka. Bagaimana kelanjutannya silahkan baca sendiri.

Yang jelas, tema yang diangkat Sitta memang agak berbeda dengan novel remaja lainnya. Tapi tetap tidak meninggalkan benang merah karya tulis khas remaja. Sayangnya.., di cerita ini, keterlibatan penulis “terlalu besar” dalam artian sebenarnya. Penulis diturutsertakan dalam cerita yang pada akhirnya justru sedikit mengganggu keseriusan jalan dan tema cerita. (max)

12 Tanggapan ke “Buku Tujuh Puluh Empat”

  1. lalu bagaimana dengan naskah bougenville itu? isinya tentang apa?

  2. baca deh bukunya :D

  3. thme gelap begini apa ndak sakit di mata da?

  4. ganti suasana Nai…. Jadi inget theme Mentaree jadul :D

  5. Aku udah baca… jadi emang si penulis (Sitta Wulandari) juga masuk di dalam cerita hehehe… gaya baru nih… sedikit experimental tapi kalau lebih dikembangkan pasti jadi seru… Two Thumbs Up !

  6. Saya sudah baca bukunya (tq Pak Kl atas pinjamannya)…
    alur ceritanya lucu juga (karena si penulis ikut-ikutan berada di sana)..
    dan ceritanya, bisa dibilang agak sedikti horor (karena ada cerita yang tidak bisa dipercaya). kok bisa ya… si bryan nun jauh di Australia dan si Aura yang ada di Trenggalek bisa satu ide membuat cerita tentang Bougenville…

    Dan yang mengasyikkan itu adalah ketika mereka (Aura dan Bryan) ketemu saat si Bryan habis di rampok dan tidak sengaja ketemu dengan Aura yang lagi sibuk mengumpulkan naskah Bougenville yang lg tercecer…

    Kalo dibikin filmnya, pasti asyikkk penasaran aja ngeliat bagaimana sih bentuk rumah bougenville si nenek dan yang ngasih susu coklat panas… dengan suasana pagi diselimuti kabut di Trenggelek…

    Oke deh…

  7. saya nunggu di-film-in aja la :D
    gak konsen kalo baca bukunya
    buku hadiah dari kawan aja udah hampir 1 taun belum siap juga dibaca

  8. Di tunggu juga nih… denger2 emang mau dibikin layar lebarnya yaa?

  9. adi hilmansyah Berkata

    Gue paling demen tuh ucapannya si Bryan ke si Aura pas menyatakan cinta di akhir Cerita… Romantis BGT Gitu LOW. Terus Gue ngakak pas Mike nyanyiin lagu Koi Mil Gaya…. Lengkap ama baju Indiahe nya… Gaaak nyaangkaaa endingnya kayak gini…. Seruuuuuuuuuuuuuuuu !!!!

  10. Gue yang nganterin Sitta (si penulis novel ini) keliling kota Trenggalek… hehe bangga nih sekarang gue punya temen penulis…
    Gue udah baca buku yang dikirim dari dia… bagian yang paling keren pas
    si tokoh Linda merinding ngeliat lukisannya si Bryan… Gokiiiil gue bener-beer merinding juga loh… jadi kita sama-sama merinding kwadrat @#%^%^%

  11. Sepertinya bakal langsung dihunting negh bukunya. Thanks reviunya. :)

  12. jalan crtanya kurang gereget,,,,,,,,,,,,,,,,,,

Tinggalkan Balasan