Kembar Keempat

Kembar ke4Judul buku: Kembar Keempat
Pengarang: Sekar Ayu Asmara
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, April 2005
Ukuran: 12 x 18 cm, 225 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

 Luar Biasa yang Tak Biasa

LUAR biasa. Saya merasa itulah komentar yang pas untuk novel ini. Sungguh saya menyesal, baru sekarang bisa membacanya. Lima tahun setelah novel ini terbit atau 2 tahun setelah saya mendapat kirimannya dari Akoer pada 21 Februari 2008 lalu.

Disebut sebagai cerita misteri, karya Sekar Ayu Asmara ini lebih dari itu. Alur cerita yang dia bangun benar-benar menakjubkan. Tak cuma itu, pilihan katanya, thesaurusnya untuk kata-kata tertentu benar-benar memukau. Betul-betul perbendaharaan kata yang membuat kita terpukau dan berkeinginan untuk mencari tahu, benarkah kata-kata yang digunakannya termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ataupun Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI).

Contohnya saja; merumung, menjerling, meragas, kecundang, cemani, melajar, mencentang, melutu, geleser, gementam, dan masih banyak lagi. Dan, saya tak berkesempatan untuk mencari tahu. Karena walaupun asing, dengan rangkaian kalimat yang dibuatnya, kita sudah mengerti apa yang dimaksudnya.

Keingintahuan pembaca atas pemakaian judul Kembar Keempat untuk novel ini, memaksa kita untuk segera menuntaskan jalan cerita dengan setting berbeda-beda yang ditampilkan Sekar. Terlebih di awal-awal cerita, Sekar cuma menceritakan kembar tiga; Bhara, Bhadra, dan Bhajra yang dibesarkan Bunda yang telah ditinggal mati suaminya. Lalu cerita melompat ke tokoh Axena, anak yatim yang kemudian menjadi model kelas dunia dan menetap di New York. Setelah itu meloncat lagi ke tokoh Havana, peranakan Batak dan Turki yang tinggal di Istanbul. Lalu kembali ke kembar tiga, dan secara bergantian ke Axena dan Havana.

Hebatnya lagi, di bab-bab awal, Sekar mengakhiri dan mengawali bab berikutnya dengan susunan kalimat yang sama dengan subjek yang berbeda. Misalnya di akhir Bab 1, dia tulis “Asa bahagia perlahan melungkup di benak Bhara“. Di awal bab 2, dituliskannya “Asa bahagia perlahan melungkup di benak Axena“. Bab itu ditutup dengan kalimat, “Tiba-tiba, gelisah menggelimuni pucuk hati Axena“, dan bersambut di Bab 3, “Tiba-tiba, gelisah menggelimuni pucuk hati Havana“.

Hingga bab 6, pola seperti itu dipakai Sekar. Seakan menyiratkan, sesuatu yang tak terpisahkan dari masing-masing tokoh yang diceritakan. Bab 7 ke bab 8, pola itu tak dipakainya, tapi diulangnya di akhir bab 8 masuk ke bab 9, bab 11 ke 12, 12-13, 13-14, 20-21, 23-24, 27 hingga 30, lalu dari 31 sampai di awal bab 40.

Dengan tokoh berbeda-beda, Sekar mengantarkan kita menjelajah dunia. Axena yang tinggal di Manhattan, New York, lalu ke Paris, Kairo. Havana di Istanbul, dan Bhajra di Bali. Sekar dengan fasih mengantarkan kita “berjalan-jalan”. Dia seakan menjadi guide yang membuat kita menjadi tahu deskripsi wilayah yang (mungkin) belum kita singgahi itu.

Tak hanya njelimet dengan lokasi, Sekar pun dengan anteng menyebut istilah interior, produk fashion, kuliner, dan sebagainya. Sungguh luas pengetahuannya.

Terlepas dari itu, jalinan cerita yang dibangun Sekar, benar-benar membuat kita terperangah. Bagaimana pada akhirnya Bhara, Bhadra, Bhajra, Axena dan Havana mempunyai keterkaitan satu sama lainnya. Lalu siapakah kembar keempat itu?

Axena sebelum akhirnya bertemu Bhara, menjalin jalinan cinta dengan Merav yang kemudian tewas dalam tragedi 11 September 2001 di WTC. Havana sebelum mengenal Bhadra, sudah menjalani cinta terlarang dengan Yilmaz. Lalu Bhajra?

Pada akhirnya, Bhara-Axena, Bhadra-Havana tak bisa menyatu. Kenapa? Ternyata mereka adalah saudara kembar! Tak hanya empat, tapi kembar enam! Lalu ada apa dengan kembar keempat? Siapa gerangan orang tua kandung mereka? Mengapa mereka sampai terpisah-pisah?

Keinginan untuk mengetahui kelindan cerita ini, membuat kita tak ingin melepaskan buku ini sebelum merampungkan seluruh ceritanya.

Sungguh luar biasa. Hanya itu yang bisa saya komentari. Kalau tak percaya, silahkan saja baca. Semoga buku ini masih ada di rak-rak toko buku. Kalau tak lagi ada, hubungi saja Akoer! (max)

Iklan

11 thoughts on “Kembar Keempat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s