Bulan Jingga dalam Kepala

BulanjinggaJudul Buku: Bulan Jingga dalam Kepala
Pengarang: M Fadjroel Rahman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, September 2007
Ukuran: 13,5 X 20 cm, 420 halaman
Dibeli: Padang Book Fair, 15 November 2007

Pergulatan Bathin Seorang Aktivis

“Bulan Jingga dalam Kepala menautkan kekayaan pengalaman empirik aktivis dengan ketajaman sensitivitas prosaik seorang penulis…”

Akmal Nasery Basral yang menuliskan endorsement di atas untuk novel pertama M Fadjroel Rachman ini tidak salah memberi komentar itu. Karena begitulah adanya isi novel terbitan PT Gramedia Pustaka Utama tersebut. Penuh dengan pergulatan bathin sang penulis yang notabene adalah aktivis pergerakan mahasiswa.

Membaca “Bulan Jingga dalam Kepala”, serasa benar kalau Fadjroel tengah berupaya merekonstruksi kembali kehidupannya ketika aktif menyuarakan demokrasi dan menentang kebuasaan kekuasaan. Nyaris saja buku ini menjadi memoar si penulis yang ditampilkan dalam bentuk fiksi yang terkadang meliuk-liuk dan kadang sedikit lurus melewati tanjakan metafora yang dihamparkannya.

Bercerita tentang pergerakan mahasiswa yang menentang kekuasaan Jenderal Suprawiro, kita langsung dapat membayangkan bahwa karakter ini merupakan personifikasi dari penguasa Orde Baru yang ditentang Fadjroel. Betapa pun Fadjroel berupaya untuk mengaburkan itu dengan pengaburan ruang dan waktu, tetap saja jalan ceritanya mengantarkan kita ke sana.

Adalah pengeksekusian terpidana mati Surianata, tokoh utama dalam novel ini –yang terbaca pula sebagai personifikasi seorang Fadjroel– dijadikan sebagai pembuka cerita buku. Lalu sang pengarang mem-flash back mengapa Surianata harus dihukum mati. Itu semua karena dia didakwa telah membunuh Jenderal Suprawiro dan anaknya Bulan Pratiwi dalam aksi demo besar-besaran di Istana Merdeka. Terbunuhnya Bulan memang diakui Surianata sebagai kesalahannya saat mencoba melindungi kekasihnya, Bunga Langit yang akan ditembak Suprawiro dalam aksi pengepungan istana.

Kediktatoran Suprawiro jatuh. Tapi kemenangan mahasiswa ini justru dimanfaatkan ‘cecunguk’ Suprawiro, Jenderal Yogaswara dan Jenderal Wimanjaya, lantaran mahasiswa sendiri tidak pernah menyiapkan pemimpin pengganti ketika Suprawiro berhasil ditumbangkan. Di tangan Yogaswara dan Wimanjaya, kehidupan negara tidak jauh lebih baik dibanding ketika Suprawiro berkuasa. Di sinilah kesalahan mahasiswa yang ternyata tak cermat menyusun peralihan kekuasaan, sehingga mereka sendiri satu persatu menjadi korban keganasan 2 jenderal tersebut, termasuk Surianata yang kemudian divonis mati atas perintah Yogaswara.

Kekuasaan tak pernah mengenal kata ampun, ia menuntut kepatuhan hingga ke setiap pori-pori yang dikuasainya. Patuh dan tersungkur ke telapak kaki kekuasaannya, merenggut habis setiap kebebasan yang masih bersarang di jiwa manusia…” (hal.329) Demikian Fadjroel memberi defenisi soal kekuasaan di bawah rezim otoriter itu.

Kendati dihukum mati, Surianata memilih untuk tidak minta ampun kepada penguasa. “Para penguasa tidak bisa memaksaku untuk meminta ampun dan mengakui kekuasaan yang mereka miliki. Mereka menghancurkan kesadaranku melalui penyiksaan dan dominasi atas tubuhku. Tetapi akal budiku mengatakan tidak terhadap sorot mata kekuasaan mereka. Akal budiku mengarahkan masa depanku, kebebasanku.” (hal.227)

Sebagai aktivis yang pernah menjalani kehidupan pahit di penjara, Fadjroel jelas sekali menggambarkan kondisi riil di balik terali besi itu. Soal perlakuan sesama penghuni penjara, ulah sipir, dan kekuasaan kecil yang saling berebut pengaruh di dalam penjara dan sebagainya.

Fadjroel pun berupaya untuk memberi detail sejarah tentang tempat-tempat yang pernah disinggahi Surianata. Namun di beberapa bagian cerita, terasa benar ada pemaksaan pemuatan data sejarah ini yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan jalan cerita. Entah Fadjroel bermaksud hendak menunjukkan pengetahuannya tentang banyak hal, yang jelas data yang diterakan tidak mempengaruhi sama sekali cerita yang disuguhkan.

Pemilihan gaya menulis yang surut ke belakang, tanpa kepastian waktu kejadian, juga mempengaruhi keasyikan membaca dan kadang menimbulkan pertanyaan baru bagi pembaca. Namun terlepas dari itu semua, novel ini cukup pantas dibaca terutama oleh mahasiswa-mahasiswa yang aktif di pergerakan massa. Agar mereka tahu, di samping idealisme yang mereka perjuangan, akan selalu ada pengkhianatan dan konsekuensi yang harus mereka terima.

Tak percaya? Baca saja kalimat peringatan ini; “Mengapa harus memikirkan orang lain. Yang engkau bela, bahkan sahabat-sahabatmu suatu hari nanti akan meninggalkan dirimu. Mereka akan tenggelam dengan kehidupan mereka sendiri. Bila engkau sakit, belum tentu mereka menengokmu. Bila engkau lapar, mereka akan menjauhimu. Bila engkau mati, mungkin hanya penggali kubur yang menemanimu. Tak ada keadilan seperti impianmu di dunia ini. Setiap orang memikirkan keselamatan dirinya sendiri-sendiri… Percayalah, kalian akan dilupakan!” (hal.321)

Sanggup? (max)

Iklan

4 thoughts on “Bulan Jingga dalam Kepala

  1. AKU BUKANLAH PENYAIR, AKU HANYALAH SESEORANG- YG SEDANG-MENCARI BENTUK, WUJUD ASLINYA SENDIRI

    http://www.duniasastra.com

    Dikeheningan malam aku telah berjalan , menyusuri lorong-lorong kotorku dan ruhku juga telah memasuki rumah-rumah kalian . Detak-detak jantung kalian juga berdegup didadaku , dan nafas-nafasmu menghembus pula di hidungku.

    Dan aku bukanlah seorang penyair aku hanya sekedar mengucapkan rangkaian kata tentang sesuatu yang sebenarnya kalian sendiri telah tahu didasar alam pikirmu.

    Diantara kalian ada yang menyebutku angkuh , hanya mementingkan kegemaranku menyepi dan mengatakan kepadaku : ” Ia berbicara dengan tetumbuhan dan para satwa ,bukan dengan kita manusia . Seorang diri ia duduk dipuncak-puncak perbukitan memandang rendah pada kota dan kehidupan”. Sebagian yang lain diantara kalian berbicara kepadaku meski tanpa kata-kata : ” Ia orang yang aneh , orang ganjil , pencinta keluhuran yang tak teraih, untuk apa bermukim dipuncak-puncak gunung tempat elang bersarang, dan mengapa pula mencari sesuatu yang wujudnya belum pasti ?”…”Angin apa yang hendak kau tangkap dalam jala-mu . Burung ajaib manakah yang ingin kau jaring dilangit biru ?!…Kemarilah engkau bersatu dengan kami , turunlah bersama kita akan berbagi roti , dan lepaskan hausmu dengan anggur-anggurku !”

    Memang aku telah mendaki “puncak-puncak perbukitan” dan sering pula aku mengembara dalam “kesunyian ” hutan.tapi aku juga akan tetap dapat mengamati kalian tanpa perlu “turun” dari puncak pegunungan.

    Kesunyian jiwa telah menyebabkan mereka melontarkan kata-kata itu, namun apabila kesunyian itu mendalam lagi, maka mereka akan dapat mengerti, bahwa apa yang aku cari adalah rahasia terdalam jiwa manusia ,dan yang aku buru adalah sukma agung manusia yg menjelajah kesegala penjuru semesta.

    Dan Kesunyian itulah yang menuntunku melangkah menuju “lorong penderitaan” sekaligus teman keagungan spiritual…..

    Aku orang yang percaya sekaligus peragu, betapa seringnya jariku menekan lukaku sendiri sekedar untuk menghayati nilai kebenaran . Dan keyakinanku berkata manusia itu tak terkurung dalam raga dan jasad yang merangkak mencari kehangatan matahari, bukan pula penggali terowongan untuk mencari perlindungan, melainkan ruh yang merdeka-jiwa yang meliputi cakrawala dunia . Jika kata-kataku memasuki samar, kalian tak perlu gusar karena asal mula segala sesuatu adalah samar , meskipun akan jelas pada akhirnya.

    Sebab apakah pengetahuan itu jika bukan bayangan dan pengetahuan yang terpendam bisu. Pikiran kalian dan jalinan kata-kataku, digetarkan oleh gelombang yang satu ,terekam dan terpatri diantara hari-hari dan masa silam yang telah berlalu , sejak bumi belum mengenal dirinya sendiri dan kegelapan belum terkurung oleh pekatnya malam .

    Pahamilah kata-kata orang bijak dan laksanakan dalam kehidupanmu sendiri . Hidupkanlah kata-kata itu , tetapi jangan pernah memamerkan perbuatan -pebuatan itu dengan menceritakannya, karena dia yang mengucapkan apa yang tidak dia pahami , tidak lebih baik dari seekor keledai yg mengangkat buku-buku.

    Jangan pernah menyesal karena kalian ‘buta’ dan jangan pernah merasa kecewa karena kalian ‘tuli’, sebab dipagi ini fajar pemahamanmu telah merekah untuk kalian didalam mencari rahasia kehidupan . Dan kalian akan mensyukuri segala gulita- sebagaimana kalian mensyukuri terang cahaya.

    Dan segala yang “tak berbentuk” selalu berusaha mencari “bentuknya”, seperti berjuta-juta bintang yang menjelma menjadi matahari…

    Dan kulihat…….Kehidupan itu bersifat dalam , tinggi dan jauh , hanya wawasan luas dan bebas yang dapat menyentuh kakinya , meski sebenarnya ia dekat !.

    Banyak sudah orang bijak yang telah mendatangi kalian untuk mengajarkan hikmat dan pengetahuan . Dan aku datang untuk mengambil hikmat itu dan lihatlah kutemukan sesuatu yang tak ternilai didasar hati, laksana air pancuran yang melegakan jiwa.

    Setiap kali aku datang ke air pancuran itu , dikala dahaga hendak membasahi kerongkongan , aku dapatkan air itu sendiri tengah kehausan -dia meminumku selagi aku meminumnya !

    Hartono Beny Hidayat Elaboration with KG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s