Labirin Lazuardi; Ketika Bumi Menangis

Labirin2Judul: Labirin Lazuardi; Ketika Bumi Menangis
Pengarang: Gola Gong
Penerbit: Tiga Serangkai, Solo
Cetakan: I, 2007
Ukuran: 11 x 18 cm, x + 222 halaman
Dibeli: Togamas, 29 Juli 2007

Dibikin Candu Menunggu Labirin Baru

Siapa yang pernah bisa menebak garis hidup kita? Tidak ada. Bahkan, tidak juga paranormal hebat yang selalu dengan sombong meramal negeri ini di akhir tahun. Tuhanlah Sang Peramal hebat. Bahkan, Dialah Sang Kreator Agung; Dia tak tertandingi. Jika Dia berkehendak “Jadilah” maka jadilah.

Demikianlah kalimat pertama yang ditulis Gola Gong di kata pengantar serial kedua Labirin Lazuardi ini. Dia menulisnya bukan tanpa alasan, karena kelanjutan sekuel ini nyaris berantakan menyusul berbagai musibah yang menimpa dia dan keluarganya. Di penghujung tahun 2006, istri tercintanya, Tias Tatanka masuk rumah sakit karena ada batu di ginjalnya. Setelah Tias sembuh, giliran keempat anaknya secara bergiliran jatuh sakit. Di tengah itu, Eyang Kakungnya masuk rumah sakit pula di Solo karena diserang stroke. Kondisi ini membuat Tias harus masuk UGD rumah sakit lagi karena rasa cemas yang berlebihan.

Dengan keadaan begini, cobaan Allah belum juga berhenti. Giliran Mas Gege –panggilan akrab Gola Gong– yang harus masuk RS di awal 2007. Ginjalnya berpasir, lambung luka, pengapuran di lumbar 5, dan saraf tepi di kedua kakinya mengalami iritasi. Hanya seminggu dirawat, akhirnya dia masuk RS lagi karena kelewat memaksakan diri dengan tugas bejibun di kantor. Selama dua minggu dia harus melalui hari-harinya di RS.

Mas Gege tak patah arang. Di saat dibelit sakit dan menjalani masa penyembuhan inilah konsentrasinya terbangun. Maka “lahirlah” jilid kedua Labirin Lazuardi yang dijudulinya “Ketika Bumi Menangis”. Hasilnya? Dibanding seri pertama, Labirin kedua ini tak kalah menggigit. Bahkan bisa dikata, Mas Gege semakin kritis menyikapi persoalan sosial yang tengah terjadi di negeri ini, yaitu soal TKW yang disiksa di negeri orang dan kehidupun klenik di seputar masyarakat pedesaan, serta berbagai musibah yang selalu akrab dengan orang-orang kecil.

Sebagai kelanjutan serial pertama, dalam seri kedua ini diceritakan Lazuardi yang melarikan diri dari perkampungan kumuh di tepi rel kereta api di tengah-tengah gejolak yang terjadi di sana, lantaran orang-orang suruhan ayahnya memburu dia menyusul munculnya pemberitaan soal dirinya di koran yang ditulis seorang wartawan yang ternyata juga menjual informasi keberadaan dirinya di lokasi kumuh itu dengan imbalan segepok uang.

Dengan menumpangi sebuah truk yang ternyata bermuatan minuman keras, Lazuardi terdampar di sebuah desa yang tengah dirundung kasus pembunuhan misterius. Di sana berkeliaran pembunuh berdarah dingin yang mengincar anak-anak kecil.

Sebagai orang baru dan tampilan yang awut-awutan, kehadiran Lazuardi ini memunculkan kecurigaan dari orang-oang kampung itu. Di sinilah konflik itu terbangun. Lazuardi harus berhadapan dengan mantan jagoan kampung yang beralih profesi sebagai pengojek. Dia diselamatkan dan diberi perlindungan oleh Pak Haji yang menjadi imam masjid di desa itu.

Sedikit demi sedikit, rangkaian kasus dan sejumlah tragedi mulai terkuak. Mulai dari kehidupan Pak Haji dan keluarganya sendiri, hingga derita yang menimpa sejumlah keluarga di desa itu.

Bandi, anak pertama Pak Haji diceritakan hilang dalam pendakiannya. Disusul 6 bulan kemudian dengan kepergian istrinya yang sakit-sakitan pasca hilangnya Bandi. Tinggallah Pak Haji bersama Tono anak bungsunya yang kemudian berperilaku aneh sehingga terpaksa dipasung oleh bapaknya itu.

Sementara itu keluarga Pak Purwo dihebohkan dengan berita televisi yang menyebutkan anaknya yang jadi TKW, Surti tewas karena melompat dari jendela saat mencoba kabur dari majikannya di Malaysia.

Di sini, Gola Gong seperti biasa memasukkan kritiknya terhadap pemerintah atas nasib para TKW negeri ini. “…Para TKI penyumbang devisa negara diperlakukan semena-mena oleh majikan serta saudara-saudaranya sendiri. Lihatlah bagaimana sejak awal mereka diperlakukan tidak manusiawi. Diiming-imingi gaji jutaan rupiah, disekap di barak-barak, bahkan kadang dijebak di rumah-rumah pelacuran. Ketika sukses mendulang emas di negeri orang, mereka dipreteli di terminal 3 bandara Soekarno-Hatta. Diperas, ditipu, dicap rendah, seolah merupakan bagian yang sudah menjadi takdir mereka.” (hal.111-112)

Duka keluarga Pak Purwo, tak sampai di situ saja. Beberapa hari kemudian, giliran anak bungsunya, Nur yang jadi korban keganasan pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran di kampung itu. Siapa gerangan pembunuh itu?

Mengungkap kasus ini, Mas Gege dengan cantik merangkai bab demi bab, sehingga jalan cerita akhirnya nyambung satu sama lain. Pembaca tidak perlu berkerut kening untuk mengaitkan satu cerita dengan cerita lainnya, karena si penulis dengan runtut menuliskannya yang kadang diiringi dengan sedikit flash back tentang siapa itu Lazuardi.

Dan seperti bisa ditebak, karena bukunya akan dibikin 6 seri, maka di seri kedua ini dipastikan Lazuardi akan mengembara lagi ke tempat baru, dengan labirin kehidupan baru pula yang tentu saja menarik untuk ditunggu. Sayangnya, pembaca tidak diberitahu dengan pasti kira-kira kapan serial ketiga akan diterbitkan. Jadilah pembaca yang sudah mulai candu dengan pengembaraan Lazuardi ini dipaksa menunggu dan menunggu. Padahal menunggu itu adalah pekerjaan membosankan, apalagi di bawah ketidakpastian… (max)

Iklan

5 thoughts on “Labirin Lazuardi; Ketika Bumi Menangis

  1. wedew…menunggu dalam ketidak pastian…sabar atuh, mas gege kan emang sengaja membuat orang kecanduan dan terombang ambing dalam ketidak pastian hehe

  2. Ha3x. iya neh. Harusnya kan ada pemberitahuan kalo seri selanjutnya terbit pada hari, tanggal, bulan dan tahun sekian… Kan bisa nabung tuh utk beli bukunya. Syukur2 kalo dikirimin Mas Gege langsung kemari, kan uenakk tenan tuh 😀

  3. Ping-balik: Buku Enam Puluh Satu « Cinta Buku = Buku Cinta

  4. max, salam kenal. tetap semangat menata nada kata.
    indah sekali tulisanmu. saya mersa tersanjung. terima kasih sudah membaca buku-buku saya. kita bersahabat lewat kata, ya. salam. http://www.golagong.com

    max -> wah… terima kasih Mas Gege… sudah berkenan singgah di blog saya ini… Kapan tuh Labirin Lazuardi berikutnya diterbitkan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s