Labirin Lazuardi; Langit Merah Saga

LabirinJudul: Labirin Lazuardi; Langit Merah Saga
Pengarang: Gola Gong
Penerbit: Tiga Serangkai, Solo
Cetakan: I, 2007
Ukuran: 11 x 18 cm, viii + 244 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 11 Juli 2007

 

 Balada Si Roy “Rasa Lain”

Melangkah bersama doa
menyusuri jejak Tuhan
pada angin memukul ranting
batu terkikis embun
karena aku tak bertuan
datang menjemput
pahatan waktu.

Bismillaah,
mengapa harus kuteriakkan
bila jejak begitu dekat
mematri nadi

Puisi karya Tias Tatanka itu mengawali sekuel pertama Labirin Lazuardi. Hampir di tiap peralihan bab, istri tercinta Gola Gong ini, mencoba “mewarnai” karya suaminya yang rencananya akan terbit 6 serial itu dengan puisi-puisi singkatnya yang sedikit banyaknya mencoba menerjemahkan bab yang akan dibaca pembaca.

Membaca puisi Tias itu, jelaslah bahwasannya Labirin Lazuardi yang seri pertamanya dikasih judul “Langit Merah Saga” ini bercerita soal “perjalanan”. Perjalanan seorang anak manusia mencari Tuhan, guna menguaskan kanvas hidup lebih berwarna setelah moreng oleh laranganNya yang tak pernah digubris, yang menggulita karena kehidupan di rumah yang bak neraka. Kita langsung diantarkan Gola Gong pada romantika karya master piece-nya “Balada Si Roy”.

Banyak kesamaan antara “Balada Si Roy” dengan “Labirin Lazuardi” ini, terutama soal kesetiaan Mas Gege –panggilan Gola Gong– untuk menjadikan sebuah perjalanan hidup –tepatnya pengembaraan– sebagai tema karyanya ini. Si Roy yang jadi advonturir dan Lazuardi yang “lari” dari rumah, semakin mempertegas bahwa Mas Gege belajar banyak dan mencoba berbagi atas pengembaraan-pengembaraan panjang yang telah dilaluinya.

Dalam pengembaraan itu, aku menemui dan bahkan mengalami banyak kehilangan. Bisa muncul dariku atau juga dari orang. Betapa hidup ini sangat keras dan selalu saja Allah memberikan jalan keluarnya. Dari pelajaran langsung di kehidupan jalanan itulah aku banyak mendapatkan bab demi bab materi kemanusiaan. Kadang buku-buku tidak penting lagi bagiku. Aku menemukan penulisnya berceceran di setiap jengkal kakiku; terhampar di depanku. Mereka menuliskannya dengan cara lisan. Mereka langsung memprakteknya di setiap nafas kehidupanku. Mereka adalah guru-guru bijaksanaku. Saat itu aku maklum, kenapa Sidharta Gautama memilih meninggalkan segala martabatnya dan memilih belajar pada kehidupan itu sendiri.” Demikian ditulisnya dalam website miliknya, www.rumahdunia.net.

Materi kemanusiaan, itu yang coba diusung Mas Gege di Lazuardi Labirin ini. Bercerita soal anak muda yang terluka dengan kondisi keluarganya yang tidak harmonis, sehingga dia melarikan kecemasannya pada gaya hidup hedonis, hura-hura, bahkan tergelincir pada narkoba. Untunglah dia diselamatkan seorang kakek berjanggut putih misterius yang kemudian menuntun dia kembali ke jalan yang benar. Sehingga “lahirlah” Lazuardi yang memiliki semangat heroisme, yang peduli pada sesama manusia.

Hidup eta kudu jujur
Kudu nulung kanu butuh
Kudu nalang kanu susah
Nganter kanu sieun
Ulah nyengseurikeun upih ragrag
” (hal.12)

Demikian pesan kakek berjanggut putih itu, agar Lazuardi hidup jujur, menolong orang yang membutuhkan, memerhatikan orang yang hidup susah, menemani orang yang takut, dan jangan menertawakan orang yang terkena musibah.

Di sekuel pertama buku terbitan Tiga Serangkai ini, Lazuardi “terdampar” di perkampungan kumuh di pinggir rel kereta api. Perkampungan yang kemiskinan menguar kuat, yang tak lagi percaya dan abai kepada perintahNya karena merasa Tuhan tak adil pada mereka.

Di sini, Lazuardi merasai kerasnya hidup yang melingkupi warga di perkampungan kumuh itu. Di sini dia mendapat teman, di sini pula dia mendapat tentangan orang-orang yang tak menyukainya. Lazuardi berteman dengan Latief; yang mengabdikan hidupnya dalam dunia spiritual yang memimpin DKM Masjid Agung, Paijo; anak bau kencur, pedagang asongan yang berjuang mengatasi persoalan hidup, yang memiliki semangat dan keyakinan bahwa bekerja lebih mulia daripada mengemis, Inka; mahasiswi sastra yang menjadi gadis palang merah yang mengajarinya tentang pentingnya arti berbagi. Lazuardi harus berhadapan dengan Cak Leman dan Buto yang ditakuti orang-orang di perkampungan melebihi takut kepada Tuhan.

Dan tibalah huru-hara itu, kampung di pinggiran rel kereta api ini digusur, karena akan dibangun pusat perbelanjaan modern. Namun mendapat perlawanan dari warga setempat. Tentangan orang-orang kampung itu, berakhir dengan sengaja dibakarnya kampung tersebut agar mereka pindah dari tanah yang katanya milik negara itu.

Coba simak, bagaimana Mas Gege mengkritik atas fenomena sosial penggusuran yang terjadi hampir di seluruh bumi pertiwi ini. “…mereka tidak segan-segan menghancurkan benda cagar budaya hanya untuk membangun pusat perbelanjaan di atasnya. Bahkan, mereka tidak peduli dengan isak tangis para pejuang yang sudah renta yang menunjukkan bekas luka terkena peluru, yang mengatakan bahwa di gedung benda cagar budaya itu pernah terjadi peperangan dengan penjajah. Mereka selalu mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi sebuah kota daripada memikirkan sisi-sisi romantisme penduduknya.” (hal.183-184)

Atau, “Biasanya dalam waktu yang tidak lama, di atas penderitaan orang banyak itu akan tumbuh tiang beton, lampu warna-warni, iklan yang gemerlap, dan perang diskon! Sim salabim! Cling! Peradaban baru disulap di sana!” (hal.202).

Dalam peristiwa pembakaran itu, Lazuardi tampil sebagai hero saat menyelamatkan seorang bocah, Tarno. Heroismenya ini, diliput seorang wartawan bernama Leo. Leo kemudian  mencoba mengorek siapa gerangan Lazuardi yang dianggapnya adalah anak muda yang selalu menjadi berita di beberapa daerah atas heroisme yang dilakukannya.

Kau harus siap menceritakan tentang siapa diri kau. Semua orang bertanya-tanya, siapa gerangan anak muda yang selalu menolong orang di setiap kota yang dilewatinya? Ada apa gerangan dengan anak muda itu? Siapa dia? Kenapa harus berpindah-pindah kota? Apakah dia si pengembara? Apakah dia sebatang kara? Ataukah dia kecewa dengan kehidupannya? Apakah dia lari dari rumah?” (hal.209)

Dan Leo, kemudian mengetahui siapa gerangan Lazuardi. Seorang pejabat teras di negeri ini, yang diberitakan kehilangan anak yang bernama Lazuardi. Dan Lazuardi itu adalah Lazuardi yang tengah diwawancarainya.

Kalau betul itu kau, berarti ayah kau adalah bagian dari ketidakbecusan di negeri ini. Para pejabat yang tidak pernah fokus bekerja, tapi jago untuk mengamankan posisinya. Walaupun ada reshuffle, selalu saja ada kursi untuk mereka duduki. Berapa pun harga kursi itu, selalu saja ada uang untuk membelinya…” (hal.213–214)

Hasil wawancara Leo yang berhasil menguak siapa Lazuardi, akhirnya dimuat di koran walau Lazuardi sudah melarangnya. Dan Leo pun memberitahukan ke orang tua Lazuardi tentang keberadaan anaknya yang telah selama 2 tahun itu. Dari infonya itu, Leo mendapat segepok uang dari papa Lazuardi, namun menjadi petaka bagi Lazuardi. Dia diburu orang-orang suruhan papanya, yang memaksa dia harus meninggalkan perkampungan kumuh itu dan masuk ke labirin baru kehidupan.

Secara kualitas, karya Gola Gong ini tak perlu diragukan lagi. Namun melihat tampilan cover buku 244 halaman ini, nyaris saja mengelabui calon pembaca. Apa pasal? Covernya terlalu serius, sehingga pembaca muda mungkin agak ragu “menyentuhnya” dan mengira Mas Gege sudah mulai menggarap novel serius yang njelimet. Ternyata salah. Justru kedewasaanlah yang ditunjukkan Gola Gong di sini. Dewasa untuk menjalani hidup yang terus berjalan entah sampai kapan… (max)

 

Iklan

5 thoughts on “Labirin Lazuardi; Langit Merah Saga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s