Glonggong

GlonggongJudul Buku: Glonggong
Pengarang: Junaedi Setiyono
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Cetakan: Pertama, Juli 2007
Ukuran: 13 x 20,5 cm, 293 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 04 September 2007

Memanfaatkan Tragedi Perang Jawa

INILAH sebuah cerita fiksi sejarah yang mampu mengambil celah tema dari sebuah sejarah besar bangsa ini. Java oorlog (perang Jawa) yang dikobarkan Pangeran Dipanegara yang disebut juga Kanjeng Sultan Ngabdulkamid, mampu dijadikan pengarangnya, Junaedi Setiyono menjadi latar cerita untuk karyanya yang dikasih judul “Glonggong” ini. Heroiknya Pangeran Dipanegara bukan menjadi kisah utama, tapi hanya sebatas sampiran untuk mengangkat tema bahwa ada sisi lain dari perang itu, tentang perjuangan seorang anak muda yang bernama Glonggong. Sebuah tokoh rekaan, yang diplot memberi warna dalam perjuangan sang Sultan.

Novel yang menjadi salah satu dari lima pemenang Sayembara Menulis Novel 2006 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta ini, benar-benar memikat dari pengambilan tema cerita yang mampu memanfaatkan tragedi Perang Jawa sebagai latar cerita. Sehingga sedikit banyaknya cerita rekaan ini, turut memberi kontribusi besar dalam mengungkap sejarah sebenarnya dari perjuangan Pangeran Dipanegara. Karena tidak semua buku teks wajib sejarah yang secara detail menceritakan bagaimana jalannya perang itu. Maka jadilah novel ini menjadi salah satu referensi baru dari sejarah besar tersebut.

Pemilihan kata Glonggong yang tidak begitu akrab terdengar di telinga warga Indonesia khususnya yang berada di luar Jawa, menjadi penarik utama untuk membuka keingintahuan calon pembaca tentang apa itu glonggong. Bunyinya yang asing, jelas menjadi pertanyaan besar gerangan apakah glonggong yang dimaksud penulisnya. Setelah dibaca, barulah terungkap bahwa glonggong merupakan tangkai daun pepaya yang dijadikan sebagai permainan pedang-pedangan anak-anak.

Namun di tangan Junaedi Glonggong ini disulapnya menjadi tokoh cerita yang karena kecakapannya dalam bermain glonggong sehingga dipanggil Glonggong. Maka jadilah kisah hidup Glonggong ini diangkatkan menjadi novel yang kisahnya merupakan penuturan dalam sebuah surat dari si tokoh cerita untuk sahabatnya, Hendrik Jacob Roeps yang ada di negeri Belanda.

Meski berdarah bangsawan, kehidupan Glonggong tidaklah serupa priyayi yang hidup di masanya. Kesatiran hidup dijalaninya sejak ia menjadi bayi hingga menjadi kaki tangan perjuangan Pangeran Dipanegera. Dia sudah ditinggal ayahnya, Ki Sena seorang jagabaya yang disebutkan tewas dalam pemberontakan gagal yang dipimpin Raden Rangga Prawiradirja. Sementara ibunya, Raden Ayu Wahyuningsih yang menikah lagi dengan Raden Mas Suwanda yang diserang kesepian dan kemudian gila, menjadi satu-satunya tumpuan hidup Glonggong. Sayangnya sang ibu tidak berumur panjang, dia tewas dalam peristiwa kebakaran yang diduga melibatkan Raden Mas Suwanda yang telah menikah lagi dengan perempuan lain.

Di sinilah titik balik kehidupan Glonggong. Dari pertolongan Raden Surya, putra Pangeran Widagda yang pernah menjadi lawan tarungnya dalam adu glonggong di masa kecil, Glonggong dipekerjakan di Puri Pringgawinatan milik Raden Mas Pringgawinata adik dari Pangeran Widagda yang merupakan teman baik Pangeran Dipanegara. Keahlian Glonggong bermain glonggong dan dianggap sebagai pendekar glonggong, menjadikan dirinya sebagai salah seorang tukang keamanan yang bertugas mengantar jemput para priyayi dan menjaga keselamatannya. Namun Glonggong tidak lama bekerja di Puri Pringgawinatan seiring dicampakkannya dia atas kesalahannya yang dianggap ingin tahu banyak seputar kehidupan juragannya itu yang kemudian hari tidak lagi berpihak kepada Pangeran Dipanegara.

Glonggong ditahan sekian lama dalam penjara milik tukang tol yang ada di tengah hutan. Dia kemudian dibebaskan oleh kaki tangan Pangeran Dipanegera untuk diajak berjuang sebagai kurir yang menjaga keselamatan barang-barang kiriman milik sang pangeran. Di sinilah dia tahu, bahwa ayahnya baru saja tewas beberapa waktu lalu dalam menjalankan tugas yang sama diembankan kepadanya. Bukan tewas dalam pertempuran pemberontakan Raden Rangga. Saat menjalankan tugasnya untuk mengantarkan barang-barang perhiasan yang akan dipertukarkan dengan kuda-kuda kuat guna mendukung perjuangan Pangeran Dipanegara, Glonggong gagal karena diserang para begal dan terkena tembakan oleh pria misterius.

Diketahui kemudian, penembaknya itu adalah Raden Mas Suwanda yang pernah jadi ayah tirinya dan dialah yang melarikan perhiasan-perhiasan milik Pangeran Dipanegara. Hingga kemudian, Glonggong berhasil merebut kembali harta itu dari tangan Suwanda, dan berniat untuk mengembalikan kepada Pangeran Dipanegara. Sayangnya sang Pangeran telah kalah perang dan kemudian ditahan kompeni yang kemudian dibuang ke daerah pengasingan.

Di balik cerita utama itu, jalan cerita novel “Glonggong” ini masih tetap diwarnai kisah manusiawi, persoalan cinta, pencarian jati diri, intrik politik zaman itu dan fenomena sosial serta kehidupan strata sosial di lingkungan masyarakat Jawa. Pengetahuan pembaca menjadi tertolong dengan penyampaian yang begitu gamblang oleh penulis.

Namun begitu, memang ditemukan beberapa kekurangan di buku ini. Salah satunya adalah ketidakhati-hatian pihak penerbit dalam menuliskan ringkasan cerita di cover belakang. Dikatakan ayah Glonggong tewas saat dia masih bayi di tangan serdadu Belanda. Selain itu, ada penggambaran diri bahwa Glonggong yang bernama asli Danukusuma ini, sudah bisa mengingat betul peristiwa-peristiwa di saat dia masih berada dalam gendongan ibunya. Logikanya, mana ada bocah seumur tersebut bisa mengingat seperti itu. Tapi semua itu tidak kelewat mengganggu keutuhan jalan cerita yang benar-benar memikat ini. Maka wajar bila karya perdana Junaedi Setiyono ini terpilih menjadi salah satu pemenang lomba novel DKJ yang sangat layak untuk dibaca oleh siapa saja, terutama para penyuka novel sejarah. (max)

Iklan

10 thoughts on “Glonggong

  1. Iya banyak yang gak masuk akal ya da…dan pendekar glonggong (tangkai daun pepaya) bisa sangat eksis dengan glonggongnya…kok bisa ya? padahal hanya tangkai daun yang lemah, mudah pecah…

  2. dear unai…

    kan Glonggong aslinya cuma dipakai pas waktu dia kecil..
    setelah dia jd pengikut Sultan Abdulhamid Diponegoro dia dibuatkan senjata dari besi yang dibuat mirip bentuknya dengan Glonggong..

    ..anyway sewaktu kecil ak jug a pernah bermain pedang Glonggong…..
    meski ga sejago Glonggong…

    …….

  3. Saya baru saja membeli buku di atas dan baru membaca separoh. Kesan saya ketika membaca buku tersebut saya dengan derasnya terseret ke kehidupan Ngayogyakarta tahun 1815-an. Saya lihat Ngayogyakarta yang damai penduduknya, permai alamnya, namun gelisah jiwa bangsawannya terasa begitu kencang berdegup di telinga saya. Saya enggan meninggalkanya sehingga saya rela menikmati buku ini sedikit demi sedikit karena nanti belum tentu ada buku yang sebagus ini.

  4. @Cah mbantul: loh kok kita numpang di sni yah, kaya chat aja…iya begitu emang, dia ganti glonggongnya dengan glonggong duplikat dari besi. permainan itu memang legendaris yah mungkin, sayang saya belim pernah melihatnya.

    Numpang jawab komen yah da 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s