Labirin Lazuardi; Pusaran Arus Waktu

Labirin3Judul: Labirin Lazuardi; Pusaran Arus Waktu
Pengarang: Gola Gong
Penerbit: Tiga Serangkai Solo
Cetakan: I, 2007
Ukuran: 11 x 18 cm, x + 240 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 4 September 2007

 Ujung Labirin yang Nyaris Berakhir

MEMBACA seri ketiga serial Labirin Lazuardi ini, pembaca nyaris saja diantarkan pada antiklimaks cerita. Lazuardi yang telah “menghilang” selama dua tahun, akhirnya dipertemukan Gola Gong si empunya cerita dalam seri berjudul “Pusaran Arus Waktu” ini.

Dari 6 seri yang direncanakan, keputusan Mas Gege –panggilan akrab Gola Gong– untuk mempertemukan si anak hilang dengan keluarganya yang telah jauh berubah dibanding sebelum dia dinyatakan hilang, sempat mengagetkan pembaca. Namun pembaca pun akhirnya dapat menduga bahwa pertemuan itu hanyalah sementara. Lazuardi dipastikan akan kembali menyusuri lorong-lorong labirin kehidupan yang belum direnggutnya untuk mengerti apa makna sebuah kehidupan. Dan itu memang terbukti.

Ikutilah hatimu, jangan pikiranmu. Kadang pikiran bisa menyesatkan kita. Tapi suara hati, itulah kunci kehidupan. Dengan melihat menggunakan hatimu maka kau akan menyibak kabut-kabut misteri kehidupan ini.” (hal.100)

Kata-kata Kakek Berjanggut Putih –yang telah menyelamatkan hidupnya dari upaya pembunuhan yang dilakukan teman-temannya– itulah yang mungkin dijadikan Ardi sebagai alasan memutuskan untuk kembali menjauh dari orangtuanya (buat sementara). Dan tentu, saja tak afdhol rasanya bila pelarian seorang anak harus berakhir di tengah jalan, karena “pelarian” itulah sebenarnya rentangan labirin yang harus ditempuhnya untuk paripurnanya hidup yang menjadi tema sentral dari novel berseri ini.

Bertemunya Ardi dengan papa mamanya, diplot menjadi sesuatu yang terpaksa lantaran tidak ada jalan lain yang harus ditempuhya, dikarenakan dia terbelit masalah dan harus berurusan dengan polisi. Bila di seri pertama dan kedua cerita ini, sosok Ardi dikisahkan sebagai anak yang tegar menghadapi rintangan hidup seorang diri dan berupaya menghindar dari kejaran orang suruhan orangtuanya yang menginginkan dia kembali, maka di seri ketiga ini kondisinya berbeda. Dia harus berhadapan dengan “kekuasan” pengusaha pemilik tanah yang dapat membeli “hukum” dan aparat demi kepentingan bisnisnya.

“Kekuasaan” dihadapkan dengan “kekuasaan” pula. Kekuasaan Wijoyo Sasongko si pemilik tanah yang merupakan pengusaha berpengaruh di Jakarta, dicoba dipatahkan Ardi dengan kekuasaan papanya sebagai elit politik di pusat yang notabene mempunyai jaringan yang cukup kuat. Tapi apa lacur, sang papa ternyata berbisnis bersama Wijoyo. Namun papanya menjanjikan akan mencarikan jalan ke luar begitu dia tahu bahwa tanah yang telah dibeli Wijoyo dari pihak ketiga, ternyata bermasalah.

Keterlibatan Ardi dalam kasus tanah ini, hanyalah kebetulan. Berhasil berkelit dari pengejaran yang dilakukan orang suruhan ayahnya pada buku bagian dua “Ketika Bumi Menangis“, dia ‘terdampar’ di sebuah masjid yang telah lama tak dipakai warga setempat. Seperti dua buku sebelumnya yang menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan sementara Ardi, di buku ketiga ini pun begitu. Masjid yang disinggahinya ini benar-benar tak terurus dan ditempati pula oleh orang gila, sehingga dia berinisiatif membersihkannya.

Dari situlah kemudian diketahui bahwa tanah tempat masjid itu berdiri sedang bersengketa. Itu terungkap dari cerita tokoh masyarakat yang mendatanginya saat membersihkan masjid. Tidak hanya tanah masjid, hampir sebagian besar tanah di wilayah itu disebutkan telah dimiliki Wijoyo yang akan membangun resort di sana. Termasuk tanah yang dijadikan lokasi permainan komedi putar yang terancam gulung tikar.

Kehadiran Ardi di wilayah itu, dan keikutsertaannya dalam memperjuangkan masjid tersebut agar tetap bisa dipakai kendati tanahnya sedang disengketakan, mengantarkannya berurusan dengan polisi. Ada pergolakan di bathin Ardi untuk memberitahu keberadaannya kepada papa mamanya. Dia akhirnya menelepon ke rumah dan tersambung kepada sang mama yang lalu menyuruh orang suruhan suaminya untuk menjemput Ardi dari kantor polisi.

Pertemuan Ardi dengan mamanya, tentu saja menjadi fragmen menarik dalam novel bersambung ini. Perjumpaan setelah dua tahun terpisah, mengantar haru di dada pembaca. “Mama juga bahagia bisa bertemu kamu, Sayang. Dua tahun bukanlah waktu sebentar. Begitu banyak perubahan yang terjadi pada diri Mama, Papa, bahkan kamu. Tapi, Mama bahagia melihat perubahan yang terjadi pada kamu, Sayang. Anak Mama sekarang tumbuh menjadi seorang lelaki. Mama tahu, dua tahun sudah menempa hidupmu…” (hal. 191)

…Kamu sebetulnya anak baik. Mama sama Papa yang terlalu sibuk. Terlalu memikirkan kepentingan sendiri. Sekarang Mama sadar, segalanya tidak bisa diukur hanya dengan uang. Segalanya jadi tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kamu, anak kami satu-satunya.” (hal. 193)

Pun begitu ketika dia bertemu dengan Papanya yang datang kemudian menyusul mereka berdua. Kendati sudah berubah tak seperti dulu lagi, Ardi masih merasakan jiwa otoriter papanya. Dia diminta untuk bersekolah di Eropa dan mengakhiri petualangannya. Sebuah pilihan yang berat dan dimengerti sekali oleh mamanya. Dan dia memilih untuk pergi lagi. Dan labirin kehidupan itu akan terus disusurinya.

Ending cerita ini sebenarnya sudah bisa ditebak pembaca, bahwa labirin itu tetap punya ujung. Entah kalau Mas Gege sudah menyiapkan ramuan ending yang berbeda dan mengejutkan pembaca yang harus bersabar menunggu keseluruhan cerita rampung di buku ke-6 nantinya. Tunggu saja… (max)

Iklan

4 thoughts on “Labirin Lazuardi; Pusaran Arus Waktu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s