Digitarium

IMG_8665Judul buku: Digitarium
Pengarang: Baron Leonard
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, April 2006
Ukuran: 12 x 18 cm, 567 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer, 9 April 2010

 

Ketegangan yang Tiada Henti

BARANGKALI tidak berlebihan kami menyebut DIGITARIUM, karya perdana Baron, adalah sebuh keberanian baru yang melahirkan novel aksi pertama di Indonesia. Sebagai penulis muda, Baron, secara inovatif memperlihatkan kepiawaiannya menelusuri bidak-bidak imajinasi dan meramunya menjadi simpul-simpul aksi yang menguras adrenalin. Dikemas dalam tradisi “The Matrix“, “Soprano” dan “James Bond” sekaligus, DIGITARIUM mengantar kita ke dalam surealisme, pas di tepi jurang antara kebaikan dan kejahatan. Membaca DIGITARIUM persis mereguk secangkir kopi tubruk panas. Kita tidak akan berhenti, kalau belum merasakan bubuk kopi di dasar cangkir. Lumat hingga tuntas, saking serunya.”

Demikian endorsement yang ditulis Kafi Kurnia tentang novel ini. Kafi tidak salah. Apa yang dipaparkan Baron benar-benar membikin kita tak pernah ingin melepas kelit kelindan cerita hingga tuntas. Menegangkan. Menguak detil-detil kejahatan era digital sekaligus kebaikan yang dilakukan DiverS, sebuah profesi rahasia yang tidak pernah didengar maupun diketahui orang-orang awam, yang para pelakunya sekumpulan orang misterius yang mempunyai bakat sangat luas dalam berbagai bidang dan berani berbuat apa saja, asal dibayar mahal oleh pengguna jasa mereka.

Digitarium, dijelaskan Baron, merupakan tema dari sepenggal kisah era digital yang dirangkum dalam satu wadah yang dinamakan dunia. Era digital yang dijadikannya sebagai setting cerita, maka jangan heran kita akan diantarkan Baron pada sebuah kehidupan berbeda yang menjadikan kecanggihan teknologi sebagai sesuatu yang biasa namun mencengangkan. Karena kita pun telah mengalami dan merasakan sebagian dari kecanggihan itu dalam kehidupan sehari-hari di era saat ini. Bukan tak mungkin, akan tiba saatnya kita masuk di era kehidupan Digitarium dalam arti sebenarnya suatu ketika nanti.

Penceritaan Baron yang sedikit rumit dengan begitu banyaknya seliweran tokoh dalam cerita ini, tidak lantas membuat kita berkerut kening untuk menikmati jalan cerita. Justru kita akan dibuat terpana, betapa Baron dengan mudahnya melepas simpul-simpul misteri yang dirangkainya. Dan lebih mengagumkan, kita diajak mengenal sedalam-dalamnya dunia DiverS, yang selama ini hanya kita pelototi melalui film seperti The Matrix, James Bond atau Wanted yang diperankan Angelina Jolie.

Begitu banyaknya karakter yang ditampilkan, sedikit susah juga untuk me-review novel ini dalam sebuah resensi yang ringkas, padat dan sampai di tujuan. Namun yang jelas, ada dendam, ada jiwa kemanusiaan, ada percintaan, ada kecanggihan, ada kewajaran, ada semua yang tak pernah ada dan bakal ada sekalipun, dan itu semua masuk akal.

Inti cerita, seorang DiverS perempuan dengan begitu banyak nama alias, mendapat tugas untuk membunuh salah seorang pendiri organisasi Legion, Wijayakusuma, yang akan membelot ke organisai Alpha & Omega. Wijayakusuma sendiri berencana menyewa DiverS itu untuk melindunginya. Di sinilah kelit kelindan itu bermula, ada banyak DiverS yang kemudian muncul dan punya keterkaitan satu sama lainnya, terutama dalam hal tugas untuk menghabisi sesama mereka. Dan pada akhirnya, terungkap bahwa DiverS-DiverS ini adalah separuh manusia hasil proyek klonning yang diciptakan untuk keuntungan perusahaan yang menciptakannya.

Tidak asyik rasanya untuk menceritakan semua jalan ceritanya di sini. Karena keasyikan itu justru ada ketika membaca tuntas novel setebal 567 halaman ini. Walau begitu tebal dan memakan waktu beberapa hari untuk menuntaskannya, kita takkan rugi untuk membacanya. Tak percaya? Tempus omnia revelat (sang waktu yang akan mengungkapnya)… (max)

 

 

Iklan

3 thoughts on “Digitarium

  1. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Digitarium

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s