Ritual Celana Dalam

CelanaJudul: Ritual Celana Dalam
Pengarang: Andy Stevenio
Penerbit: Pustaka Anggrek, Yogyakarta
Cetakan: I, 2007
Ukuran: 12,5 x 18,5 cm, 188 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 26 Mei 2007

 

 Menyembunyikan Artikel Ilmiah Melalui Judul

MELIHAT fisik bukunya, terutama covernya, siapa saja pasti tertarik untuk memiliki dan membaca buku anyar karya Andy Stevenio ini. Terlebih lagi bagi pecinta sastra perkelaminan, pastilah akan menyangka buku setebal 188 halaman ini sebagai bagian dari genre sastra itu. Kenyataannya?

Andy Stevenio cukup berhasil memancing calon pembeli buku dengan pemilihan judul “Ritual Celana Dalam” ini. Design sampul dengan huruf timbul karya Nova dan Echo_tea pun menjebak pecinta buku untuk segera memilikinya, karena desainnya memang oke punya. Namun, setelah membolak-balik buku ini dan membaca tuntas tulisan yang dituangkan, maka semuanya akan kecele.

Buku ini bukanlah karya sastra perkelaminan yang beberapa waktu belakangan sempat ngetrend melalui karya Hudan Hidayat, Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami atau sejumlah karya cerpenis lainnya. Ternyata apa yang disuguhkan Andy di buku ini, tak lebih sebuah artikel ilmiah yang menceritakan soal berbagai jenis perilaku seksual yang tak lazim dilakukan anak manusia.

Hal itu semakin tersingkap, begitu membaca satu persatu judul dari 26 bab yang ada di buku ini. Judulnya semakin menegaskan bahwa karya pengarang kelahiran 27 Oktober di pelosok Kalimantan Barat tersebut, memang bukan cerita fiksi. Misalnya saja Bab I yang memakai judul “Ternyata Mayat Juga Bisa Diajak Kencan” atau yang cukup jelas pada Bab IV berjudul “Seks Ala Lansia”. Walhasil, dengan judul-judul bab yang artikel banget itu, pupuslah sudah keindahan judul “Ritual Celana Dalam” sebagai judul buku yang misterius dan mengulik keingintahuan pembacanya.

Meski hanya artikel ilmiah –saya lebih senang menyebutnya artikel populer–, cara penyajiannya memang beda dengan artikel-artikel yang biasa ditulis akademisi atau seksolog yang langsung menghujam pada pokok persoalan. Di tangan Andy, pengetahuan seputar kelainan seksual tidak disampaikan melalui teori-teori, opini-opini (tapi kadang dia juga beropini atas tema yang diangkatnya) layaknya karya tulis populer lainnya. Dia justru mengolah menjadi feature –tepatnya semi feature–, sehingga cerita yang ditampilkan seakan-akan nyata, karena dideskripsikan dengan pemakaian tokoh di setiap cerita.

Kendati mengusung semi feature, ada saatnya ketika memasuki ending cerita, opini si pengarang muncul di dalamnya. Opini dalam bentuk kesimpulan, yang biasa ada di artikel populer. Baca saja ending Bab I. “Sang pelaku tidak menganggap ini adalah sebuah kelainan apalagi penyakit tetapi bagi orang awam ini adalah suatu kelainan jiwa. Suka atau tidak suka cap seperti itu harus dialamatkan kepada pelaku. Tidak seorang pun yang jiwanya sehat mau melakukan perbuatan ini dengan alasan apapun. Suatu kelakuan yang tidak masuk akal tetapi kenyataan yang memang ada.” (hal. 26)

Sebagai buku yang layak baca untuk mengetahui beberapa jenis kelainan seksual pada manusia, buku ini cukup bagus, terutama bagi remaja di atas 17 tahun. Namun akan cukup berbahaya bila “jatuh” ke tangan anak-anak ABG yang belum cukup umur dan berpotensi untuk mencoba-coba dan mengeksplorasi kelainan seksual yang kira-kira mereka punya. Dan pihak penerbit mengerti betul dengan hal ini. Sehingga di sampul belakang dituliskan peringatan; “Buku ini diperuntukkan kepada mereka yang sudah berumur 17 tahun ke atas”. Dan syukurnya, tulisan Andy ini tidak kelewat vulgar betul.

Bagi pembaca dewasa, atau yang terbiasa dengan buku-buku karya ilmiah, karya populer ataupun fiksi dan non fiksi yang biasanya taat dan patuh pada aturan baku penulisan (seperti penggunaan tanda baca), buku terbitan Pustaka Anggrek ini jelas akan membikin mereka mengutuk. Andy (atau mungkin penyuntingnya) seakan lupa (ataukah tidak tahu?) bahwa buku ini penuh dengan kekurangan dari segi “etika” penulisan. Penggunaan tanda baca serupa koma dan titik, atau penggunaan kata sambung, penunjuk tempat, tanda petik dan sebagainya, sama sekali diabaikan, sehingga mengganggu keasyikan membaca dan bahkan pada akhirnya bikin malas untuk membaca secara runtut. Inilah kekurangan yang paling mendasar dari buku yang cukup bagus ini. Sangat mengganggu!!! (***)

Iklan

5 thoughts on “Ritual Celana Dalam

  1. Hmmm begitu yah..makanya don’t judge a book from its cover, da, cover bagus belum tentu isinya ok, begitu juga sebaliknya. di sini (Jogja), kita bisa beli buku dengan membuka segelnya, atau paling tidak baca dl sinopsisnya dengan browsing dl Jadi gak kecewa deh :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s