Kota Tanpa Kelamin

KotatanpakelaminJudul: Kota Tanpa Kelamin
Pengarang: Lan Fang
Penerbit: Mediakita, Jakarta
Cetakan: I, 2007
Ukuran: 13 x 19 cm, x + 148 halaman
Dibeli: Sari Anggrek Padang, 15 Mei 2007

Fantasi Seksual Ala Lan Fang

MEMBACA kumpulan Cerpen karya Lan Fang ini, benar-benar renyah dan sedikit mengejutkan. Renyah, karena penuturan dan tema yang diceritakan dari 12 Cerpen yang dimuat di buku itu, di antaranya sangat mudah diikuti tanpa harus berpikir ulang guna mengetahui maksudnya. Mengejutkan, karena Lan Fang begitu berani mengambil angle lain untuk cerita-cerita biasa yang akhirnya jadi luar biasa.

Bahkan perempuan yang katanya penggemar mandi ini, cukup berani menggunakan perbendaharan kata seksual dan mendeskripsikan aktivitas seksual itu sendiri. Dan dia, tidak terjebak seperti karya-karya stensilan yang terkesan murahan. Namun harus diakui, Lan Fang belum seberani Djenar Maesa Ayu untuk tema-tema yang seperti ini. Kendati begitu, membaca Lan Fang jelas beda dengan membaca Djenar, karena ibu dari 3 anak kembar ini termasuk sopan, tapi tetap saja mengajak pembacanya untuk berfantasi mengikuti jalan cerita yang ditulisnya.

Coba saja simak jalan cerita “Pantat” (hal. 89), yang diawal-awal cerita sudah membikin pembacanya seakan membayangkan sebuah adegan seksual sebuah perselingkuhan. Tapi akhirnya pembaca justru kecele, begitu cerita terus mengalir dan terungkap bahwa itu hanyalah aktivitas pemijatan antara tukang pijat perempuan dengan seorang wanita yang lagi sendirian di rumah karena ditinggal suaminya ke luar kota.

Pantat, dijadikan media bagi Lan Fang untuk melakukan kritik sosial dengan menggambarkan betapa kesenjangan sosial bisa dilihat melalui bentuk pantat.

Ingat tentang pantat, hatiku menjadi nyeri mendadak. Ternyata kemiskinan pun dapat terbaca dari pantat. Bagaimana mungkin aku bisa merawat pantatku, seperti perempuan cantik yang kaya ini, sedangkan untuk merawat wajah dan tanganku saja, tidak memungkinkan, karena harus berlomba dengan perut anak-anakku. Berapa lembar ribuan yang kukumpulkan dari mencari barang bekas di tumpukan sampah, lebih berarti untuk membeli beras dan tempe supaya anak-anakku tidak meringkuk lapar dan dingin, daripada untuk membeli bedak wajah, apalagi untuk merawat pantat“. (hal. 92-93)

Selain “Pantat”, Lan Fang juga menyuguhkan fantasi melalui “Ini tidak Gila!” (hal. 43) dan “Anak Anjing Berkepala Kambing” (hal. 31), atau yang lebih berat “Kota Kelamin itu Kosong” (hal. 135). Khusus untuk “Anak Anjing Berkepala Kambing”, Lan Fang kembali melakukan kritik sosial soal hubungan perselingkuhan yang berbuah pada upaya aborsi. Menariknya, Lan Fang justru menjadikan si cikal bayi dan ari-arinya sebagai tokoh sentral dalam ceritanya ini.

Tidak hanya fantasi seksual, Lan Fang juga menyuguhkan kisah percintaan yang tentu saja berbeda dengan roman percintaan yang banyak beredar di pasaran. Kadang terlalu simpel, terkadang pula kelewat berat, yang jalan ceritanya tetap mudah dimengerti. Yang paling menarik adalah “Ampas” (hal. 23). Di sini, tokoh Aku yang mencintai lelaki pujaannya hingga ke ampasnya, justru pada akhirnya dicampakkan seperti ampas. Tragis.

Dibanding karya-karya terdahulu Lan Fang, seperti “Reinkarnasi” (2003), “Pai Yin” (2004), “Kembang Gunung Purei” (2005), “Laki-laki yang Salah” (2006), “Perempuan Kembang Jepun” (Gramedia,2006), dan “Yang Liu” (2006), cover kumpulan Cerpen terbitan Mediakita ini, jauh lebih menarik dari yang sebelumnya itu. Desain sampul yang dibikin Verdi, mengesankan betapa isi kumpulan Cerpen ini sama simpelnya dengan gambar yang dibikinnya. Tidak berat, seperti yang sudah-sudah. Terlebih lagi dengan pemakaian judul “Kota Tanpa Kelamin”, yang tentu saja mengantar kita untuk berfantasi, seperti apa sebenarnya kota tak berkelamin itu. Jawabnya, hanya didapat setelah membaca 12 karya yang ada di buku ini. (***)

 

Iklan

2 thoughts on “Kota Tanpa Kelamin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s