Sakura

SakuraJudul buku: Sakura
Pengarang: Nova Ayu Maulita
Penerbit: PT Lingkar Pena Kreativa
Cetakan: I, Juni 2010
Ukuran: 13 x 20,5 cm, 380 halaman

“Siti Nurbaya” ala Nova

SASTRAWAN Joni Ariadinata menilai novel ini sebagai novel semi antropologis yang cukup menjanjikan, baik dari segi bahasa maupun dari kedalaman isinya.

Sebagai novel perdana, Sakura karya Nova Ayu Maulita ini patut diacungi jempol. Wanita kelahiran tahun 1986 itu, mampu “memanfaatkan” pengalamannya mendapatkan beasiswa dan menjadi mahasiswi pertukaran di Tokyo University of Foreign Studies sebagai inspirasi lahirnya novel ini.

Dalam novel ini, Nova berhasil keluar dari pakem komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang selama ini identik dengan novel berlabel “Islami” atau fiksi Islami. Seperti dikatakan Joni, Nova membicarakan persoalan sosial lintas negara dengan perspektif yang cukup unik.

Dalam berbagai pembicaraan sensitif, misalnya relasi antaragama, antarmanusia (terutama persoalan seksualitas yang merupakan sub tema cukup penting dalam novel ini), penulis tidak terjebak pada perbincangan verbal (dengan aroma dakwah yang menempatkan nilai Islam di atas yang lain,” tulisnya dalam kata pengantar buku ini.

Dengan apik dia menjalin cerita bagaimana kehidupan “mahasiswi berjilbab” di negeri sakura, mengalami jatuh cinta kepada pemuda Jepang –yang dianggap sebagai sesuatu yang tabu di kalangan muslimah–, menjalani hidup sebagai aktivifis LSM, hingga ketika dia (tokoh utama bernama Kirana) harus dihadapkan pada pilihan untuk menyenangkan hati orangtuanya dan mengabaikan pilihan hatinya. Sehingga wajar bila tebersit sedikit duga bahwa novel ini sepenggal biografi kehidupan Nova sebagai pengarangnya melalui tokoh Kirana yang diciptakannya.

Kirana menjalani hari-harinya di Jepang untuk menimba ilmu selama satu tahun. Selama di situ, dia dibimbing Takayama Hiro sebagai tutornya, menjalani persahabatan dengan mahasiswa negara lain yang juga ikut program pertukaran mahasiswa ini. Grace, Sandra, Voleak dan dua mahasiswa program magister bernama Andres dan Wahib. Mereka sepakat, suatu hari nanti, pada musim sakura, akan kembali ke Jepang.

Selama di Jepang, Kirana harus berhadapan dengan budaya yang jelas berbeda dengan kehidupan sosial yang dijalaninya sebagai seorang muslimah dan sebagai orang Indonesia tentunya. Di luar itu, dia juga merasakan adanya benih cinta kepada Takayama Hiro, sebagaimana dia juga cinta kepada bunga Sakura yang tumbuh setiap musim semi.

Sepulang dari Jepang –dengan membawa rasa cinta terpendam kepada Hiro–, Kirana menjalani hari di Yogyakarta sebagai mahasiswi tahap akhir yang disibukkan dengan skripsi. Di luar itu, dia menjadi aktifis LSM GARIS yang anti pornografi dan pornoaksi. Hingga akhirnya tiba permintaan dari orangtuanya agar dia segera menikah dengan Ridwan, pria yang telah dijodohkannya. Sementara Kirana masih berharap adanya “kemungkinan” dia kembali ke Jepang dan menikah dengan Hiro, sebuah impian yang sulit untuk terjadi dalam tenggat dekat. Sosok pria lain bernama Chandra, juga hadir menawarkan cinta.

Kemanakah Kirana melabuhkan cintanya? Akankah dia menjadi “Siti Nurbaya” yang harus menikah dengan pilihan ibu-bapaknya? Atau hidup dengan Hiro yang nonmuslim? Ataukah dia  menjadi istri Chandra yang muslim sejati? Baca saja novelnya!(max)

Iklan

7 thoughts on “Sakura

  1. Ping-balik: Blog ParcelBuku.Com » Blog Archive » Sakura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s