A Thousand Splendid Suns

AThousandJudul Buku: A Thousand Splendid Suns
Pengarang: Khaled Hosseini
Penerjemah: Berliani M Nugrahani
Penerbit: Qanita
Cetakan: I, November 2007
Ukuran: 13 x 20,5 cm, 516 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 23 Desember 2007

 Getirnya Hidup di Afghanistan

Membuka lembar demi lembar buku setebal 516 halaman ini, kita disuguhkan cerita kegetiran hidup, tak hanya tokoh utamanya tapi juga rakyat Afghanistan yang didera perang tak berkesudahan. Perang membuat mereka harus mengecap pahit getir kehidupan yang terselip sedikit harap untuk perubahan.

Pergantian rejim, pertentangan suku, perang saudara, dan campur tangan asing membuat negara miskin itu selalu bergolak. Ribuan nyawa melayang sia-sia. Mereka harus kehilangan orang yang mereka cintai, memupus harapan selama tiga dekade untuk hidup lebih baik di kemudian hari. Yang masih hidup, memilih untuk mengungsi. Yang bertahan, tinggal menunggu waktu menjadi korban.

Kondisi perang, kelaparan, anarki dan penindasan di Afghanistan itulah Khaleed Hosseini membangun kisah hidup tokohnya yang compang-camping oleh cinta, kekerasan, tradisi, budaya bias gender, tatanan nilai sosial yang carut-marut dan hukum rimba yang bergumul menjadi satu. Terciptalah sebuah kegetiran yang tak seorang pun akan sanggup untuk membayangkan –apalagi melakoninya–, dan itu sungguh sesuatu yang bisa terjadi dan dialami siapa saja dalam ruang dan waktu berbeda.

Pengarang buku laris The Kite Runner itu, sungguh mampu mengobrak-abrik rasa kemanusiaan, mengaduk-aduk sisi sensitif emosional pembaca untuk larut dalam derita dan deraan sakitnya hidup yang menimpa Mariam dan Laila.

Berkisah tentang Mariam bersama Nana ibunya yang diasingkan keluarga ayahnya karena dia lahir sebagai anak haram yang menjadi aib keluarga terkemuka di Herat itu. Jalil, ayahnya masih tetap mengunjunginya secara rutin di kolba terpencil pinggiran kota. Ibunya, menjadi wanita yang paling skeptis terhadap hidup yang mereka lakoni berdua, pesimistis dan tak pernah percaya terhadap orang lain, termasuk kepada Jalil sendiri, majikan yang telah menghamilinya, sehingga dia harus hidup getir bersama Mariam.

Mariam selalu merindukan sosok ayahnya dan berharap bisa bertemu dan hidup bersama saudara-saudaranya dari 3 istri Jalil yang lain. Nana mencegah, dan mengancam Mariam akan kehilangan ibunya itu, bila dia tetap berkeinginan menemui Jalil di kota. Dianggap angin lalu, Mariam pun ke kota untuk bertemu sang ayah. Ternyata tak seindah yang dibayangkan Mariam bila berjumpa dengan Jalil yang justru menghindar darinya. Pahit, kenyataan yang harus diterimanya, Nana benar-benar membuktikan ancamannya. Dia bunuh diri, meninggalkan Mariam seorang diri.

Pasca kematian Nana, Mariam tinggal di rumah Jalil. Hingga akhirnya dia dijodohkan dengan Rasheed, seorang duda asal Kabul yang menjadi rekan bisnis Jalil. Pertautan usia yang jauh, ketidakbiasaan hidup dengan orang lain yang tak dikenalnya, mengantar hidup Mariam berubah drastis. Peran seorang istri dari pria konservatif seperti Rasheed menjadikan Mariam sebagai sosok lain yang di kemudian hari semakin menderita dan dibuat sengsara oleh Rasheed yang berubah bengis setelah Mariam keguguran anak mereka. Hidup sungguh tak indah di bawah tekanan dan kebencian suami gila yang terus mengasarinya dengan alasan yang dicari-cari.

Di bagian lain, Laila, anak tetangga Mariam dan Rasheed, tumbuh menjadi gadis belia di tengah pergolakan perang antara rejim komunis melawan Mujahidin. Tumbuh dalam pergaulan di sekolah dengan teman-teman wanitanya, kedekatannya dengan Tariq tetangga sebaya yang jadi korban ranjau sehingga harus kehilangan salah satu kakinya, hidup dengan ayah ibunya yang tak lagi bahagia menyusul kehilangan 2 kakak Laila yang tewas syahid berperang bersama Mujahiddin.

Hidup berubah. Perang saudara pecah antarfaksi yang ingin berkuasa. Sejumlah temannya tewas, dan ada yang mengungsi menghindari kekejaman perang, termasuk keluarga Tariq. Sementara Laila bersama ayah ibunya tetap bertahan dalam kecamuk perang, hingga naas itu tiba. Sebuah ledakan besar menghantam kediaman mereka, ayah ibunya tewas, jadilah Laila sebatang kara yang kemudian diselamatkan Rasheed sang tetangga.

Dalam masa penyembuhan psikis dan luka-luka Laila, ternyata Rasheed ingin menikahi gadis cantik itu. Mariam cemburu dan tentu marah, walau dia tahu tidak pernah ada cinta Rasheed untuknya. Laila akhirnya menerima keinginan Rasheed untuk mempersuntingnya demi menyembunyikan kehamilannya gara-gara percintaannya dengan Tariq ketika mereka akan berpisah.

Di awal-awal hidup bersama Rasheed, Laila begitu disayang dan dimanja, seperti halnya yang pertama kali dialami Mariam. Setelah itu, semuanya berubah manakala Laila melahirkan anak perempuan yang diberi nama Aziza. Rasheed sepertinya tahu bahwa Aziza bukanlah anaknya. Tak ada lagi kemesraan, yang ada hanya kemarahan, pertengkaran, keributan, peperangan. Belum lagi kebencian Mariam kepadanya, menjadikah hidup Laila semakin merana. Syukurnya, senasib sepenanggungan antarkeduanya, kemudian melahirkan simpati dan persahabatan, hingga mereka merencanakan untuk melarikan diri dari Rasheed. Dan gagal pula, jadilah hidup mereka semakin menderita di bawah kebengisan suaminya itu.

Hingga akhirnya Zalmai lahir, anak laki-laki yang diimpikan Rasheed. Itu tidak pula merubah perangai pria tersebut kepada Laila, Mariam dan Aziza. Kebakaran tokonya, semakin membuat Rasheed kalap, dan ekonomi mereka makin morat-marit. Sehingga untuk mempertahankan hidup Aziza pun, agar bisa makan, dia dititipkan di panti asuhan.

Tariq yang dikatakan telah tewas akibat perang, akhirnya muncul. Dan petaka pun datang. Zalmai menceritakan kehadiran Tariq kepada bapaknya. Pertengkaran hebat terjadi. Sebuah perang keluarga antara Rasheed dengan Laila yang mendapat bantuan dari Mariam berlangsung. Rasheed berniat betul menghabisi keduanya. Namun Mariam berhasil mengakhiri keganasan Rasheed, demi menyelamatkan Laila.

Seperti yang diduga, cerita ini pastilah berakhir bahagia, tapi tetap satir. Laila menikah dengan Tariq dan membawa serta Aziza dan Zalmai ke luar dan tinggal di pengungsian wilayah Pakistan. Sementara Mariam yang telah menjadikan dirinya sebagai tumbal kebahagiaan Laila, akhirnya dihukum mati rejim Taliban yang menguasai Afghanistan.

Begitulah Khaleed Hosseini mengaduk-aduk cerita kelam kemanusiaan ini. Sebuah kegetiran yang tiada tara, tapi tetap ada pendar ribuan cahaya mentari sesudahnya. Tak percaya? Bacalah. (max)

Iklan

2 thoughts on “A Thousand Splendid Suns

  1. ripyunya hebat euy…two thumbs up..koreksi sedikit, halamannya bukannya hanya 510 da..lalu yang 6 halaman apa? hehe

    max -> Silahkan Nai lihat lagi di lembaran data buku yang ada di lembar kedua buku ini. Di situ tertera jumlah halaman 516. Mungkin maksudnya adalah vi + 510 halaman, kali ya 😉

  2. Asli, emang ni novel dalem banget….lebih dalem dari novel sebelumnya, The Kite Runner….mungkin karena disini, tokoh utama nya perempuan kali…(ngaruh gak sih?) sayang waktu aku posting ini, belum selesai baca nya…jadi belum bisa comment byk….nyesel juga keburu baca review nya…jadi kurang seru nyelesein bacanya…he..he…
    Hosseini emang punya kelebihan, nyeritain situasi sosial politik dengan apik. gaya bahasanya juga kuat, bikin kita betah berlama2 baca…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s