Saraswati

SaraswatiJudul Buku: Saraswati
Pengarang: Kanti W Janis
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, September 2006
Ukuran: 13,5 x 21 cm, 175 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

 

 Cinta tak Harus Memiliki

“…Menikah itu bukan hanya bicara cinta. Lihat kenyataannya, aku dan kamu beda agama. Lalu kamu jauh lebih muda daripada aku. Kehidupan kita pun sangat berbeda. Menikah itu perjalanan yang sangat jauh. Kalau kita sudah banyak perbedaan dari awal itu hanya akan mempersulit langkah kita dikemudian hari.” (hal.105)

Membaca kalimat di atas, sudah bisa ditebak bagaimana inti cerita novel ini. Tapi tunggu dulu, tidak begitu mudah untuk menebak jalan ceritanya. Plot yang dipakai Kanti W Janis dalam novel “Saraswati” tidaklah sama dengan kelaziman yang dipakai novel sejenis. Bila biasanya kisah cinta memiliki dua akhir penyelesaian; happy ending atau tragedi perpisahan, Kanti justru keluar dari tradisi itu.

Tidak akan ada yang menyangka kalau novel terbitan Akoer yang dicetak pertama kali pada September 2006 ini ditulis oleh penulis belia. Bahasa yang dipakai, memperlihatkan betapa Kanti begitu memahami psikologi orang dewasa yang punya kompleksitas hidup dan kisah cinta yang kadang berkelindan. Sayangnya, –seperti kebiasaan Akoer di sebagian besar buku yang diterbitkannya–, siapa gerangan Kanti, seberapa belia umurnya, latar belakang kepenulisannya dan semacamnya tidak diterakan di buku ini.

Membaca penggalan percakapan di atas, memang bisa disimpulkan novel setebal 175 halaman ini akan bercerita tentang kisah kasih tak sampai. Perbedaan agama, usia, adat dan gaya hidup menjadi perintang bersatunya dua anak manusia yang menjadi tokoh utama novel ini, Disam dan Rasty. Tapi di balik itu, sebenarnya ada kisah lain, kenapa Rasty menampik cinta Disam, kendati dia sendiri sebenarnya sangat menyintai Disam.

Keduanya sudah saling mengenal sejak kecil dalam peristiwa tak terduga. Disam jatuh dari sepeda, Rasty menolongnya. Mulai saat itulah Rasty menjadi tempat pelarian dan berkeluh kesah Disam dari kemelut pertengkaran papa dan mamanya. Hingga kemudian Rasty menghilang di suatu hari. Keduanya bertemu beberapa tahun kemudian, saat mereka tumbuh sebagai manusia dewasa yang sama-sama menarik satu sama lainnya.

Cinta itu akhirnya berpaut. Rasty menyintai Disam, begitu juga sebaliknya. Namun perbedaan-perbedaan antarmereka kemudian menjadi alasan mengapa Rasty tidak mungkin menikah dengan Disam. Selain itu, nenek Rasty telah pula mempunyai calon untuk cucunya. Bisma, pria Bali yang jelas setara dengan Rasty sebagai wanita Hindu Bali.

Sejak berpisah dan tak jadi menikah dengan Rasty, Disam masih tetap melajang diusianya yang sudah kepala empat. Rasty tinggal kenangan. Disam sibuk dengan aktivitasnya sebagai seniman film yang sukses. Hingga kemudian kenangan lama itu mencuat lagi tatkala Disam mendapat order membuat film dokumenter upacara adat pelebonan di Bali. Disam menyusuri jejak keberadaan mantan kekasihnya itu di situ. Tapi kenyataan yang diterimanya, tidaklah seindah yang terbayangkan oleh pembaca. Apa itu? Baca saja bukunya, pasti akan terpukau bahwa penulis belia ini memang patut diperhitungkan di kancah penulisan nasional. (max)

Iklan

5 thoughts on “Saraswati

  1. wahhh ndak seru, apa dong endingnya…jangan bikin penasaran..”Baca saja bukunya” lah hutang baca saja numpuk tuh da….ayooo awas ya kalo gak dijawab endingnya gimana

    max-> endingnya…, memang harus baca bukunya deh… Kalo dibilang, ntar buku sebagus ini tak laku 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s