Ronggeng Dukuh Paruk

RonggengJudul: Ronggeng Dukuh Paruk
Pengarang: Ahmad Tohari
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: III, April 2007
Ukuran: 16 x 21 cm, 408 halaman
Dibeli: Togamas, 29 Juli 2007

 Tragedi Kemanusiaan Seorang Ronggeng

 

TRAGIS, begitulah kesimpulan yang bisa ditarik dari kisah hidup Srintil, ronggeng Dukuh Paruk yang menjadi tokoh utama dalam novel masterpiece karya Ahmad Tohari ini. Ketragisan tidak hanya menyangkut pilihan hidup yang dilakoninya sebagai seorang ronggeng, tapi juga perjalanan cintanya yang bertepuk sebelah tangan, serta korban politik gejolak tahun 1965 karena kebodohannya yang tak bisa baca tulis dan membaca zaman.

Di balik profesinya sebagai ronggeng yang membikin banyak lelaki jatuh cinta, dan tentu saja dia mengumbar cinta kepada lelaki yang sanggup membayarnya, Srintil justru gagal mendapatkan cinta Rasus, pria Dukuh Paruk yang menjadi teman sepermainannya sejak kecil. Kendati kehormatannya diserahkannya penuh kepada Rasus sebelum ritual bukak klambu ketika dia memulai hidup sebagai seorang ronggeng, toh pria yang kemudian menjadi tentara itu tidak serta merta menyintai Srintil.

Namun begitu, sebelum Srintil menjadi ronggeng, Rasus sebenarnya jatuh cinta ke teman wanitanya ini sebagai pengganti sosok emaknya yang tak pernah ditemuinya sejak dia kecil. Hingga akhirnya Rasus memilih meninggalkan Srintil lantaran pilihan hidup Srintil sebagai ronggeng. Alasannya, seorang ronggeng adalah milik orang banyak, karena itu Rasus tidak mungkin memilikinya.

Menjadi seorang ronggeng tidaklah mudah, banyak ritual yang harus dilalui, terutama adalah bukak klambu yang memperjualbelikan keperawanan sang calon ronggeng sebelum dia ditasbihkan sebagai ronggeng. Menjadi ronggeng berarti ada 2 predikat sekaligus yang melekat di diri Srintil, yaitu ronggeng dan sundal.

Di Dukuh Paruk, keberadaan ronggeng di atas pentas tidak akan menjadi bahan kecemburuan bagi para perempuannya. Malah sebaliknya, makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin banggalah istrinya. Perempuan semacam itu puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan, baik dalam arti uangnya maupun berahinya.

Ini yang turut dikritisi Ahmad Tohari melalui tokoh Rasus. Rasus melakukan otokritik terhadap kampung halamannya yang tidak mengharamkan persundalan. Ada perbedaan nilai moral antara masyarakat Dukuh Paruk dengan dunia luarnya. Bila di luar dukuh itu soal mencubit pipi akan memunculkan masalah, di Dukuh Paruk seorang suami tidak perlu marah menangkap basah istrinya sedang tidur bersama laki-laki tetangga.

Suami tersebut telah tahu cara bertindak yang lebih praktis; mendatangi istri tetangga itu dan menidurinya. Habis segala urusan!” (hal.85)

Menonton Srintil meronggeng adalah sebuah kegilaan atau tepatnya sebuah histeria. Dia adalah kesegaran dan gairah hidup. Memandangnya, bahkan hanya sekedar mengenangnya, menjadikan orang sejenak terlepas dari perkara keseharian. Bagi setiap laki-laki, Srintil adalah angan-angan, kupu yang melambung dan membuat banyak lelaki ingin menangkapnya.

Tidak sedikit rumah tangga yang kisruh karena suami benar-benar berusaha memiliki Srintil dan mengambilnya sebagai istri. Banyak anak muda yang memaksa menjual tanah karena ingin tampil pantas dan berkelayakan menggandeng Srintil. Dan semuanya tidak peduli apakah Srintil sungguh-sungguh cantik atau hanya kelihatan cantik berkat susuk yang tersembunyi di balik alis, bibir atau pinggulnya.” (hal.226)

Bahagiakah Srintil menjadi ronggeng? Sebelumnya iya. Namun setelah menyadari betapa cintanya kepada Rasus tak pernah hilang, ada kehampaan yang dirasakannya kendati kesehariannya mengumbar cinta kepada lelaki yang membayarnya. Srintil hanya mau Rasus!

Dan kerinduannya terhadap Rasus, sedikit banyaknya mempengaruhi aktivitasnya sebagai ronggeng. Dia tak lagi menggubris keinginan lelaki yang ingin “menyentuhnya”. Titik balik kehidupan peronggeng ini pun jatuh saat penampilannya dikaitkan dengan aktivitas komunis yang menanggapnya untuk selalu tampil di pesta rakyat yang diadakan PKI. Setelah tragedi September 1965, Srintil bersama orang-orangnya ditahan. Dukuh Paruk hancur secara fisik dan mental.

Pengalaman pahit sebagai tahanan politik selama 2 tahun, membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Dia berniat memperbaiki citra dirinya. Dia tak ingin melayani pria manapun. Dia ingin menjadi wanita somahan. Dan ketika Bajus muncul dalam hidupnya, hidup Srintil kembali bergairah. Namun di tangan Bajus, hidup Srintil sampai ke titik nadir. Dia menjadi gila. Menyisakan luka dan perih di dada Rasus yang sebenarnya masih menyintainya.

Membaca keseluruhan novel yang merupakan penyatuan trilogi “Ronggeng Dukuh Paruk”, “Lintang Kemukus Dinihari”, dan “Jantera Bianglala” ini, pembaca benar-benar dibawa Ahmad Tohari menyelami kehidupan pedesaan di Jawa bersama kearifan lokalnya. Lelaki kelahiran Banyumas, 13 Juni 1948 ini memang benar-benar tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya.

Warna semua karyanya penuh dengan penggambaran kehidupan lapisan bawah dengan latar alam. Ahmad Tohari selalu mendeskripsikan dengan detail suasana alam yang melatari setiap ceritanya. Pun demikian dengan “Ronggeng Dukuh Paruk” yang sudah diterbitkan dalam edisi bahasa Jepang, Jerman, Belanda ini.

Sayangnya, pemakaian bahasa Jawa di beberapa kata membikin bingung pembaca yang bukan berasal dari etnis Jawa. Ini diperparah pula dengan tidak adanya footnote atau glossarium yang bisa dijadikan rujukan untuk mengerti istilah yang dipakai Tohari. Lepas dari itu, novel ini memang bagus. Maka wajar lebih dari 50 skripsi dan tesis telah lahir dari novel ini. (max)

Iklan

7 thoughts on “Ronggeng Dukuh Paruk

  1. Di riview ini tak terlihat bahwa uda tak paham bahasa jawa. Uda seolah paham betul kehidupan ronggeng itu..ripyu buku yang lagi lagi mantab. would u please to teach me?

  2. wah, ini the legendary “ronggeng dukuh paruk” ya?
    dulu termasuk buku paporit di perpus esema..
    karena ada bumbu2 “hot” nya 😈

    max -> hahaha, Mas pasti ingetnya yang hot2 aja kayak kompor 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s