Negara Kelima

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketJudul Buku: Negara Kelima
Pengarang: Es Ito
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Cetakan: Pertama, Oktober 2005
Ukuran: 13 x 20 cm, 518 halaman
Dibeli: Togamas Yogyakarta, 29 Juli 2007

Menguak Sejarah Benua Atlantis

KEBERADAAN Benua Atlantis hingga sekarang masih menjadi teka-teki dan menjadi perdebatan alot di tingkat ahli sejarah di dunia. Banyak asumsi dimunculkan seputar benua yang hilang ini. Hipotesa yang dimunculkan pun beragam, sesuai interpretasi masing-masing dan dalil yang dikait-kaitkan untuk menguatkan dugaan itu.

Di samping analisa yang menyebutkan Atlantis berada di lautan Atlantik yang ada sekarang, sebenarnya ada berbagai analisa dan pemikiran historis tentang Atlantis oleh sejumlah ahli, di antaranya seperti dikemukakan Plato dalam kitab Timaeus and Critias, lalu ada analisa Fransesco Lopez de Gomara yang menyatakan Atlantis terletak di Amerika, kemudian 3 sejarawan Indian Maya, Abbe Brasseur de Bourbourg, Augustus Le Plongeon, dan Edward Herbert Thomas yang percaya bahwa orang-orang Indian Maya adalah keturunan orang-orang Atlantis. Selanjutnya ada pula teori arkeolog Yunani, Spyridon Marinatos yang menyatakan mitos Atlantis diambil dari kisah tenggelamnya Pulau Thera dekat Pulau Kreta, Yunani.

Yang paling mengejutkan, tentu saja analisa William Lauritzen dari Amerika yang menyebutkan bahwa Benua Atlantis yang tenggelam itu berada di lautan Nusantara dan menganggap Atlantis adalah koloni terluas dan terpadat dari Benua Lemuria yang luasnya sama dengan gabungan Libya dan Asia Minor, terbentang mulai dari daratan tenggelam yang sekarang telah menjadi Laut Cina Selatan hingga lautan Indonesia, dan dari India hingga Oceania. Teorinya ini, lalu dikaitkan pula dengan kata-kata peramal terkemuka Amerika pada tahun 1930-an, Edgar Cayce yang menyebutkan kebangkitan Benua Atlantis akan terjadi setelah kekacauan global pada awal abad 21 dengan munculnya bencana-bencana besar yang melanda dunia. Cayce yang kerap dijuluki Nabi Tidur ini, berhasil meramalkan akan terjadinya perang dunia I dan II, berdirinya negara Israel, kemerdekaan India dan beberapa peristiwa penting di dunia.

Menurut Cayce, kebangkitan orang-orang Atlantis yang telah bereinkarnasi itu, terletak pada kekuatan Atlantis kuno berupa sebuah kristal yang hingga saat ini entah tenggelam di mana. Kristal besar dengan diameter seribu mil persegi itu telah disalahgunakan pada masa akhir peradaban Atlantis kuno yang kemudian membawa kehancuran.
Namun banyak ahli sepakat bahwa kristal tersebut tidaklah sebesar yang digambarkan Cayce. Benda itu dianggap berbentuk kecil, berupa batu hitam mengilat seperti batubara yang menyerupai piramid. Dalam kitab Timaeus and Critias milik Plato, benda ini disebut Pillar Orichalum yang diletakkan di tengah kota Atlantis.

Ramalan akan bangkitnya Atlantis oleh Cayce dan analisa Lauritzen bahwa Nusantara adalah Atlantis kuno yag tenggelam, dijadikan Es Ito sebagai inspirasi atau tepatnya tema sentral dalam novel “Negara Kelima” ini. Namun dia lebih “menenggelam diri” pada kitab Timaeus and Critias milik Plato untuk dijadikan objek cerita untuk mengungkap teka-teki Atlantis itu yang dibalut dengan intrik kemanusiaan yang haus kekuasaan, ketidakpuasan atas jalannya pemerintahan, semangat melakukan perubahan, keserakahan, ketertindasan dan penegakan kebenaran.

Membaca karya pertama Es Ito ini, pembaca benar-benar disuguhkan teka-teki yang tak hanya menyangkut pengungkapan sejarah Atlantis kuno, tapi juga teka-teki dari setiap rangkaian cerita yang dia bangun layaknya novel thriller yang semuanya saling berhubungan dan baru akan terungkap jelang ending yang berakhir happy.

Ketakjuban akan menguar dari para pembaca setelah membaca buku terbitan Serambi setebal 518 halaman ini. Betapa tidak, Es Ito jelas-jelas menggunakan referensi sejarah yang begitu bejibun dan menganalisanya sendiri dengan pelibatan emosional pembaca untuk mereka-reka sendiri pula apakah data dan fakta yang disampirkan pria kelahiran 1981 itu benar dan patut dipercaya. Bagi yang menguasai sejarah, tentu akan langsung berucap betapa hebat anak muda misterius yang biodatanya terkesan sengaja disembunyikan dari keingintahuan pembaca atas siapa gerangan dia sebenarnya. Bagi yang tidak menguasai sejarah, novel ini jelas menjadi referensi baru dalam ilmu sejarah itu sendiri. Tak hanya hebat, pembaca pun pasti akan berucap bahwa anak dari petani dan pedagang ini termasuk pemberani dalam melakukan kritik terhadap kebobrokan negeri ini yang dijadikan sebagai alasan mengapa novel ini diberi titel “Negara Kelima”.

Dia tanpa tedeng aling-aling menjadikan kondisi Indonesia terkini yang carut-marut sebagai latar cerita. Simak saja kata-kata di sampul belakang buku ini;
“Raganya Indonesia
Tetapi jiwanya tidak lagi Nusantara
Satu kelompok berkuasa
Sisanya pengaya saja
Sebagian kecil kelompok kaya
Sisanya menanggung derita
Bubarkan Indonesia
Bebaskan Nusantara
Bentuk negara kelima”

Kalau saja dia menulis buku ini di era orde baru, dipastikan akan masuk list cegah tangkal (Cekal) dan bisa dicap subversif pula. Tapi beruntunglah Es Ito, karena dia berkarya di era keterbukaan yang lahir dari rahim reformasi. Sehingga dia bisa menulis apa saja, tanpa harus khawatir menjadi korban pembreidelan.

Novel ini sendiri bercerita tentang misteri pembunuhan yang dikaitkan dengan keberadaan Kelompok Patriotik Radikal (kePaRad) yang berkeinginan membentuk negara kelima seperti yang dicita-citakan Plato dalam kitab Timaeus and Critias. Bagi mereka, Republik Indonesia telah bubar pada 1 Desember 1956, menyusul mundurnya Bung Hatta sebagai satu dari Dwitunggal republik ini. Indonesia bukan lagi integrasi ide dan gagasan, tapi hanya sebatas integrasi wilayah.

Cita-cita mewujudkan negara kelima ini, tentu menimbulkan pertanyaan besar bagi bagi orang, termasuk pihak kepolisian yang mencoba mengungkap rentetan pembunuhan yang bermula dari pembunuhan Lidya, anak Komandan Detsus Antiteror Polda Metro Jaya, Kombes Riatono yang diduga kuat melibatkan orang-orang KePaRad. Dua pengikut kelompok ini berhasil diamankan dalam penggerebekan di markas mereka. Dari situlah perburuan teka-teki seputar negara kelima coba diungkap termasuk negara-negara apa saja sebelum negara kelima itu. Yang didapat justru teka-teki baru, karena setiap negara yang dimaksud KePaRad digambarkan hanya sebatas kata-kata simbol yang membingungkan.

Negara Pertama.
Solon membawa berita.
Plato membuat cerita.
Sejarah mencari asalnya.
Satu satu kosong kosong kosong terlalu lama.

Negara Kedua.
Negara kedua adalah kedatangan kembali. Pada celah puncak-puncak kedua di mana tidak ada bayangan. Menyeruak keluar daratan. Menyeberang air besar dari hulu ke hilir, mendamba sebuah negara. Taklukan tersembunyi lalu menarik diri hingga masa berganti dan orang-orang datang dan pergi. Negeri itu besar dengan para penjemput sebagai pengawal, tetapi mereka dilupakan. Lalu datanglah bencana itu, musuh barat dari keturunan musuh-musuh Penjemput Pertama.

Negara Ketiga.
Para Penjemput masa pertama tidak menyerah. Pada dataran setelah puncak-puncak kedua mereka bersimaharaja, tapi angin telah menjemput mereka untuk Negara Ketiga. Ketika dua orang dara Para Penjemput menuai janji mereka, dari rahim dua dara lahir dua raja. Satu selalu dituai bencana, satu mencari asalnya. Para Penjemput mengawal negara hingga mereka dilupa. Lalu datanglah bencana itu, dari dalam musuh-musuh itu masuk mencari serat pemberi.

Negara Keempat.
Ketika matahari memberi siang kepada selatan, utara ditimpa malam yang panjang, para Penjemput menyambung nyawa dari negara yang sekarat. Tempo ketika lama mencari asal kedatangan para Penjemput Pertama. Tempat yang dijanjikan tetapi terlupa. Perjalanan panjang menyusuri masa silam dari para Penjemput Pertama. Puncak-puncak kedua menjadi pelindung. Hingga orang-orang menyeberangi berhala menghantam impian menyebar kerusakan dalam janji dan runding. Negara Keempat hilang terpendam orang-orang yang tidak ingin kehilangan muka. Mereka terlupa tetapi sejarah akan mencari asalnya…sejarah akan mencari asalnya.

Negara Kelima.
Negara Kelima adalah kebangkitan masa silam. Ketika matahari hadir tanpa bayangan, keputusan diambil pada puncak yang terlupakan. Para Penjemput menuai janji kejayaan masa silam. Itu adalah saat penentuan, ketika para Penjemput tidak lagi ingat akan masa lalu berbilang tahun tetapi mendamba masa lalu berbilang ribuan tahun.
(hal. 93-95)

Pengungkapan simbol-simbol kata itu tidaklah gampang. Polisi memanfaatkan jasa sejarawan Prof Budi Sasmito. Di tengah upaya pengungkapan KePaRad dan cita-cita Negara Kelimanya itu, terjadi pembunuhan terhadap Inspektur Rudi dari bagian Reskrim Polda Metro Jaya. Tuduhan disematkan kepada Inspektur Timur Mangkuto, anggota Detsus Antiteror yang malam sebelum pembunuhan bertemu dengan Rudi. Dari sinilah akhirnya Timur Mangkuto kemudian terlibat intens dalam menguak apa dan siapa gerangan KePaRad seperti yang dipinta Rudi beberapa saat sebelum kematiannya. Dalam upaya pengungkapan itu dan berada dalam pengejaran pihak kepolisian, Timur dibantu dosen sejarah Eva Duani yang dulunya kekasih Rudi.

Sedikit demi sedikit, negara-negara yang dimaksud KePaRad ini mulai bisa dikuak, berkat data sejarah yang dimiliki Prof Duani Abdullah, ayah Eva yang ternyata kolega dari Prof Budi Sasmito. Di sinilah pembaca oleh Es Ito diberi pencerahan seputar sejarah negeri ini dan keterkaitannya dengan Atlantis. Dan luar biasanya, di tangan Es Ito terungkap secara detail sejarah Minangkabau –yang notabenenya adalah negeri asal muasal si pengarang sendiri– dan posisi negeri dan etnis Minang dalam setiap rangkaian negara-negara yang dimaksud KePaRad.

Eva Duani memastikan dan tanpa ragu menyimpulkan Timaeus and Critias karya Plato telah dilanjutkan oleh Tambo Adat Alam Minangkabau. Negara kesejahteraan Plato pernah berhasil diwujudkan di alam Minangkabau oleh keturunan Iskandar Dzulkarnaen atau Iskandar Yang Agung atau Alexander The Great, murid dari Aristoteles. Dan Aristoteles adalah murid Plato.” (hal.325)

Membaca novel ini, benar-benar memaksa para pembacanya untuk terus melanjutkan halaman demi halaman tanpa henti agar segera bisa mendapatkan setiap jawaban dari teka-teki yang ada. Dan pada akhirnya, kelit kelindan misteri negara kelima, KePaRad, pembunuh Inspektur Rudi dan gank gadis cantik, dan tentu saja sejarah Atlantis termasuk sejarah negara kita ini akan terungkap dengan pola penulisan Es Ito yang benar-benar mengagumkan. Mengagumkan dari sisi referensi yang dipakainya dan mengagumkan dari alur cerita yang disuguhkannya untuk mengantarkan pembaca pada sejarah yang mungkin sudah terlupa dan dilupakan. Wajar Koran Tempo dalam endorsmennya menyebutkan, “Sebuah novel provokatif yang asyik. Data sejarah terasa renyah.” (max)

Iklan

13 thoughts on “Negara Kelima

  1. ceritanya agak2 da vinci code. di luar data sejarah ES ITO yang begitu menakjubkan ditampilkan, orang ini memang punya problem dalam menuturkan ceritanya secara dramatis. untung dia bermain dengan aman dengan bikin cerita yang nggak terlalu rumit. sayang sekali ceritanya kurang menggugah.

    tapi buku ini punya sisi-sisi emas, dengan memberikan satu visi penulis tentang atlantis yang selama ini tidak terlalu diperhatikan.

    nih link ke buku yang berisikan soal problem ini:
    http://www.amazon.com/Atlantis-Lost-Continent-Finally-Found/dp/0976955008

  2. Nagari Pertama : Berlayarlah mereka keselatan dari ranah cahaya sana, menjauh tanpa jejak
    Nagari Kedua : Bertebaranlah menuai jasa
    Nagari Ketiga : Memang begitulah sifat mereka, prasasti itu kata mereka, mengapa kita percaya pada tanda tanya
    Nagari Keempat : Lengang nagari dialahkan garuda, sekali lagi sejarah berulang, namun rundingan tak mempan lagi
    Nagari Kelima : Meluap luap rasa merdeka, namun jangan tergesa-gesa, siap-siap 3 dan 4, berputar menembus masa

  3. dan brown indonesia? heheh ga juga .. es ito tetep es ito meski ada beberapa kemiripan. gue tetep salut ama negara kelima di luar kritik yang gue sampein di situ tadi. jabaran2 soal atlantis dan soal bentuk2 tanduk itu menarik sekali

  4. fadli = iko carito baliak banagari ko Bos? ๐Ÿ˜€

    monsterikan = Ito emang menolak untuk disamakan dengan Brown. Menurut saya, dia lebih bagus dari Brown. Setuju?

  5. to max :
    N1 = Ketika mereka mendarat di Pulau Perca
    N2 = Ketika lanun menyerang dari India
    N3 = Majapahit melecehkan Dharmasraya
    N4 = PRRI Mendera Ranah pencipta negara
    N5 = Reformasi

  6. Ping-balik: Jumpa ES Ito « Kumpulan Tulisan & Pemikiran

  7. HE..HE…MANTAP..MANTAP…MINANG KABAU….RANAH MINANG MEMANG MANTAP……:)

    max-> mantaps bijimana Pak? ๐Ÿ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s