IPDN Undercover

IpdnJudul: IPDN Undercover
Pengarang: Inu Kencana Syafiie
Penerbit: Progressio, Bandung
Cetakan: I, April 2007
Ukuran: 13,5 x 20,5 cm, xxiv + 282 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 25 Juni 2007

 

Inu yang Kelewat Jujur

Saya semakin yakin bahwa kejujuran itu akan melahirkan keberanian. Akan tetapi, keberanian belum tentu melahirkan kejujuran. Karena, ketika kita jujur mengatakan sesuatu itu salah, kita harus memiliki keberanian untuk menyampaikannya.” (hal. 08)

Begitulah filosofi yang dipegang teguh Inu Kencana Syafiie. Dia tak sekedar omong dengan kata-kata itu, tapi membuktikannya melalui tindakan dan perbuatan. Dan kita pun sama-sama tahu “hasil” dari keberanian berbuat jujur tersebut; hebohnya seantero negeri atas kebobrokan STPDN (sekarang IPDN) yang dikuaknya ke permukaan.

Terungkapnya kasus kematian madya praja STPDN, Wahyu Hidayat pada September 2003 dan praja IPDN, Cliff Muntu pada April 2007 ke khalayak umum, tak terlepas dari keberanian pria kelahiran 14 Juni 1952 di Nagari Simalanggang, Kota Payokumbuah, Sumatera Barat ini. Tak hanya itu, dia juga mengungkap kebobrokan-kebobrokan lain di sekolah pencipta calon pamong praja tersebut, seperti tindak pelecehan seksual, aborsi, peredaran narkoba dan tindak kriminal lainnya.

Tujuan saya sepanjang hidup adalah mencari kebenaran. Ketika kebenaran itu terinjak-injak oleh ketidakbenaran, ketidakjujuran, dan saya tahu betul bahwa kebenaran mutlak itu hanya pada Allah, maka rasanya, saya pikir, mereka (pihak-pihak yang menutupi segala ketidakbenaran di IPDN) sedang menginjak-injak ayat Allah.” (hal.7)

Dia harus membayar mahal atas keberaniannya ini. Karirnya dihambat, pangkat tak dinaikkan, atasannya menyetop uang jalan dan honornya. Selain itu dia nyaris ditabrak, keluarga diintimidasi, dianggap pengkhianat dan segala kesusahan lainnya. Dan bagi Inu, semua itu bukanlah masalah, karena dia menyerahkan hidup matinya sepenuhnya kepada Allah.

Dia tak pernah hidup bergelimang harta. Hidupnya terbiasa ngutang, bahkan harus berpuasa bersama anak dan istri karena malu untuk menambah utang, tinggal di rumah dinas yang hanya punya dua kamar, tak punya mobil, rumah, tanah, dompet, dan jam tangan.

Kisah hidupnya, kehidupan berkeluarganya, menurut saya, jauh lebih “mengenaskan” dari kisah Prof Dr Mamduh Hasan Al Ganzouri dengan istrinya, Prof Dr Shiddiqa binti Abdul Aziz sebagaimana dituliskan Habiburrahman El Shirazy pada Cerpen berjudul “Ketika Derita Mengabadikan Cinta” (hal.37) yang termuat dalam buku Di Atas Sajadah Cinta.

Perkawinannya dengan Theresia Indah Prasetiati, ditolak mentah-mentah oleh mertuanya, lantaran beda agama. Mereka kawin lari, dan hidup serba kekurangan di pedalaman Papua. Indah Prasetiati akhirnya menjadi muallaf di bawah tuntunan Inu. Saat satu persatu anaknya lahir; Raka Manggala Syafiie, Nagara Belagama Syafiee dan Periskha Bunda Syafiee, hidup mereka
tidak juga membaik. Bahkan di awal-awal istrinya mengandung Periskha, sempat pula terniat untuk menggugurkan kandungan karena ekonomi keluarga yang benar-benar morat-marit. Tapi Allah berkehendak lain, kehamilan Indah tetap berlanjut. “Kerukunannya” dengan mertua baru bertaut 20 tahun kemudian.

Hidup miskin, tidak lantas menjadikan Inu goyah menghadapi kenyataan. Dia semakin mengukuhkan keimanannya dalam kontemplasi-kontemplasi yang mengantarkan dirinya sebagai hamba Allah, pecinta Rasul. Meskipun miskin, kuasa Illahi mengantarkannya ke tanah suci, Mekkah untuk menunaikan ibadah haji dengan bermodalkan uang Rp 10.000. Subhanallah!

Semua kepahitan hidup yang dijalani Inu, terpampang habis dalam buku terbitan Progressio ini. Inilah otobiografi seorang Inu yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa. Dia menuturkan segalanya dengan apa adanya. Bahkan kelewat jujur malah. Bayangkan saja, Inu sama sekali tidak “menyembunyikan” kegemaran bapaknya yang suka minum-minuman keras dan punya istri empat.

IPDN Undercover yang dijadikan sebagai judul buku, nyaris mengelabui pembaca bahwa ini sebuah buku otobiografi seorang Inu. Yang terbayang oleh orang, buku ini hanyalah bentangan lebar segala kebobrokan IPDN, sehingga membikin ngeri sebagian orang untuk membacanya. Terlebih lagi melihat tampilan cover yang menggambarkan seorang praja IPDN tengah menjalani “penyiksaan” dengan kondisi mata tertutup. Semuanya terbantahkan setelah melahap habis isi buku ini.

Buku setebal 282 halaman ini, hampir 90% berisi tentang kisah hidup Inu dan keluarga. Sisanya baru seputar IPDN, itupun tidak banyak. Kasus IPDN hanya diungkap pada bab “Membongkar Kasus STPDN” yang terdiri dari 12 sub bagian. Dari 12 sub bagian itu, tidak semuanya pula tentang kebobrokan IPDN, tapi hanya semata-mata pernak-pernik pra dan pasca dia membuka tabir kegelapan di IPDN.

Jadi benar kata teman saya, “don’t judge a book from its cover.” Bacalah buku ini, agar kita tahu siapa itu Inu. Itu saja…(***)

Iklan

9 thoughts on “IPDN Undercover

  1. wah betul sekali, “don’t judge a book from its cover”, tadinya saya kira buku itu isinya dari depan ampe belakang nyeritain ttg IPDN, ternyata setelah lihat-lihat sekilas dan lihat daftar isinya di toko buku sebagian besar nyeritain ttg Inu Kencananya, jadi ngga jadi beli :p
    Tapi setelah baca resensi ini ternyata menariknya justru nilai plus buku ini ada di kisah Inu Kencananya ya. hmmm jadi pengen beli… 🙂

  2. Waaah….
    Bagus Blognya tentang buku buku….. siippp maju terus dengan pemikiran dan pencerahannya…

    Oyaa…
    Saya juga baru beli dan baca buku tentang IPDN, judulnya “Inu Kencana Undercover, Kesaksian Nurani Purna Praja IPDN”
    Penulisnya alumni sekolah itu sendiri (STPDN) yang juga berasal dari Sumatera Barat. Woooww..

    Bukunya juga sangat bagus dan berimbang, saya lebih tahu tentang kampus IPDN itu yang sebenarnya, bukunya jauh dari pretensi dan bahasanya sangat mengalir…

    Saya jadi tahu Inu Kencana yang sebenarnya…

    Saran saya alangkah baiknya juga Buku itu diposting di Blog ini….

    Thanks…

  3. Assalamualaikum WW

    #6 Saudara/Mas/Uda Hiro

    Terima Kasih atas apresiasinya terhadap buku itu.

    #7 Dunsanak Uda Max

    Alhamdulillah ambo mandapek Hidayah dan inspirasi untuk mancubo cubo manjadi penulis dan mancubo maurek urek kenangan maso lalu di STPDN dan maliek saketek sosok Pak Inu Kencana.

    Bukunyo alah beredar di Gramedia Padang sajak bulan Agustus nan lalu.
    heheee…. untuk jawaban “bukan buku tandingan” tantunyo ambo dak bisa bakomentar, rancaklah sidang pambaco nan manilainyo surang.
    Tarimo Kasih Dunsanak, alah mangunjungi Blog blogan ambo.
    Blog dunsanak rancak bana, resensinyo sangat janiah, hidup, memotivasi dan indak manggurui.
    Sangat bermanfaat bagi kito basamo untuak kemajuan peradaban pemikiran diri, kampuang, nagari dan bangsa awak.

    Katonyo kan ado kumpua kumpua bloger urang awak di Padang yoo ? rancak bana maah… kini ambo alun bisa sato, Insya Allah jiko ado kumpua kumpua ditahun nan katibo, Ambo ingin sato..
    Oyo Uda Max.. salam buek Da Syofiardi Bachrul Jb jo Istrinyo, Uda Alfian Jamrah, Uda Yurnaldi, Uda Yusrizal KW.. jiko ado ikuik acara kumpua blogger nanti yooo ??

    SELAMAT HARI RAYO IDUL ADHA 1428 H.

    Sukses selalu…

    Salam

  4. empi = weleh… weleh…., sabana gadang keinginan ambo untuak mambaco buku uda tu.. Kalau ka Gramed, pasti ambo cari… Ok, tarimo kasih atas supportnyo di acara blogger di Padang. Insya Allah kalau ado acara nan lain, kito agiah tahu uda Empi. Dan soal salam, kalau lai basobok jo urangnyo dan kalau lai takana, insya Allah ambo sampaikan 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s