Kamu Sadar, Saya Punya Alasan Selingkuh kan Sayang?

Kamu-sadar-saya-selingkuhJudul buku: Kamu Sadar, Saya Punya Alasan Selingkuh kan Sayang?
Pengarang: Tamara Grealdine
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: IV, Oktober 2006
Ukuran: 12 x 18 cm, xxi + 225 halaman

Tamara yang Bukan Djenar

NYARIS saja bila membaca keseluruhan isi buku ini, mengingatkan kita kepada gaya bercerita dan pilihan tema yang diusung Djenar Maesa Ayu. Tak jelas, apakah memang Tamara Geraldine terobsesi pada Djenar yang disebutnya “pacar gue” itu atau tidak.

Tapi, begitu lembar demi lembar buku setebal 225 ini dilahap, kita akan melihat Tamara sebenarnya. Teegee, begitu ia menginisialkan namanya, benar-benar beda. Beda dalam arti sebenarnya. Beda dari apa yang kita ketahui tentang dia selama ini, sebagai selebritas dan presenter acara olahraga.

Menulis bagi saya, suatu upaya pembebasan,” katanya seperti disebut Putu Fajar Arcana yang menulis tentang Teegee di akhir buku ini. Spirit pembebasan itu, menguar dengan dahsyat dari 12 rangkaian cerpen yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini. Bisa dikata, lari dari pakem menye-menye yang kerap disuguhkan pengarang perempuan lainnya. Dalam bahasa Arswendo Atmowiloto, “Tamara menempatkan posisinya di depan jauh dengan generasi pengarang perempuan yang masih berkuntetan dengan penjodohan atau keperawanan. (Dia) juga bukan generasi rikuh, malu-malu soal selingkuh sebagai sesuatu yang tabu…” (hal.xv)

Tamara dengan berani mengangkat tema-tema sederhana yang terjadi setiap hari di sekitar kita, kata Djenar, namun memberi pemahaman yang tidak sederhana. “Analisa-analisa yang cerdas, bahasa yang tidak dibuat-buat, alur cerita yang padat, komentar-komentar yang jujur, gaya yang inovatif dan orisinal, cara bertutur yang bebas…” (hal.220)

Arswendo dan Djenar tidak asal komentar. Cerpen-cerpen Teegee membuktikan itu. Coba saja baca, bagaimana dia dengan cerdas menjadikan punggung dalam cerpen ‘(Punggung) Caska dan Berto’ mengungkap tema sederhana soal perselingkuhan dengan cara penyampaian yang tidak biasa.

Tak hanya itu, hampir keseluruhan kumpulan cerpen ini begitu. Tamara dengan gamblang mengangkat bagaimana cinta bukanlah sesuatu yang indah. Selalu ada tragedi, pengkhianatan, yang mau tak mau harus diterima dan disikapi dengan cara yang berbeda melalui tokoh-tokoh dalam ceritanya.

Di cerpen ‘Maaf, Kita Harus Kenalan dengan Cara Seperti Ini!’, ‘Nobody Knows…’, ‘Pengantar Bunga yang Tertahan Pemeriksaan’, ‘U Turn’, kita akan melihat bagaimana Tamara menggambarkan cinta yang tak berujung indah itu.

Dia juga dengan lantang menggugat hubungan ibu-anak yang tak lagi akur, kehidupan keluarga yang berantakan, perkawinan yang tak lagi sakral. Dan tanpa tedeng aling-aling, dia pun menggugat Tuhan. Di cerpen ‘Mengajari Tuhan’, sangat terlihat kematangan Tamara dalam menyampaikan gugatannya itu. Atau di cerpen ‘Perempuan yang Bertemn dengan Hantu’, Tamara sungguh apik menjalin rangkaian ceritanya.

Dan pada akhirnya, kita hanya bisa menduga-duga bahwa beginikah Tamara adanya. Tamara yang terwakilkan oleh tokoh-tokoh rekaannya. Mungkinkah? (max)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s