Ijinkan Aku Menjadi Perempuan

Ijinkanakujadiperempuan

Judul buku: Ijinkan Aku Menjadi Perempuan
Pengarang: Lely Noormindha
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Oktober 2009
Ukuran: 12 x 18 cm, 192 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

 

Tragedi Hidup Seorang Pelacur

FAKTA tentang perempuan sepertinya akan terus menjadi perbincangan, diskusi bahkan sumber inspirasi bagi sebuah karya fiksi. Fenomena ketertindasan perempuan dalam berbagai bentuknya, menggelitik bahkan membakar energi perempuan lainnya untuk menghasilkan sebuah karya, khususnya novel, yang bisa mewakili perasaan mereka, dan ‘Ijinkan Aku Menjadi Perempuan‘ adalah salah satunya.”

Demikian prolog yang diantarkan Nafisah FB di dalam buku karya Lely Noormindha ini. Nafisah tidak salah dalam menafsir rangkaian cerita yang tertuang dalam buku setebal 192 halaman ini.

Lely Noormindha mencoba mengangkat perjuangan tokoh utama Venus, untuk menjadi makhluk bebas dari kungkungan kebathilan yang sebenarnya tak pernah diharapkannya. Dia ingin menjadi perempuan yang bangkit dari dosa-dosa yang “terkondisikan” oleh dunianya. Dunia seorang perempuan yang lahir dan besar di lokalisasi Dolly. Sebuah lokalisasi di Kota Surabaya, yang konon disebut-sebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.

Menyimak tema tentang perempuan dan lokalisasi, tentu kita sudah bisa membayangkan apa gerangan jalan cerita di buku terbitan Akoer ini. Eitss…, tapi tunggu dulu. Lely mengusung jalan ceritanya bukan ke arah novel percintaan picisan. Ada banyak cinta di sini. Cinta manusia sebagai individu kepada individu lainnya, cinta manusia kepada sesama manusia, dan yang terutama cinta manusia kepada Illahi Rabbi. Sebuah cinta hakiki, yang tentu butuh perjuangan dan keikhlasan untuk mendapatkan cintaNya.

Venus, gadis belia itu, sudah bertungkus-lumus dengan kemaksiatan yang “disodorkan paksa” kepadanya, sebagai penghuni Dolly yang lahir dari rahim ibu yang juga bagian tak tak terpisahkan dari kegetiran hidup dunia penuh lendir itu. “Pewarisan” profesi ini, bukan atas keinginan ibunya yang telah meninggal karena bunuh diri. Juga bukan atas keinginan ayahnya, yang tentu saja tak jelas siapa yang patut disebut sebagai ayah biologis baginya. Seorang mama (germo) yang membesarkannya di lingkungan itu, menjadikan Venus sebagai “generasi penerus”. Venus tak bisa menolak, tapi dia berkeinginan untuk segera lepas. Terlebih setelah dia mengenal Maryam.

Melalui Maryam, Venus benar-benar memahami tentang dosa dan apa artinya hidup menjadi seorang perempuan. Dia pun menyadari dirinya telah menjadi objek eksploitasi mamanya untuk dijual ke hidung belang. Venus pun lari. Lari untuk hidup yang lebih baik. Lari dari cinta seorang lelaki yang terus berharap cintanya. Bersama Maryam dan teman-temannya, Venus menjalani hidup baru. Hingga vonis itupun tiba. Dia positif mengidap HIV/AIDS akibat enam tahun berkecimpung di dunia pelacuran.

Walau umumnya “pemakai tubuh” Venus memakai kondom, penyakit laknat itu tetap menjangkitinya. Di sini, Lely mengungkap fakta yang sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondom bukanlah untuk mencegah serangan HIV/AIDS, justru mempercepat penyebaran penyakit ini. Karena kondomisasi malah melegitimasi seseorang untuk melakukan seks bebas.

“…Kondom sendiri terbukti tidak mampu mencegah transmisi HIV. Hal ini karena kondom terbuat dari bahan dasar lateks (karet), yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70, yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron…” (hal.143)

Jalinan cerita yang disajikan Lely, memang dibarengi dengan sejumlah data dan fakta. Di luar itu, tentu saja dia menjalankan dakwah dengan novel sebagai perantaranya. (max)

Iklan

5 thoughts on “Ijinkan Aku Menjadi Perempuan

  1. sya mengambil novel ini sebagai bahan analisis skripsi saya, menurut saudara cocok tidak kalau novel ini di analisis ddengan teori feminisme?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s