Kenangan Abu-Abu

Kenangan-abu2Judul Buku: Kenangan Abu-abu
Pengarang: Winna Effendi
Penerbit: Akoer, Jakarta
Cetakan: I, Januari 2008
Ukuran: 13.5 x 21 cm, 185 halaman
Keterangan: Kiriman Penerbit Akoer

 

Sungguh, Cinta Harus Memilih!

INI adalah cerita tentang dunia kita … dunia elu dan gue berdua! Dimana cinta selalu menjadi warna abu-abu yang membiaskan segala kenangan di bangku sekolah ESEMA. Diantara bilah-bilah kurang dari 1.100 hari, emosi, cinta, dan cemburu adalah ramuan yang selalu fatal. Membekas dan tidak pernah mau pergi. Sampai kapanpun!

Masa SMA adalah masa terindah. Inilah masa penuh warna, peralihan dari masa ABG menjadi remaja dan menjadi batu lompatan memasuki kedewasaan. Di sinilah masa di mana banyak orang mulai mengenal cinta sebenarnya, bukan lagi cinta monyet yang biasa menjangkiti para ABG. Di sinilah suka dan duka, cinta dan impian, harapan dan kewajiban terjalin sebagai kisah yang mewarnai hari-hari yang kurang dari 1.100 hari itu. Tiga tahun lamanya, kebersamaan menggapai masa depan yang indah ataupun kelabu, menjadi penggalan kisah hidup yang takkan pernah bisa dilupakan.

Tema itulah yang diangkat Winna Effendi dalam novel “Kenangan Abu-abu; Ketika Cinta tak lagi Bisa Memilih” terbitan Akoer ini. Membacanya, sungguh kita dibawa bernostalgia kembali dengan masa-masa yang pernah kita jalani itu. Dan Winna mengangkatnya dalam bentuk kisah persahabatan dan percintaan, sesuatu hal yang sebenarnya sulit untuk dipisahkan. Jika persahabatan dikawinkan dengan percintaan, maka pastilah lahir sebuah pengkhianatan.

Winna2Cara Winna bercerita, langsung mengingatkan pada pola penceritaan yang pernah diusung Donny Dhirgantoro dalam novel “5 cm” (Grasindo: 2006) dan “Travelers’ Tale, Belok Kanan: Barcelona!” karya keroyokan Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, dan Ninit Yunita (Gagasmedia: 2007). Dibanding “pendahulu-pendahulunya” itu, Winna tentu punya kelebihan dan juga kekurangan. Memosisikan diri untuk menyelami masing-masing karakter tokoh yang berbeda-beda dengan penjiwaan berbeda pula, jelas suatu hal yang sulit. Dan untuk sementara penulis muda berusia 22 tahun ini bisa dianggap sukses seperti yang telah dilakukan Donny serta Adhitya dan kawan-kawan. Maka jangan heran bila ceritanya mengalir dan berjalan lancar tanpa harus mengerutkan kening guna memahami psikologi masing-masing tokoh.

Bercerita tentang persahabatan dan percintaan antara pasangan Freya-Moses, Gia-Adrian, yang merupakan 2 pasangan idola yang paling popular di sebuah SMA di Jakarta. Freya digambarkan sebagai gadis yang cerdas dan selalu mendapatkan beasiswa, namun terkesan menutup diri. Dia berpacaran dengan Moses, sang ketua OSIS yang punya wibawa dan kharisma, tapi terlalu kaku dalam menjalin percintaan dengan Freya. Sementara Adrian digambarkan sebagai cowok ganteng yang gape main basket dan digandrungi semua cewek. Sedangkan Gia yang menjadi kekasihnya, merupakan cewek terpopuler di sekolahnya.

Keempat tokoh ini terbelit tali cinta yang serba kusut dan membingungkan. Semua itu bermula dari mulai berubahnya “rasa” di hati Adrian terhadap Gia setelah dia mulai mengenal sisi yang berbeda dari Freya yang biasanya lebih banyak diam ketika mereka berempat saling berkumpul. Kehadiran Freya menjadi semakin berarti setelah Adrian kehilangan ibunya karena kecelakaan. Hanya Freya yang dianggap mengerti Adrian, karena Freya pun telah lama merasakan apa yang dirasakan Adrian itu lantaran ibunya juga sudah meninggal karena diserang kanker.

Adrian berkeinginan untuk meninggalkan Gia. Tapi sulit, karena Gia sudah menyerahkan segalanya untuk Adrian. Dan Adrian tak mungkin mendapatkan Freya yang merupakan pacar Moses, sahabatnya sejak kecil. Namun Adrian tak mau mendustai hatinya. Dia tak mau terus-menerus berbohong, bahwa ketika dia bersama Gia, hanyalah Freya yang berada di benaknya.

Pun begitu dengan Freya. Dia juga merasakan sesuatu yang berbeda sejak dia mulai akrab dengan Adrian. Moses baginya bukanlah cinta pertama, tapi hanyalah pacar yang pertama. Justru baginya Adrianlah cinta pertamanya itu. Tapi bagaimana mungkin dia bisa menerima cinta Adrian, sementara Gia adalah sahabat baiknya.

Kekerasan hati Adrian untuk memiliki Freya, memunculkan polemik saat dia memutuskan Gia. Freya tidak menerima keputusan Adrian itu, karena dia tak mau menjadi orang ketiga yang menyebabkan putusnya tali cinta sahabatnya tersebut. Dan Moses pun akhirnya mengetahui, kalau Adrian “mengambil” Freya yang dicintainya. Tapi pilihan cinta itu terpaksa tertunda, karena Freya sungguh tidak mau menyakiti Gia. Adrian kembali ke Gia, dan Freya tetap putus dengan Moses.

Rumit. Tapi kerumitan itu tidak terasa benar, lantaran Winna mampu memutusnya dengan gaya penceritaan yang lancar dan tak bertele-tele dari sisi masing-masing tokoh. Walau ending-nya bisa ditebak, tapi konflik yang dibangun Winna sungguh bagus. Dan di akhir cerita, Winna masih memberi celah kalau novel ini bisa berlanjut dalam sekuel berikutnya yang tentu saja lebih menarik setelah Adrian akhirnya memiliki Freya.

Bagaimana kelanjutan kisah Gia dan Moses, serta Erik yang merupakan sahabat Freya yang naksir berat kepada Gia, tentu akan menarik dijadikan sebagai sekuel kedua dari Kenangan Abu-abu ini. Mari kita sama-sama menunggu… (max)

Iklan

5 thoughts on “Kenangan Abu-Abu

  1. Halo Max..

    Pertama-tama, terima kasih banyak udah meluangkan waktu membaca kenangan abu-abu, juga reviewnya yang oke banget 🙂

    Salam kenal juga yah!

    Winna

    max -> bukumu bagoes… ditunggu sekuelnya... 🙂

  2. wah jadi pengen dapet kiriman juga..ayo dong AKOER kirimin saya juga dong 😛

    max -> Sabar aja… dan terus rajin bikin repiyu… pasti ada penerbit yg bakal ngirimin bukunya utk direpiyu juga

  3. wah, nice review 😀
    buku Winna memang bagus gus gus 😀

    anyway, salam kenal Max

    ada kalimat yang kusuka, boleh kukutip di blogku?

    max -> Iya emang bagus 🙂 Kalimat apa? silahkan kutip deh

  4. waduh.. mas yg satu ini ternyata penggila buku ya.. wah hebat!! ternyata saya masih bisa dipertemukan dengan anda yang bisa menularkan kebiasaan baik..

    alhamdulillah bermanfaat dan bisa untuk referensi..

    salam kenal,

    bimaa
    wassalam

    max -> bukan penggila, tapi penyuka aja Mas. Kalo gila, kesannya gimanaaa gituchu… 😀

  5. Iya saya juga seneng mengenal penggila buku lain. Max ini benar-benar rajin menulis review masing-masing buku dengan sangat jelinya 🙂

    max -> Wahh… Winna ada2 saja. Ada info baru apa nih dari dirimuww?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s