Gelang Giok Naga

GiokJudul: Gelang Giok Naga
Pengarang: Leny Helena
Penerbit: Qanita, Bandung
Cetakan: I, November 2006
Ukuran: 13 x 20,5 cm, 319 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 26 Mei 2007

 Mengintip Sosiologis-Historis Etnis Cina

AROMA eksotika Cina menguar dari seluruh tubuh novel ini. It’s really a novel about chinese culture!

Demikian tanggapan Lan Fang atas novel perdana karya Leny Helena ini. Apa yang dikatakan Lan Fang, betul 100%. Membaca novel Gelang Giok Naga, pikiran pembaca yang berasal dari etnis lain akan terbuka selebar-lebarnya. Segala asumsi dan tanggapan miring sekalipun atas etnis Cina, terjawab dengan sendirinya melalui penulisan Leny yang begitu runtut dan mudah dimengerti. Pun sebaliknya, pandangan etnis Cina terhadap etnis lain juga dipaparkan dengan baik oleh sarjana lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia yang kini menetap di Houston tersebut.

Bahkan, Leny bisa dikata cukup berani mengkritik bolak-balik antara pandangan etnis Cina dan non etnis Cina dalam aspek relasi sosial antaretnis berbeda itu. Dan dia tidak salah, apa yang disampaikannya, begitulah fakta sosial yang terjadi. Walau belum tentu semua benar, karena tidak semua persoalan bisa digeneralisasi, namun sekali lagi, Leny tidak salah.

Namun buku ini tak hanya bercerita seputar masalah rasialis itu, yang sebenarnya tak lebih sebagai bumbu penghangat cerita —namun menjadi bagian tak terpisahkan dari jalan cerita. Novel yang berasal dari karya cerita bersambung (Cerber) Leny yang terpilih sebagai pemenang Sayembara Mengarang Cerber Femina 2004 ini, lebih dari itu. Leny dengan fasih mengangkat sejarah kekaisaran Cina puluhan abad silam, kehidupan keluarga Cina “tempo doeloe”, yang berlanjut dengan kisah migrasi etnis Cina ke Hindia Belanda, kehidupan sosial Nyai asal Cina di era penjajahan Belanda, perjuangan mereka menjadi pelaku ekonomi yang sukses, pembauran mereka dengan masyarakat betawi, hingga pergolakan massa saat reformasi yang diwarnai dengan “pembantaian” dan perkosaan massal etnis Cina pada 1998.

Leny juga memberi pengetahuan sejarah yang cukup dalam seputar filosofi, budaya, kuliner, aktivitas harian etnis ini. Termasuk sejarah sejumlah tempat, sejumlah peristiwa dan sejarah kesenian Betawi sekali pun yang memang lebih “berbau” Cina seperti kesenian Gambang Keromong.

Dalam bahasa M Irfan Hidayatullah yang menjadi penyunting buku ini, cerita yang dituliskan Leny, di dalamnya berjalinan antara sisi kesejarahan dan imajinasi pengarangnya.

Tapi sekali lagi, buku ini tak bercerita itu saja. Dari sebuah benda yang bernama Gelang Giok Naga, cerita mengalir ke mana-mana. Bermula dari tahun 1723 saat kekaisaran Dinasti Ching berkuasa di bawah kepemimpinan Kaisar Jia Shi yang memiliki seorang permaisuri dan 300 selir. Dari sebanyak itu, Yang Kuei Fei menjadi selir favorit kaisar yang selalu “didatangi” tiap malam hingga mengandung janin sang kaisar. Sebagai selir favorit, Yang Kuei Fei tentu saja sangat disayang bahkan dihadiahi berbagai perhiasan salah satunya gelang giok.

Untuk menjelaskan giok ini saja, Leny punya referensi yang cukup banyak. Bahkan dia mengutip Kitab Agung Kong Fu Tzu pada bagian “ketika aku memikirkan seorang bijak, kecendekiaannya laksana giok”. Simak saja kutipan yang dipakai Leny untuk membuka cakrawala pembaca, betapa giok begitu berarti dibanding emas bagi etnis Cina.

Emas memang berharga, tapi Giok tak terkira nilainya. Karena Giok laksana hikmat. Kecemerlangan dan kehalusannya melambangkan kemurnian yang utuh. Kesempurnaan struktur dan isi melambangkan kepastian dari pengetahuan; Sisi-sisinya yang tak terpahat, walaupun tajam, mewakili keadilan. Bunyi dentingannya yang bening dan panjang bergema menciptakan gita. Warnanya adalah kesetiaan; Guratan-guratannya bukanlah cela, ia hanya menuntut kejujuran; Pelangi yang dipantulkan membuat kita seakan memandang surga; Terlahir dari gunung dan air, ia adalah bumi; Ia adalah kesucian, dan penghargaan yang diberikan dunia merupakan kebenaran.” (hal.33)

Kecintaan kaisar pada Yang Kuei Fei, tentu saja melahirkan kecemburuan dari selir lain, dan terutama dari permaisuri sendiri. Konflik kecemburuan, perebutan kekuasan, berakhir dengan terbunuhnya kaisar dan larinya Yang Kuei Fei bersama Kasim Fu. Dalam pelarian, setahun kemudian (1724), Yang Kuei Fei melahirkan anak buah kasihnya dengan kaisar, Xiao Lin dan setelah itu dia akhirnya meninggal dunia. Kepada Xiao Lin gelang giok diwariskan.

Cerita lalu melompat ke tahun 1935. Bercerita tentang gadis A Sui yang dikawinkan dengan Kian Li yang pulang dari rantau di Batavia. Beberapa tahun pernikahan, A Sui menyusul suaminya ke Batavia. Sebelum keberangkatannya, dia “dibekali” dengan gelang giok warisan nenek moyang mereka secara turun temurun. Cerita diselingi tentang kehidupan A Lin yang menjadi “budak” di Batavia dan kemudian menjadi Nyai (wanita simpanan) meener Belanda, Cornell van der Beek.

Kehidupan berjalan, waktu berlalu, A Sui dan Kian Li beranak pinak dan jatuh bangun dalam membangun kehidupan ekonominya. Demikian juga A Lin yang ditinggal pergi Cornell yang balik ke negerinya dengan membawa anak kembar hasil percintaannya dengan A Lin. A Lin lalu menikah dengan Loi Kun –tetapi tak pernah menyintainya– dan beranak pinak pula.

Kehidupan A Sui semakin terpuruk, bahkan “jatuah tapai“, yang disusul kemudian dengan kepergian Kian Li. Pertemuan A Lin dan A Sui yang hidup bagai langit dan bumi, satu kaya-satu miskin, berawal saat A Sui menggadaikan gelang giok pemberian ibunya dulu ke A Lin demi membayar tunggakan kontrakan rumahnya.

“Pertemuan” lanjutan A Lin-A Sui yang sebenarnya saling benci, diperkukuh dengan menikahnya anak A Sui bernama Sui Giok yang telah dihamili anak A Lin, Bun Kun. Cucu mereka, Swanlin-lah menjadi tokoh sentral cerita ini di babak pertengahan dan akhir cerita, walau tentu saja tetap diselingi dengan kehidupan A Sui yang dipanggil Swanlin sebagai Popo Sui dan A Lin yang dipanggil Popo Lin.

Seluruh kehidupan Swanlin, dari masa kecil hingga remaja, menjadi mahasiswi yang terlibat sebagai aktivis pra reformasi, kisah percintaannya hingga akhirnya menikah dengan pribumi, diceritakan Leny Helena dengan “bumbu-bumbu” yang begitu manis kadang pahit getir dan menyesakkan dada. Terlebih lagi bila telah menyangkut masalah rasialis.

Di “bumbu cerita” inilah sebenarnya kekuatan buku Gelang Giok Naga, yang ending-nya ternyata cukup mengejutkan pula. Bagaimana ending-nya? Baca tuntas saja buku setebal 319 terbitan Qanita ini. Dan saya yakin, anda takkan rugi membacanya!!! (***)

Iklan

9 thoughts on “Gelang Giok Naga

  1. Novel yang mengesankan…kagum dengan Leny Helena, betapa dia telah menyajikan sejarah dalam bahasa yang ringan dan mudah dicerna.

    BTW produktif banget da…resensinya juga tajam dan terpercaya heheheh

  2. novel yg membuat imajinasi saya tentang etnis tionghoa sudah terbuka berkat novel gelang giok naga… sayang nya. setiap bab tidak di bubuhi gambar atau foto jaman dulu.. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s