Kalatidha

KalatidhaJudul: Kalatidha
Pengarang: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, Januari 2007
Ukuran: 13,5 x 20 cm, viii + 234 halaman
Dibeli: Sari Anggrek Padang, 15 Mei 2007

 

Belajar Gila Bersama SGA

TERNYATA tak gampang menjadi gila. Gila dalam artian sebenarnya. Justru lebih mudah membikin sebuah kegilaan yang belum tentu dan bisa jadi gila-gilaan. Seno Gumira Ajidarma melalui novelnya ini, mencoba membuktikan itu.

Bagi yang baru mengenal riwayat kepenulisan pria yang namanya kerap disingkat SGA itu, mungkin agak akan terkejut bila perkenalan pertamanya melalui buku setebal viii + 234 halaman ini. Bukan kenapa-kenapa, novel SGA kali ini benar-benar “berat” dibanding karya sebelumnya seperti “Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi”, misalnya. Saking beratnya, bagi yang tak terbiasa dengan permainan kata yang menjemukan, pastilah akan melewatkan beberapa bagian cerita yang dirasa tak berpengaruh bila sengaja dihilangkan atau tidak dibaca sama sekali.

Tokoh Aku di dalam novel ini, pun melakukan itu. Mengabaikan beberapa kliping koran yang dianggapnya tidak menarik untuk dibaca walau keingintahuannya cukup besar terhadap peristiwa besar (G30S/PKI-red) yang ada di kliping koran yang menjadi bagian cerita yang tak terpisahkan dari novel Kalatidha ini. Alasannya,  si Aku tak tahan membaca cara penulisan yang buruk.

Belum kubaca habis berita ini, mataku sudah melompat ke berita lain. Meskipun keinginanku untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi di masa itu besar, aku tak tahan membaca cara penulisan yang buruk. Barangkali seleraku terlanjur dibentuk oleh buku-buku bacaan yang baru kusadari belakangan ditulis dengan sangat bagus.” (hal. 153)

Maka oleh itu, wajar bila ada pembaca novel ini –termasuk saya– menerapkan pola membaca ala tokoh Aku tadi. Ada beberapa bab yang bisa diabaikan, bila tak ingin berlarut-larut dengan permainan kata yang sebenarnya indah, tapi akhirnya justru menjemukan. Seperti bab 7 “Cinta dan Bencana” (hal. 53), bab 16 “Negeri Cahaya” (hal. 135), dan  bab 19 “Sang Mata di Tepi Pantai” (hal.163), serta bab 20 “Utopia Ketiadaan” (hal.173). Tapi, jangan coba mengabaikan bab-bab pertama di buku ini, yang walau menjemukan, tetap saja menjadi rangkaian fragmen yang akhirnya saling berkait kendati tak berurut satu sama lainnya.

Adalah wajar bila pola membaca seperti itu diterapkan, toh SGA yang menjelma menjadi tokoh Aku di cerita ini, secara jujur mengungkapkan proses kepenulisan dan alur penceritaan saat membahas sedikit jati dirinya di bab 9 “Aku Hanyalah Seorang Tukang Kibul” (hal. 69). Disebutkan, bahwa cerita yang diceritakan urut tak urut, terbolak-balik dan campur aduk.

Maklumlah, aku bukan seorang penulis yang piawai, tetapi aku merasa perlu mengosongkan kepalaku dari segenap kenangan maupun angan-anganku. Jadi itulah yang aku lakukan selama ini, berusaha memindahkan dunia dalam kepalaku keluar sebisa-bisanya. Urut tak urut, terbolak-balik, dan campur aduk, biarlah terhadirkan seperti apa adanya, selama aku bisa terbebaskan dari cerita yang terus menerus mengendon dalam kepalaku.” (hal 69)

Mengambil setting zaman pencidukan 1965-1966 setelah peristiwa Gestapu yang saat itu si Aku masih kecil dan menceritakannya –atau tepatnya, menuliskannya– saat dia meringkuk di penjara karena terlibat pembobolan bank puluhan tahun kemudian, jalan cerita yang dibangun SGA benar-benar di luar dugaan. Karena dia menggabungkan unsur  misteri, romantis melankolis yang satir, yang dirangkum secara terpisah tapi kemudian tidak bisa dipisahkan.

Selain tokoh aku, juga dibangun “keterlibatan” tokoh lain di cerita ini biar tidak hambar. Seperti perempuan gila yang keluarga dan saudara kembarnya dihabisi massa lantaran dianggap PKI. Di sinilah tema sentralnya; traumatik dan pembalasan dendam. Tokoh Aku dilibatkan di kisah ini, karena dia jatuh cinta –walau belum pernah sekalipun berhubungan/berkomunikasi– dengan saudara kembar si perempuan gila yang dibakar hidup-hidup bersama keluarga besarnya. Si kembar yang tewas, menjadi dekat dengan si Aku, karena “kelebihan” si Aku yang bisa melihat kehidupan di “dunia lain” yang menjadi dunianya si kembar.

Lalu ada pula tokoh Joni Gila yang dimunculkan sebagai orang gila yang turut menganiaya dengan menendang dan memukul si perempuan gila saat dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi Joni tidak turut memerkosa si perempuan gila, seperti halnya yang dilakukan penjaga malam, sipir, hingga dokter kepala di rumah sakit jiwa itu.

Di sinilah letak kegilaan yang coba dibangun SGA. Dengan “memberi tempat” untuk tokoh Joni Gila dalam 3 bab soal catatan si Joni Gila. Berhasilkah SGA menjelaskan cara berpikir orang gila? Berhasil, tapi justru memunculkan pertanyaan lanjutan, kok bisa-bisanya orang gila bikin catatan yang isinya dan bahasanya jauh lebih tinggi –dan kadang sulit dimengerti– dari orang yang tidak gila sekalipun.

SGA pun menyadari soal ketidakmungkinan gila bila orang gila seperti Joni bisa menulis, yang orang tidak gila saja belum tentu bisa menulis segila Joni Gila itu. Karena si Joni sendiri sebagai orang gila merasa berpura-pura gila, bertingkah laku seperti orang gila agar dikira benar-benar gila atau menjadi benar-benar gila sehingga lupa jika selama ini hanya berpura-pura gila. Nah bingungkan?

Supaya tidak bingung, baca saja Kalatidha ini. Tapi hati-hati, jangan sampai gila oleh kegilaan cerita gila yang dibikin SGA ini. Selamat membaca… (***)

 

Iklan

2 thoughts on “Kalatidha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s