Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

EmhaJudul: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Pengarang: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Buku Kompas, Jakarta
Cetakan: I, Juni 2007
Ukuran: 14 x 21 cm, vi + 258 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 11 Juli 2007

 

Ngalor Ngidul Ala Kiai Mbeling

TAK ada yang tak kenal dengan manusia yang satu ini. Sosoknya begitu dikenal mulai oleh penggede hingga orang kecil dan gila sekalipun. Namanya bahkan tak hanya lekat di kalangan santri, tapi juga kaum abangan, terutama di Tanah Jawa.

Emha Ainun Nadjib adalah manusia langka. Langka dari segi aktivitas dan hidup yang dilakoninya. Dan juga langka dari segi keilmuan dan dunia yang digelutinya. Serta langka dari segi gaya dan sikap hidup yang dipilihnya. Maka wajar bila pada dirinya melekat sebutan Kiai Mbeling.

Kelangkaan dan sikap hidup yang dipilihnya, tentu tak luput dari pujian dan cercaan. Dan diapun mengakui itu. “…Betapa ragamnya saya dimarahi, diberi peringatan keras, dikecam, dikritik, dihardik, dimaki-maki, dituduh-tuduh, disalahpahami, bahkan seringkali juga difitnah. Tapi karena saya selalu berusaha menjadi murid yang baik, semua itu saya terima dengan rasa syukur.” (hal. 131)

Keterbukaannya atas sikap hidup yang dipilihnya, seperti yang disampaikannya secara blak-blakan dalam tulisan “Peringatan dan Amarah” (hal.131-134) di buku ini, jelas mengungkap siapa gerangan pria yang akrab disapa Cak Nun ini.

Cak Nun, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur merupakan pekerja sosial yang hidupnya lebih banyak dijadwal oleh masyarakat yang selalu setia disapanya lewat pelbagai acara dan pertemuan. Sedikitnya ada lima acara rutin yang diasuhnya seperti Padhang Mbulan di Jombang, Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Illahi (Malang). Di luar itu, dia melayani berbagai undangan yang memintanya untuk tampil hampir di seluruh daerah Nusantara ini.

Bersama Kiai Kanjeng yang dibentuknya pada 1998 lalu, hingga Desember 2006 Cak Nun tercatat telah mengunjungi lebih dari 22 provinsi, 376 kabupaten, 1.430 kecamatan, dan 1.850 desa. Belum lagi ke luar negeri, dia pun melangkahkan kaki ke negeri orang untuk berbagi hati dan jiwa melalui aktivitas keagamaan dan budaya yang dilakoninya. Pergi kemana-mana ini, bagi Cak Nun adalah pulang ke rumah persemayaman bathin yang sesungguhnya.

Sebagai budayawan dan seniman –yang Cak Nun sendiri belum tentu mau disebut seperti itu–, karya otak dan olah pikirnya sangat bejibun. Dia telah melahirkan banyak tulisan, mulai dari puisi, esai, artikel, naskah drama, Cerpen, makalah hingga buku. Dan buku “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” terbitan Buku Kompas ini, merupakan bunga rampai dari esai-esai Cak Nun yang bertebaran di banyak koran dan majalah termasuk di Harian Kompas sendiri.

Sebanyak 43 esai yang dibagi menjadi 6 bagian; “Podium Husni” (sebanyak 7 tulisan), “Sekul dan Uler State” (9 tulisan), “Santri Teror” (8 tulisan), “Generasi Kempong” (8 tulisan), “Wong Cilik dan Dendam Rindu Jakarta” (6 tulisan) dan “Gunung Jangan Pula Meletus” (5 tulisan), membuktikan dan memberi gambaran bagaimana sikap seorang Cak Nun atas beragam realitas sosial yang terjadi di ngeri ini. Dia tanpa tedeng aling-aling menyuarakan isi hatinya untuk mengatakan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah. Meski gara-gara itu, sejumlah konsekuensi yang harus diterimanya; dipuji atau dimaki.

Dalam konteks kritik sosial tulisan yang disuguhkan Cak Nun jelas nyelekit (bikin sakit hati dan panas kuping) bagi yang membaca dan mendengarnya. Kendati lebih acap ngalor ngidul ke sana-mari subtansi masalah yang dikritisi melalui tulisannya tidak lepas begitu saja. Walau terkadang mengacu pada literer agama, apa yang disampaikan Cak Nun sangat mengena, walau kadang sedikit kabur akibat ulah ngalor ngidulnya yang nyerempet ke sana kemari.

Berbagai perspektif dan tema yang diangkat, tetap tidak menghilangkan ciri khas Cak Nun. Kendati dibawakan secara bercanda pun, tetap saja kritik Cak Nun takkan lesap. Dia bisa saja berangkat dari fakta riil, rekaan, imajinasi tingkat tinggi ataupun dari hal sepele serupa lagu, penokohan dan kebiasaan adat budaya, Cak Nun bisa masuk dan langsung memanah inti persoalan yang arah bidikannya walau meliuk-liuk tetap menukik di papan target yang dituju.

Baca saja “Gundul Pacul, Fooling Around, Cengengesan” (hal. 175) yang berangkat dari lagu kuno Gundul Pacul. Cak Nun begitu pandai menerjemahkannya dalam kondisi kekinian bangsa ini. “Gundul gundul pacul cul, gemelelengan…Nakal tapi sok benar. Tak mau belajar tapi sok pandai. Kelakuan seenaknya tapi sok suci. Tak punya apa-apa tapi gemelelengan, berlagak, petentang-petenteng. Tak becus jadi pemerintah tapi tak punya rasa malu. Tak mampu berbuat apa-apa, bahkan menyusun kalimat sajapun tak lancar, tapi wajahnya tegak dan malah merasa bangga…” (hal.179)

Kalau diteruskan, masih panjang lagi rentetan sikap gemelelengan ini. Dan itu memang fakta, bahwa itulah kita.

Atau kalau mau yang ngalor ngidul, bisa disimak dalam tulisan “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” yang dijadikan judul buku setebal 258 halaman ini. Tak sekedara mengritik, Cak Nun pun punya pandangan yang jauh ke depan. Coba saja simak tulisannya menyangkut bencana tsunami yang menimpa Aceh yang dimuat dalam “Gunung Jangan Pula Meletus“. Di sini, Cak Nun sudah memprediksi bahwa musibah dahsyat itu akan menjadi titik balik bagi perjuangan rakyat Aceh selama ini. Dan itu benar.., bagaimana perang dengan GAM berakhir sudah dan akhirnya keistimewaan Aceh diakui.

Membaca seluruh esai Cak Nun ini, kita benar-benar diberi pencerahan. Dan hampir seluruh tulisannya itu disesuaikan dengan keadaan yang berlangsung ketika tulisan itu ditulis, namun nilainya tetap tak luntur di kekinian.

Sayangnya, tidak seluruh tulisan yang dimuat di buku ini disebutkan sumber pemuatan sebelumnya. Hanya sebagian yang disebutkan, itupun hanya tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Harian Kompas. Sementara tulisan yang entah pernah dimuat di mana atau tidak pernah dipublikasikan sebelumnya pun, tidak ada penjelasan dari pihak penerbit. Sehingga pembaca hanya bisa mereka-reka, kapan dan dimana Cak Nun menuliskan tulisannya itu. (max)

Iklan

14 thoughts on “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

  1. udah beli bukunya sebulan lalu tapi belum disobek plastiknya, apalagi dibaca, susah nih ngejar baca bukunya, yang baru lebih cepet dan banyak lagi…tp paling tdk udah baca ulasannya max, tks

  2. kalo sampeyan orang jkt, datang hari jumat 14 des 07 di Taman Ismail Marzuki pk. 20.00. semarang tiap tgl 25 di simpang lima, yogya tgl 17. banyak buku2, kaset dan vcd.
    salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s