You’re in My Heart

Youre in my heartJudul buku: You’re in My Heart
Pengarang: Monica Petra
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Desember 2010
Ukuran: 13,5 x 21 cm, 180 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer, 15 Januari 2011

Ketika Remaja Butuh Perhatian

PERHATIAN. Itulah yang dibutuhkan seorang wanita yang tengah jatuh cinta. Tapi apa jadinya bila perhatian itu tak dapat dipenuhi sang pujaan hati? Dan tuntutan yang berlebihan, justru mengekang sang lelaki yang justru tetap membutuhkan kebebasan walaupun sudah terikat jalinan kasih.

Perhatian dan kebebasan yang tak bisa menyatu, memberi ruang untuk terbukanya hati untuk diisi oleh orang bisa memenuhi dua keinginan itu. Itulah yang terjadi pada Sabrina dan Travis, dua remaja SMA yang mulanya saling jatuh cinta. Namun, Sabrina kelewat menuntut lebih. Travis yang jenuh dengan kekangan keinginan Sabrina, memilih untuk melabuhkan hatinya kepada Renata, sahabatnya yang juga sahabat Sabrina.

Lalu ada Boas, teman sekelas yang di mata Sabrina dianggap kelewat kurang ajar, baik gaya maupun sikapnya. Nggak tipe Sabrina banget! Tapi, cerita terus berjalan. Persahabatan Sabrina dengan Lin yang juga dekat dengan Boas, membingkai cerita baru. Mau tidak mau, Sabrina juga harus menerima kehadiran Boas di tengah pertemanannya dengan Lin. Tiga makhluk beda karakter itu, anehnya, bisa saling mengisi.

Di luar itu, Melvin adik Sabrina didekati pula oleh Belinda adiknya Boas. Tak mudah bagi Belinda untuk mendapatkan secuil perhatian Melvin yang tak pedulian sama siapa pun, dengan apa pun, termasuk keluarganya, kecuali penyu Eropa kesayangannya. Sementara Marvel, kembaran Sabrina, yang semula memandang Lin sebelah mata justru merasakan sesuatu yang berbeda setelah mengenal Lin.

Begitu banyak tokoh dalam cerita ini. Tapi mereka saling terkait satu sama lainnya. Dan Monica Petra pengarang novel ini, meramunya menjadi novel remaja yang renyah untuk dibaca tuntas dalam sekali baca. Novel setebal 180 ini, bisa dilahap cepat karena jalan ceritanya tidak memerlukan kerutan di kening untuk memahaminya. Mengalir begitu saja layaknya cerita sinetron-sinetron yang kini kian mewabah.

Setting kehidupan percintaan anak SMA, sekali lagi, memang sebuah tema yang selalu gurih dibaca. Karena bagaimana pun, sembari membaca novelnya, ingatan pembaca pastilah akan melayang pada nostalgia SMA yang tengah atau pernah dilaluinya. Sebuah masa, yang kata banyak orang, merupakan masa-masa terindah.

Di luar tema percintaan, Monica menyelipkan juga masalah hubungan anak-ortu, kehidupan anak broken home, kepedulian untuk sesama, gemerlap kehidupan malam, dan tentu saja keseharian remaja. Novel terbitan Akoer ini, layak dibaca. Karena hadirnya turut meramaikan khasanah novel teenlit yang hingga kini masih punya pasaran pembaca tersendiri. (max)

Laporan WordPress tentang Blog Maxbooks

TANGGAL 2Maxbooks Januari 2011, saya dapat email dari WordPress.com + Stats Helper Monkeys yang melaporkan kondisi blog resensi buku saya selama 2010 lalu. Untuk secara keseluruhan, katanya saya on fire, dan mereka pikir saya hebat, wkwkwkwk.

Ibarat sebuah jet penumpang Boeing 747-400 yang dapat menampung 416 penumpang, blog saya ini  telah dilihat sebanyak sekitar 5.400 kali pada tahun 2010. Itu artinya sama dengan 13 kali jumlah pesawat boeing itu berisi penuh.

Pada tahun 2010, dikatakan, saya menulis 12 posting baru, menumbuhkan total arsip blog 97 posting. Lalu total upload 21 gambar, mengambil total 385kb. Itu sekitar 2 gambar per bulan. Hari tersibuk saya tahun lalu itu adalah 6 Agustus dengan 114 view. Posting yang paling populer hari itu adalah Buku Empat Puluh Tiga.

Cape deee, baca aja sendiri laporannya ya. Ini dia:

Wp1

Wp2

Wp3

Wp4

Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan

Buku muhammadJudul buku: Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan
Pengarang: Tasaro GK
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan: I, Maret 2010
Ukuran: 16 x 23,5 cm, 546 halaman

 

Muhammad yang Merindukan

ADALAH sebuah keberanian bagi Tasaro GK untuk membuat novel ini. Karena, kalau sempat tergelincir sedikit saja, dia bisa saja dihujat umat Islam yang sangat mengagungkan Nabi Muhammad SAW yang kisahnya “diretas kembali” oleh Tasaro dalam bentuk novel biografi ini.

Tasaro bukan tak menyadari hal itu. Terlebih ibunya, Umi Dariyah juga mengkhawatirkan hal ini. Namun Tasaro sudah menyiapkan jawabannya, “Ibu, jika kelak ada orang yang salah paham dengan terbitnya buku ini, aku yakin itu terjadi karena mereka mencintai Kanjeng Rasul. Dan, percayalah Ibu, aku menulis buku ini disebabkan alasan yang sama.”

Proses pembuatan novel ini, seperti diakui Tasaro, tidaklah mudah. Karena menurut dia, menuliskan kisah Muhammad SAW bukan sekadar mengumpulkan sudut pandang Haikal, Martin Lings, Tariq Ramadhan, Karen Armstrong, Ibun Hisyam, dan para penulis yang memahat namanya pada dinding sejarah Muhammad. Lebih dari itu, ada campur tangan-Nya dalam bentuk jejaring hidup, yang mengantarkan pria yang pernah sebagai jurnalis di Radar Bogor dan Radar Bandung ini, menulis kisah manusia agung itu.

Kekuatan spritual mendekapnya, di tengah kesadaran bahwa dirinya bukanlah seorang muslim yang taat di jalan-Nya. Hidayah itu, dari campur tangan itu, yang melahirkan jejaring spritual itu, novel ini akhirnya lahir dengan kehati-hatian karena harus minim dari kesalahan. Dan Tasaro berhasil. Berhasil dalam mengisahkan dari kacamata berbeda, point of view yang lain, untuk menceritakan kisah Rasulullah ini.

Cerita yang dipaparkan Tasaro ini, mengangkat tentang kenabian Muhammad yang diramalkan seluruh kitab suci agama-agama yang ada di dunia. Tentang kehadirannya yang menjadi Rahmatan lil Alamiin bagi seluruh umat manusia, tentang perjuangan hidupnya menyebarkan keesaan Allah, tentang kerinduan banyak orang atas sosoknya yang begitu terpuji.

Kisah dituturkan dari beberapa angle yang mengantarkan pada benang merah bahwa tak perlu diragukan lagi kenabian Muhammad dari sudut pandang agama manapun. Ketidakraguan atas kehadirannya itu, digambarkan Tasaro melalui kisah tokoh Kashva dari Persia yang mencoba membuka rahasia di balik ramalan-ramalan kitab agama lain tentang Muhammad.

Kisah Kashva yang berselang-seling dengan kisah kehidupan Nabi Muhammad itu, memenuhi novel tebal terbitan PT Bentang Pustaka ini. Walau pada akhirnya Tasaro tidak “mengantarkan” pertemuan Kashva dengan Rasulullah, namun setidaknya kita telah “diantarkan” pada fakta bahwa Muhammad adalah memang utusan Allah dan tak ada keraguan atasnya. (max)

Sakura

SakuraJudul buku: Sakura
Pengarang: Nova Ayu Maulita
Penerbit: PT Lingkar Pena Kreativa
Cetakan: I, Juni 2010
Ukuran: 13 x 20,5 cm, 380 halaman

“Siti Nurbaya” ala Nova

SASTRAWAN Joni Ariadinata menilai novel ini sebagai novel semi antropologis yang cukup menjanjikan, baik dari segi bahasa maupun dari kedalaman isinya.

Sebagai novel perdana, Sakura karya Nova Ayu Maulita ini patut diacungi jempol. Wanita kelahiran tahun 1986 itu, mampu “memanfaatkan” pengalamannya mendapatkan beasiswa dan menjadi mahasiswi pertukaran di Tokyo University of Foreign Studies sebagai inspirasi lahirnya novel ini.

Dalam novel ini, Nova berhasil keluar dari pakem komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang selama ini identik dengan novel berlabel “Islami” atau fiksi Islami. Seperti dikatakan Joni, Nova membicarakan persoalan sosial lintas negara dengan perspektif yang cukup unik.

Dalam berbagai pembicaraan sensitif, misalnya relasi antaragama, antarmanusia (terutama persoalan seksualitas yang merupakan sub tema cukup penting dalam novel ini), penulis tidak terjebak pada perbincangan verbal (dengan aroma dakwah yang menempatkan nilai Islam di atas yang lain,” tulisnya dalam kata pengantar buku ini.

Dengan apik dia menjalin cerita bagaimana kehidupan “mahasiswi berjilbab” di negeri sakura, mengalami jatuh cinta kepada pemuda Jepang –yang dianggap sebagai sesuatu yang tabu di kalangan muslimah–, menjalani hidup sebagai aktivifis LSM, hingga ketika dia (tokoh utama bernama Kirana) harus dihadapkan pada pilihan untuk menyenangkan hati orangtuanya dan mengabaikan pilihan hatinya. Sehingga wajar bila tebersit sedikit duga bahwa novel ini sepenggal biografi kehidupan Nova sebagai pengarangnya melalui tokoh Kirana yang diciptakannya.

Kirana menjalani hari-harinya di Jepang untuk menimba ilmu selama satu tahun. Selama di situ, dia dibimbing Takayama Hiro sebagai tutornya, menjalani persahabatan dengan mahasiswa negara lain yang juga ikut program pertukaran mahasiswa ini. Grace, Sandra, Voleak dan dua mahasiswa program magister bernama Andres dan Wahib. Mereka sepakat, suatu hari nanti, pada musim sakura, akan kembali ke Jepang.

Selama di Jepang, Kirana harus berhadapan dengan budaya yang jelas berbeda dengan kehidupan sosial yang dijalaninya sebagai seorang muslimah dan sebagai orang Indonesia tentunya. Di luar itu, dia juga merasakan adanya benih cinta kepada Takayama Hiro, sebagaimana dia juga cinta kepada bunga Sakura yang tumbuh setiap musim semi.

Sepulang dari Jepang –dengan membawa rasa cinta terpendam kepada Hiro–, Kirana menjalani hari di Yogyakarta sebagai mahasiswi tahap akhir yang disibukkan dengan skripsi. Di luar itu, dia menjadi aktifis LSM GARIS yang anti pornografi dan pornoaksi. Hingga akhirnya tiba permintaan dari orangtuanya agar dia segera menikah dengan Ridwan, pria yang telah dijodohkannya. Sementara Kirana masih berharap adanya “kemungkinan” dia kembali ke Jepang dan menikah dengan Hiro, sebuah impian yang sulit untuk terjadi dalam tenggat dekat. Sosok pria lain bernama Chandra, juga hadir menawarkan cinta.

Kemanakah Kirana melabuhkan cintanya? Akankah dia menjadi “Siti Nurbaya” yang harus menikah dengan pilihan ibu-bapaknya? Atau hidup dengan Hiro yang nonmuslim? Ataukah dia  menjadi istri Chandra yang muslim sejati? Baca saja novelnya!(max)

Digitarium

IMG_8665Judul buku: Digitarium
Pengarang: Baron Leonard
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, April 2006
Ukuran: 12 x 18 cm, 567 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer, 9 April 2010

 

Ketegangan yang Tiada Henti

BARANGKALI tidak berlebihan kami menyebut DIGITARIUM, karya perdana Baron, adalah sebuh keberanian baru yang melahirkan novel aksi pertama di Indonesia. Sebagai penulis muda, Baron, secara inovatif memperlihatkan kepiawaiannya menelusuri bidak-bidak imajinasi dan meramunya menjadi simpul-simpul aksi yang menguras adrenalin. Dikemas dalam tradisi “The Matrix“, “Soprano” dan “James Bond” sekaligus, DIGITARIUM mengantar kita ke dalam surealisme, pas di tepi jurang antara kebaikan dan kejahatan. Membaca DIGITARIUM persis mereguk secangkir kopi tubruk panas. Kita tidak akan berhenti, kalau belum merasakan bubuk kopi di dasar cangkir. Lumat hingga tuntas, saking serunya.”

Demikian endorsement yang ditulis Kafi Kurnia tentang novel ini. Kafi tidak salah. Apa yang dipaparkan Baron benar-benar membikin kita tak pernah ingin melepas kelit kelindan cerita hingga tuntas. Menegangkan. Menguak detil-detil kejahatan era digital sekaligus kebaikan yang dilakukan DiverS, sebuah profesi rahasia yang tidak pernah didengar maupun diketahui orang-orang awam, yang para pelakunya sekumpulan orang misterius yang mempunyai bakat sangat luas dalam berbagai bidang dan berani berbuat apa saja, asal dibayar mahal oleh pengguna jasa mereka.

Digitarium, dijelaskan Baron, merupakan tema dari sepenggal kisah era digital yang dirangkum dalam satu wadah yang dinamakan dunia. Era digital yang dijadikannya sebagai setting cerita, maka jangan heran kita akan diantarkan Baron pada sebuah kehidupan berbeda yang menjadikan kecanggihan teknologi sebagai sesuatu yang biasa namun mencengangkan. Karena kita pun telah mengalami dan merasakan sebagian dari kecanggihan itu dalam kehidupan sehari-hari di era saat ini. Bukan tak mungkin, akan tiba saatnya kita masuk di era kehidupan Digitarium dalam arti sebenarnya suatu ketika nanti.

Penceritaan Baron yang sedikit rumit dengan begitu banyaknya seliweran tokoh dalam cerita ini, tidak lantas membuat kita berkerut kening untuk menikmati jalan cerita. Justru kita akan dibuat terpana, betapa Baron dengan mudahnya melepas simpul-simpul misteri yang dirangkainya. Dan lebih mengagumkan, kita diajak mengenal sedalam-dalamnya dunia DiverS, yang selama ini hanya kita pelototi melalui film seperti The Matrix, James Bond atau Wanted yang diperankan Angelina Jolie.

Begitu banyaknya karakter yang ditampilkan, sedikit susah juga untuk me-review novel ini dalam sebuah resensi yang ringkas, padat dan sampai di tujuan. Namun yang jelas, ada dendam, ada jiwa kemanusiaan, ada percintaan, ada kecanggihan, ada kewajaran, ada semua yang tak pernah ada dan bakal ada sekalipun, dan itu semua masuk akal.

Inti cerita, seorang DiverS perempuan dengan begitu banyak nama alias, mendapat tugas untuk membunuh salah seorang pendiri organisasi Legion, Wijayakusuma, yang akan membelot ke organisai Alpha & Omega. Wijayakusuma sendiri berencana menyewa DiverS itu untuk melindunginya. Di sinilah kelit kelindan itu bermula, ada banyak DiverS yang kemudian muncul dan punya keterkaitan satu sama lainnya, terutama dalam hal tugas untuk menghabisi sesama mereka. Dan pada akhirnya, terungkap bahwa DiverS-DiverS ini adalah separuh manusia hasil proyek klonning yang diciptakan untuk keuntungan perusahaan yang menciptakannya.

Tidak asyik rasanya untuk menceritakan semua jalan ceritanya di sini. Karena keasyikan itu justru ada ketika membaca tuntas novel setebal 567 halaman ini. Walau begitu tebal dan memakan waktu beberapa hari untuk menuntaskannya, kita takkan rugi untuk membacanya. Tak percaya? Tempus omnia revelat (sang waktu yang akan mengungkapnya)… (max)

 

 

Imperia

IMG_8666Judul buku: Imperia
Pengarang: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Juni 2005
Ukuran: 12 x 18 cm, 434 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer, 9 April 2010

Akmal yang Memukau

SEBAGAI sebuah novel perdana, Imperia benar-benar menakjubkan. Akmal Nasery Basral berhasil menunjukan kualitasnya sebagai salah satu jurnalis kawakan yang bekerja di Majalah Tempo. Dengan latar belakang jurnalis yang punya jam terbang tinggi, pencapaian yang dihasilkannya dalam novel yang diterbitkan Akoer ini, membawa kita kepada keyakinan bahwa Akmal benar-benar pendongeng yang piawai. Dan itu diakui oleh banyak penulis yang memberi endorsment di novel ini.

Akmal membawa kita kepada dunia yang kompleks. Mulai dari kehidupan selebritas, bagaimana wartawan mestinya bekerja, hingga kehidupan politik yang tak bisa lepas dari keseharian kita. Dan dahsyatnya, pengetahuan Akmal tentang segala hal, menjadi ensiklopedi yang tak bisa kita remehkan.

Sebenarnya novel ini tak lepas dari keseharian Akmal sebagai wartawan. Dia mengangkat tema keterlibatan seleb dalam kasus pembunuhan yang berawal dari perselingkuhan dan pemerasan yang kasusnya coba dibongkar oleh media. Tapi ceritanya sungguh tak gampangan, karena banyak hal berkelindan dan pelik, namun bisa mengalir di tangan Akmal.

Nyaris saja cerita ini mengingatkan kita pada pasangan seleb yang telah bercerai beberapa waktu lalu. Karena Akmal telah lebih dulu membuat novel ini sebelum peristiwa perceraian itu, sehingga kita tidak bisa begitu saja menganggap cerita ini adalah penggalan kisah nyata dari pasangan artis itu. Tidak sama sekali.

Kisahnya tentang diva Melanie Capricia (MC) yang tengah menanjak popularitasnya setelah menikah dengan Rendra, seorang artis dan pencipta lagu. Kendati kehidupan mereka telah dikaruniai tiga orang anak, karir MC terus melambung. Namun dia tersandung kasus perselingkuhan dengan Jenderal Pur. Tak hanya itu, dia juga dituduh membawakan lagu karya Rendra yang merupakan plagiat dari lagu orang lain. Pengacara bernama Rangga yang merupakan keponakan Jenderal Pur, disiapkan untuk membela mereka.

Berhasil menyelamatkan MC, ternyata Rangga justru memeras MC yang melakukan adegan panas dengan Adel, manajer sekaligus sahabatnya. Rangga mengancam akan menyebarkan foto-foto mereka bila permintaannya tak dipenuhi. Karena takut popularitasnya bakal  merosot, keinginan Rangga dipenuhi MC dan Rendra.

Walau sudah dibayar sesuai keinginannya, pemerasan Rangga tetap berlanjut yang membuat MC dan Rendra geram. Rendra mengancam membunuhnya dalam pertengkarannya dengan Rangga. Dan Rangga akhirnya memang terbunuh, tapi tidak di tangan MC ataupun Rendra.

Lantaran wartawan tahu ada hubungan mereka dengan Rangga sebelumnya, dugaan pembunuhan dialamatkan kepada pasangan ini. Di sinilah kita akan melihat bagaimana cara kerja wartawan dalam memburu berita dan membongkar kasus ini. Cara kerjanya, membawa kita untuk membayangkan pada pola kerja di redaksi Majalah Tempo, sehingga kita bakal tahu tentang seluk-beluk “dapur” majalah yang dalam cerita ini “diganti” menjadi Majalah Dimensi.

Hanya itukah jalan ceritanya? Tidak. Sungguh tidak menggairahkan bila seluruh isi cerita dipaparkan di sini. Lantas, kenapa novel ini diberi judul Imperia? Imperia sendiri adalah sebuah patung seorang pelacur Italia yang berdiri di kota Konstanz, Jerman. Di telapak tangan kanannya ada patung kecil Raja Sigmund dan Paus Martinus V di telapak kirinya. Gambar patung itu, dijadikan cover buku ini. Lalu apa kaitannya Imperia dengan keseluruhan jalan cerita? Ya baca saja… (max)

30 Hari Jadi Murid Anakku

IMG_8663Judul buku: 30 Hari Jadi Murid Anakku
Pengarang: Mel
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Mei 2009
Ukuran: 12 x 18 cm, 224 halaman

Belajar Menjadi Orang Dewasa yang Arif

BELAJARLAH dari anak. Banyak kearifan hidup yang selama ini luput atau bahkan kita abaikan, “dipertontonkan” anak dengan sengaja ataupun tidak, guna menyentil kita; apakah kita telah menjadi orang dewasa yang arif dan bijaksana atau belum.

Selama ini, dalam pola pengasuhan terhadap anak, umumnya orangtua cenderung memaksakan nilai-nilai yang mereka yakini baik, padahal belum tentu baik bagi anak. Atau mungkin pemaksaan prilaku agar begini dan begitu sesuai dengan mau dan keinginan orangtuanya. Dan itu, ternyata benar-benar salah kaprah bila kita menyimak buku karya Mel ini.

Mel yang “belajar” dari kehidupan dua jagoan kecilnya, menemukan nilai-nilai yang selama ini luput dari perhatian kita. Walau terkadang kita bisa juga menyadarinya, namun cenderung menganggapnya sebagai hal biasa yang berkembang dan bertumbuh dari anak untuk sekadar menjadi perhatian saja, bukan untuk diterapkan sebagai sebuah nilai yang mengerti bagaimana seharusnya orang dewasa berbuat. Toh, orang dewasa telah pernah jadi anak-anak, sehingga tak ada yang baru dari prilaku anak-anak yang patut diteladani. Demikian mungkin pembelaan kita terhadap keengganan kita untuk belajar dari mereka.

Disusun dalam 30 bab sebagai mozaik dari 30 hari yang dilalui bersama anak-anaknya, Mel menguarkan nilai-nilai terpendam yang dipaparkan dari prilaku anak-anaknya.

Apa saja nilai itu? Di antaranya, menurut Mel, anak-anak sebenarnya bisa menempatkan mana realita dan imajinasi, sebagai pengingat (reminder) bagi ortu, mengajarkan untuk berkompromi dengan mereka dan banyak lagi hal lainnya.

Pengamatan yang dilakukan Mel atas jagoan-jagoannya itu, jelas sebuah kejelian yang tak semua orang mampu melakukannya. Dia bisa begitu larut menyelami dunia anaknya, dan menyadari bahwa nilai-nilai itu benar-benar bertumbuh dari mereka sebagai sebuah yang tak mungkin diabaikan begitu saja.

Buatku, untuk tidak malah jadi terasa tua, hayati saja peran yang didapatkan saat bermain bersama anak-anak…” katanya. (hal.67)

Mel, seperti dikatakan Eep Saefullaoh Fatah dalam pengantarnya, tak seperti orangtua pada umumnya, ia membiarkan anak hidup dan tumbuh dalam dunia mereka sendiri. Mel tak mengajak, apalagi memaksa anaknya masuk ke dalam dunianya. Ia justru berusaha masuk sebisa mungkin ke dunia anaknya.

Mel menegaskan sebuah moralitas yang semakin langka di tengah kehidupan kita: Betapa perlunya orangtua belajar otensitas, kejujuran dan kegembiraan bersahaja dari anak-anak mereka,” kata Eep. (hal.12)

Karena itu, marilah kita belajar lagi melalui anak-anak dan buku Mel ini sebagai jembatannya. (max)