Sandikala

IMG_8662Judul buku: Sandikala
Pengarang: F Hadijanto
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, April 2010
Ukuran: 12 x 18 cm, 171 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer, 9 April 2010

 

Menggugat Keberadaan Tuhan

TUHAN, mulai saat ini aku nyatakan Engkau tidak kuperlukan lagi! Namaku Siti Janarwati dan aku tak lagi menyembahmu!”

Jeni tak lagi menyentuh mukena yang selalu menemani hari-harinya bermunajat kepada Tuhannya, baik saat bahagia maupun ketika dirundung masalah. Mukena yang selalu menyertai separuh kehidupannya.

Dia memutuskan untuk tidak lagi berbicara kepadaNya, karena merasa Tuhan tidak lagi berpihak tatkala Faisal, suaminya, terbaring tak berdaya. Padahal dia begitu percaya bahwa Tuhan Yang Maha Baik pasti akan memberikan apa saja yang dia minta. Tapi tidak untuk saat ini.

Dia mempertanyakan apakah Tuhan masih bersamanya, masih mengabulkan doanya, memberikan kebaikan kepadanya. Dulu, Jeni masih bisa menerima jika Tuhan memberinya keterbatasan materi, atau tak pernah kecewa jika doanya tak seratus persen dikabulkanNya, dia masih bisa tersenyum  saat satu-dua masalah menimpanya. Tapi kini, dia tak bisa menerima ketika Tuhan membela orang-orang yang mengingkariNya dan membiarkan Jeni dan suaminya yang begitu setia kepadaNya terpuruk dalam ketidakadilan.

Suaminya, seorang pengusaha yang mencoba berbisnis dengan jujur dan hati lurus, menjadi korban penyerangan terkait proyek pembangunan jalan tol yang dikerjakannya. Dia terluka dan terkapar tak berdaya di rumah sakit. Karena itulah hati Jeni turut “terluka” lantaran Tuhan tak melindungi suaminya dalam peristiwa itu.

Jeni menyadari dirinya bukanlah orang yang luput dari dosa. Sebuah dosa besar lahir dari percintaannya dengan Diani, seorang gadis yang memukau hatinya. Namun Jeni tetap menganggap dosanya tidaklah lebih berat dari dosa orang-orang beringas yang telah membuat suaminya menderita.

Sebuah dialog film The Devil’s Advocate yang diperankan Alpacino dan Keanu Reeves semakin membuatnya mencoba menggugat keberadaan Tuhan. “Kau boleh menghabiskan seluruh hidupmu untuk berbuat kebenaran dan kebaikan, tapi kejahatan akan terus ada dan kadang-kadang menang. Tuhan menjanjikan surga bagimu nanti, tapi aku (iblis) akan memberikan semua yang kamu inginkan saat ini, sepanjang hidupmu.” (hal. 44)

Dalam lamunannya, jika Tuhan terus-menerus menunda segala kebaikan dengan dalih memberikan balasan yang setimpal setelah akhir dunia kelak, mengapa dirinya tidak menerima saja iblis yang menawarkan segalanya untuk saat ini.

Jeni akhirnya menempuh bentangan jalan yang diberikan iblis. Dia ingin membuat Tuhan cemburu dan kembali memperhatikannya. Mulailah dia melakukan perjalanan untuk mencari raja iblis. Sebuah perjalanan menuju neraka dan murka Tuhan.

Pencarian pertamanya terhadap iblis adalah melakukan semedi di kuburan keramat Luar Batang selama lima kali Jumat. Tapi Jeni tidak mendapatkan apa-apa dari pertapaannya itu.

Dia tetap mencari ke Alas Purwo selama tiga hari tiga malam bertapa tanpa tidur, yang juga tidak mampu memenuhi keinginannya untuk bertemu raja iblis. Pun tidak tatkala dia melanjutkan pencariannya di sebuah hotel tua di Parangtritis, dan di gua Masigit, di padepokan Bulowolu, hingga ke tempat-tempat lainnya.

Namun akhirnya, pertemuannya dengan Ratu Laut Selatan mengantarkannya pada hidup yang berbeda. Dia menjadi “pesuruh” raja iblis dalam misi untuk kepentingan orang banyak. Sebuah pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang-orang yang selalu percaya kepada Tuhan.

Begitulah jalan cerita novel Sandikala karya F Hadijanto ini. Novel ini, seperti dikatakan Komaruddin Hidayat dalam kata pengantarnya, menyajikan sebagian potret kehidupan yang sangat akrab dengan pengalaman diri kita.

Kita memperoleh doktrin bahwa Tuhan itu Maha Baik, Maha Mendengar dan Maha Penolong. Namun kenyataannya, ketika dihadapkan kepahitan hidup, kita tidak mudah menggapai dan menemui Tuhan untuk mengadu dan menuntut janji-janji kebaikanNya seperti yang selama ini kita diajarkan untuk selalu meyakininya,” kata Komaruddin.

Toh pada akhirnya, melalui novel ini kita akan tetap menyadari bahwa kita takkan pernah lepas dari kehendakNya. Percayalah… (max)

 

Iklan

One thought on “Sandikala

  1. Ping-balik: Sandikala « Maryulis Max’s Site

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s