5 cm.

5cmJudul: 5 cm.
Pengarang: Donny Dhirgantoro
Penerbit: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta
Cetakan: IV, Februari 2006
Ukuran: 14 x 21 cm, x + 382 halaman

Mengungkit Kegilaan Masa Remaja

“…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu…cuma…
Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.” (hal.362)

Begitulah tekad yang terpatri di benak dan hati anak-anak muda lima sekawan –Arial, Riani, Zafran, Genta, dan Ian– serta Arinda (adik kembar Arial) dalam menggapai impian mereka menjejakkan kaki di Puncak Mahameru. Mereka berhasil, kendati banyak rintang dan cobaan yang menghadang langkah mereka untuk sampai di puncak tertinggi di Pulau Jawa itu.

Membaca buku karya Donny Dhirgantara ini, bukanlah melulu bercerita soal pendakian komplotan lima orang yang mengaku “manusia-manusia agak pinter dan sedikit tolol yang sangat sok tahu” itu. Lebih dari itu. Begitu banyak filosofi hidup dan kehidupan yang mengalir begitu saja dari keseharian manusia-manusia gokil dan aneh yang dijadikan tokoh sentral oleh Donny ini. Betapa hubungan pertemanan antarmereka memunculkan berbagai dinamika dan romantika yang mengulik perasaan para pembacanya.

Cerita ini bukan cerita cengeng. Tapi mampu membuat haru biru para pembaca yang secara tidak langsung diajak si penulis menjadi bagian dari mereka; ada di antara kehidupan mereka, ada di antara aktivitas keseharian mereka, serta menilai seperti apa, siapa dan bagaimana mereka dalam mewarnai hubungan yang telah mereka jalin sejak SMA. Menyimaknya, asli membawa pembaca larut dan membayangkan kembali keindahan hubungan mereka sendiri dengan teman-temannya di masa yang sama yang dilalui 5 sekawan itu.

Donny cukup berhasil mengangkat romantika era akhir 80-an dan 90-an, baik melalui kutipan sejumlah lagu, barang-barang, buku, film, dan produk makanan yang menjadi bagian keseharian para 5 sekawan itu. Maka wajar bila cerita “5 cm” ini, begitu mendapat tempat di hati pembaca yang satu era/satu angkatan dengan tokoh-tokoh yang diceritakan, termasuk saya.

Gaya penulisan Donny pun cukup mencengangkan. Dia mampu bercerita lucu –selucu-lucunya– dan serius –seseriusnya– sesuai setting waktu dan tempat serta suasana yang diciptakannya dalam keseharian 5 tokoh rekaannya itu.

Bercerita soal 5 sahabat yang telah bergaul sejak 7 tahun dari masa SMA hingga masing-masingnya kuliah dan bekerja. Kemana-mana selalu bersama, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk tidak ketemu dulu, tidak nongkrong bersama dulu, tidak saling teleponan dan SMS-an selama 3 bulan.

Mungkin kita harus ngeliat dunia lain di luar tongkrongan kita dulu, jangan berlima melulu kemana-mana,” kata Zafran menyambung pernyataannya sebelumnya yang mengutip Plato atas perjalanan hubungan mereka selama ini.

Plato, seorang filsuf besar dunia pernah bilang bahwa naninya dalam kehidupannya setiap manusia akan terjebak dalam sebuah gua gelap yang berisi keteraturan kemapanan, dan mereka senang berada di dalamnya. Karena mereka terbuai dengan segala kesenangan di sana dengan apa yang telah mereka capai, hingga akhirnya mereka takut keluar dari gua tersebut. Mereka memang bahagia, tetapi diri mereka kosong dan mereka nggak pernah menemukan siapa diri mereka sebenarnya…mereka nggak punya mimpi.” (hal.62)

Maka jadilah selama 3 bulan, mereka jalan sendiri-sendiri. Melakoni aktivitas masing-masing sendirian, yang tentu saja diwarnai kerinduan antarmereka atas kegilaan yang mereka jalani selama ini. Ian sibuk menyelesaikan skripsinya, Riani magang di bidang liputan, Arial pedekate dengan Indy teman fitness-nya, Genta sibuk dengan event organizer-nya, dan Zafran sibuk dengan kebiasaannya.

Hingga masa 3 bulan itu akan berakhir, awal pertemuan kembali mereka, di-setting oleh Genta dengan melakukan pendakian bersama ke Mahameru. Pendakian ke puncak Gunung Semeru ini, diceritakan dengan detail oleh Donny, sehingga pembaca bisa membayangkan rute pendakian di gunung itu.

Ah.., membaca buku ini, benar-benar membuka lagi kenangan lama. Walau beda versi dalam menjalani masa indah SMA bersama teman-teman dekat masing-masing, tapi toh setiap kita punya kenangan untuk masa yang satu itu. Dan “5 cm” ini sedikit banyaknya mewakili kegilaan dalam kebersamaan tersebut. Terus terang, buku ini gue bangeett(max)

 

Iklan

12 thoughts on “5 cm.

  1. Max, setelah baca buku ini. Bener-bener seru euy cara penulisannya. Pengen bisa nulis fiksi kayak gini tapi kok ngga pernah bisa ya. Tapi sayang penulisnya menceritakan lokasi yang real yaitu gunung Semeru, tapi ngga realistis karena waktu tempuh pendakian semerunya ngga realistis apalagi dia bilang baru satu orang yang kesana ada dua cewek plus seorang pria tambun pula, hehehehe. bagi yang dah pernah ke semeru akan merasakan sedikit ngga realistik aja perjalanan mereka itu. Overall bagus ceritanya dan penulisannya. Thanks dah rekomendasikan buku ini.

  2. wah, kanda, akhirnya lo tamat juga baca buku ini… kalah d gw ga khatam2 ama yang ini, hehhee…
    btw, ini review yang bagus. sesekali coba dipublikasiin dunk di kolom resensi media, kek misalnya Batam Pos tuh… kan lumayan dapet honor 😉

  3. one of my favorite books, dan karena ga pernah jalan2 ke semeru yaaah nerimanya dengan gembira aja, kalo temen2ku yang udah pernah kesana semua pada menghujat ni buku, katanya boong..yaah biarin deh, yang penting ni buku menghibur 😀

  4. etnahannie -> gak khatam2 baca buku gpp, yg penting lu kudu khatam baca al Qur’an

    ferli -> terlepas dari kondisi riil Semeru, buku ini emang bagus Fer

  5. ini buku nyang nulis senior ku di SMA.. rasanya, aura SMA nya skul ku banget.. hhii… Pak, numpang nge-link yah.. saya publish link nya di blog saya… xixi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s