Arsip

30 Hari Jadi Murid Anakku

IMG_8663Judul buku: 30 Hari Jadi Murid Anakku
Pengarang: Mel
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Mei 2009
Ukuran: 12 x 18 cm, 224 halaman

Belajar Menjadi Orang Dewasa yang Arif

BELAJARLAH dari anak. Banyak kearifan hidup yang selama ini luput atau bahkan kita abaikan, “dipertontonkan” anak dengan sengaja ataupun tidak, guna menyentil kita; apakah kita telah menjadi orang dewasa yang arif dan bijaksana atau belum.

Selama ini, dalam pola pengasuhan terhadap anak, umumnya orangtua cenderung memaksakan nilai-nilai yang mereka yakini baik, padahal belum tentu baik bagi anak. Atau mungkin pemaksaan prilaku agar begini dan begitu sesuai dengan mau dan keinginan orangtuanya. Dan itu, ternyata benar-benar salah kaprah bila kita menyimak buku karya Mel ini.

Mel yang “belajar” dari kehidupan dua jagoan kecilnya, menemukan nilai-nilai yang selama ini luput dari perhatian kita. Walau terkadang kita bisa juga menyadarinya, namun cenderung menganggapnya sebagai hal biasa yang berkembang dan bertumbuh dari anak untuk sekadar menjadi perhatian saja, bukan untuk diterapkan sebagai sebuah nilai yang mengerti bagaimana seharusnya orang dewasa berbuat. Toh, orang dewasa telah pernah jadi anak-anak, sehingga tak ada yang baru dari prilaku anak-anak yang patut diteladani. Demikian mungkin pembelaan kita terhadap keengganan kita untuk belajar dari mereka.

Disusun dalam 30 bab sebagai mozaik dari 30 hari yang dilalui bersama anak-anaknya, Mel menguarkan nilai-nilai terpendam yang dipaparkan dari prilaku anak-anaknya.

Apa saja nilai itu? Di antaranya, menurut Mel, anak-anak sebenarnya bisa menempatkan mana realita dan imajinasi, sebagai pengingat (reminder) bagi ortu, mengajarkan untuk berkompromi dengan mereka dan banyak lagi hal lainnya.

Pengamatan yang dilakukan Mel atas jagoan-jagoannya itu, jelas sebuah kejelian yang tak semua orang mampu melakukannya. Dia bisa begitu larut menyelami dunia anaknya, dan menyadari bahwa nilai-nilai itu benar-benar bertumbuh dari mereka sebagai sebuah yang tak mungkin diabaikan begitu saja.

Buatku, untuk tidak malah jadi terasa tua, hayati saja peran yang didapatkan saat bermain bersama anak-anak…” katanya. (hal.67)

Mel, seperti dikatakan Eep Saefullaoh Fatah dalam pengantarnya, tak seperti orangtua pada umumnya, ia membiarkan anak hidup dan tumbuh dalam dunia mereka sendiri. Mel tak mengajak, apalagi memaksa anaknya masuk ke dalam dunianya. Ia justru berusaha masuk sebisa mungkin ke dunia anaknya.

Mel menegaskan sebuah moralitas yang semakin langka di tengah kehidupan kita: Betapa perlunya orangtua belajar otensitas, kejujuran dan kegembiraan bersahaja dari anak-anak mereka,” kata Eep. (hal.12)

Karena itu, marilah kita belajar lagi melalui anak-anak dan buku Mel ini sebagai jembatannya. (max)

Iklan

Biang Penasaran

Biang-penasaranJudul Buku: Biang Penasaran
Pengarang: Kafi Kurnia
Penerbit: Akoer, Jakarta
Cetakan: I, September 2007
Ukuran: 14 x 22 cm, xv + 309 halaman
Keterangan: Kiriman Penerbit Akoer

 Pemasaran yang Bikin Penasaran

KAFI Kurnia dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi sosok yang unik dalam dunia bisnis Indonesia. Dia tak hanya pandai berteori soal pemasaran, tapi juga dianggap sebagai praktisi yang sukses memasarkan beragam produk. Sekadar menyebut saja, dia berhasil membesarkan sejumlah merek seperti Fastron, Pertamax, Esia dan banyak yang lainnya.

Dia juga dikenal sebagai kolumnis, pelatih, dan motivator handal yang mengampanyekan anti pemasaran yang bikin banyak orang jadi penasaran. Maka jangan heran ketika dia meluncurkan buku “Anti Marketing” pada tahun 2004 silam, buku itu laku terjual mencapai 35 ribu eksemplar. Dia pun semakin sering didaulat untuk tampil sebagai pembicara dalam acara seminar-seminar, serta membawakan acara Intrik secara live di Trijaya Network yang disiarkan lebih dari 30 kota.

Dengan sepak terjang seperti itulah yang mungkin membuat Penerbit Akoer bersama Bisnis Indonesia mau menerbitkan buku Kafi yang diberi tajuk “Biang Penasaran” ini. Buku ini merupakan hasil olah pikir Kafi sejak 20 tahun lalu hingga sekarang, yang tak hanya berbicara soal pemasaran tetapi juga berbagai aspek lain. Seperti masalah entrepreneur, filosofi bisnis, etika, moral, hingga soal kepemimpinan atau manajerial. Pemikirannya dianggap tajam, lugas, imajinatif yang kadang nyeleneh dan provokatif.

Soal imajinatif, dengan mengutip kata-kata Albert Einstein Kafi menyebutkan, “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Masalahnya, bagaimana caranya tiap hari kita terangsang untuk berpikir imajinatif.” Imajinasi, katanya, juga memerlukan keberanian. “Berani beda. Juga berani salah.”

Untuk membangun imajinasi ini, Kafi menawarkan 3 langkah untuk pemberdayaan otak yang menjadi pemberdayaan strategi kehidupan sehari-hari. Yaitu rumus “Zikir-Pikir-Kikir”. Dengan rumus itulah 74 tulisannya di buku setebal 309 ini dibagi menjadi 3 bab; bab zikir, bab pikir dan bab kikir, yang tentu saja membahas tema seputar bisnis dalam kacamata “kenakalan” ala Kafi.

Gaya menulis Kafi cukup mudah untuk dimengerti, lantaran dia memaparkan apa yang dipikirkan dan hendak disampaikannya kepada pembaca dengan gaya ringan. Tak terlalu serius dan formal seperti kebanyakan buku motivasi lain. Sehingga pembaca tidak menjadi jemu, walaupun nanti apa yang dibahas Kafi ditemukan lagi pada tulisannya yang lain di buku ini.

Dia mengakalinya dengan mengambil masalah keseharian sebagai contoh yang mudah dimengerti pembaca untuk menyampaikan apa yang dimaksudnya. Di awal-awal tulisannya, dia pun menerakan quote (cuplikan kata) dari berbagai tokoh dan literatur tertentu. Dan di tiap akhir tulisan, dia selalu mengakhirinya dengan kesimpulan, yang membuat pembaca tak perlu lagi berkerut untuk mengerti apa inti dari masalah yang dipaparkannya.

Seperti ketika dia menulis soal “Penasaran” (hal.83), dia bercerita ke sana-kemari, ngalor ngidul sana-sini yang akhirnya didapat benang merah setelah dia menyimpulkan bahwa “penasaran adalah vitamin yang membuat kita lebih jeli dan tajam mengolah peluang.” (hal.85)

Apa yang ditulis Kafi memang membikin pembaca penasaran, bukan membingungkan. Bagaimana dia bisa melahirkan sebuah teori dari tema-tema kecil yang akhirnya menjadi pemikiran besar yang selama ini luput dari perhatian. Nah… penasaran kan? Wajar saja karena memang Kafi adalah biangnya penasaran. (max)

Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki

EmhaJudul: Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki
Pengarang: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Buku Kompas, Jakarta
Cetakan: I, Juni 2007
Ukuran: 14 x 21 cm, vi + 258 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 11 Juli 2007

 

Ngalor Ngidul Ala Kiai Mbeling

TAK ada yang tak kenal dengan manusia yang satu ini. Sosoknya begitu dikenal mulai oleh penggede hingga orang kecil dan gila sekalipun. Namanya bahkan tak hanya lekat di kalangan santri, tapi juga kaum abangan, terutama di Tanah Jawa.

Emha Ainun Nadjib adalah manusia langka. Langka dari segi aktivitas dan hidup yang dilakoninya. Dan juga langka dari segi keilmuan dan dunia yang digelutinya. Serta langka dari segi gaya dan sikap hidup yang dipilihnya. Maka wajar bila pada dirinya melekat sebutan Kiai Mbeling.

Kelangkaan dan sikap hidup yang dipilihnya, tentu tak luput dari pujian dan cercaan. Dan diapun mengakui itu. “…Betapa ragamnya saya dimarahi, diberi peringatan keras, dikecam, dikritik, dihardik, dimaki-maki, dituduh-tuduh, disalahpahami, bahkan seringkali juga difitnah. Tapi karena saya selalu berusaha menjadi murid yang baik, semua itu saya terima dengan rasa syukur.” (hal. 131)

Keterbukaannya atas sikap hidup yang dipilihnya, seperti yang disampaikannya secara blak-blakan dalam tulisan “Peringatan dan Amarah” (hal.131-134) di buku ini, jelas mengungkap siapa gerangan pria yang akrab disapa Cak Nun ini.

Cak Nun, lahir pada 27 Mei 1953 di Jombang, Jawa Timur merupakan pekerja sosial yang hidupnya lebih banyak dijadwal oleh masyarakat yang selalu setia disapanya lewat pelbagai acara dan pertemuan. Sedikitnya ada lima acara rutin yang diasuhnya seperti Padhang Mbulan di Jombang, Mocopat Syafaat (Yogyakarta), Kenduri Cinta (Jakarta), Gambang Syafaat (Semarang), dan Obor Illahi (Malang). Di luar itu, dia melayani berbagai undangan yang memintanya untuk tampil hampir di seluruh daerah Nusantara ini.

Bersama Kiai Kanjeng yang dibentuknya pada 1998 lalu, hingga Desember 2006 Cak Nun tercatat telah mengunjungi lebih dari 22 provinsi, 376 kabupaten, 1.430 kecamatan, dan 1.850 desa. Belum lagi ke luar negeri, dia pun melangkahkan kaki ke negeri orang untuk berbagi hati dan jiwa melalui aktivitas keagamaan dan budaya yang dilakoninya. Pergi kemana-mana ini, bagi Cak Nun adalah pulang ke rumah persemayaman bathin yang sesungguhnya.

Sebagai budayawan dan seniman –yang Cak Nun sendiri belum tentu mau disebut seperti itu–, karya otak dan olah pikirnya sangat bejibun. Dia telah melahirkan banyak tulisan, mulai dari puisi, esai, artikel, naskah drama, Cerpen, makalah hingga buku. Dan buku “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” terbitan Buku Kompas ini, merupakan bunga rampai dari esai-esai Cak Nun yang bertebaran di banyak koran dan majalah termasuk di Harian Kompas sendiri.

Sebanyak 43 esai yang dibagi menjadi 6 bagian; “Podium Husni” (sebanyak 7 tulisan), “Sekul dan Uler State” (9 tulisan), “Santri Teror” (8 tulisan), “Generasi Kempong” (8 tulisan), “Wong Cilik dan Dendam Rindu Jakarta” (6 tulisan) dan “Gunung Jangan Pula Meletus” (5 tulisan), membuktikan dan memberi gambaran bagaimana sikap seorang Cak Nun atas beragam realitas sosial yang terjadi di ngeri ini. Dia tanpa tedeng aling-aling menyuarakan isi hatinya untuk mengatakan yang benar itu adalah benar dan yang salah itu adalah salah. Meski gara-gara itu, sejumlah konsekuensi yang harus diterimanya; dipuji atau dimaki.

Dalam konteks kritik sosial tulisan yang disuguhkan Cak Nun jelas nyelekit (bikin sakit hati dan panas kuping) bagi yang membaca dan mendengarnya. Kendati lebih acap ngalor ngidul ke sana-mari subtansi masalah yang dikritisi melalui tulisannya tidak lepas begitu saja. Walau terkadang mengacu pada literer agama, apa yang disampaikan Cak Nun sangat mengena, walau kadang sedikit kabur akibat ulah ngalor ngidulnya yang nyerempet ke sana kemari.

Berbagai perspektif dan tema yang diangkat, tetap tidak menghilangkan ciri khas Cak Nun. Kendati dibawakan secara bercanda pun, tetap saja kritik Cak Nun takkan lesap. Dia bisa saja berangkat dari fakta riil, rekaan, imajinasi tingkat tinggi ataupun dari hal sepele serupa lagu, penokohan dan kebiasaan adat budaya, Cak Nun bisa masuk dan langsung memanah inti persoalan yang arah bidikannya walau meliuk-liuk tetap menukik di papan target yang dituju.

Baca saja “Gundul Pacul, Fooling Around, Cengengesan” (hal. 175) yang berangkat dari lagu kuno Gundul Pacul. Cak Nun begitu pandai menerjemahkannya dalam kondisi kekinian bangsa ini. “Gundul gundul pacul cul, gemelelengan…Nakal tapi sok benar. Tak mau belajar tapi sok pandai. Kelakuan seenaknya tapi sok suci. Tak punya apa-apa tapi gemelelengan, berlagak, petentang-petenteng. Tak becus jadi pemerintah tapi tak punya rasa malu. Tak mampu berbuat apa-apa, bahkan menyusun kalimat sajapun tak lancar, tapi wajahnya tegak dan malah merasa bangga…” (hal.179)

Kalau diteruskan, masih panjang lagi rentetan sikap gemelelengan ini. Dan itu memang fakta, bahwa itulah kita.

Atau kalau mau yang ngalor ngidul, bisa disimak dalam tulisan “Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki” yang dijadikan judul buku setebal 258 halaman ini. Tak sekedara mengritik, Cak Nun pun punya pandangan yang jauh ke depan. Coba saja simak tulisannya menyangkut bencana tsunami yang menimpa Aceh yang dimuat dalam “Gunung Jangan Pula Meletus“. Di sini, Cak Nun sudah memprediksi bahwa musibah dahsyat itu akan menjadi titik balik bagi perjuangan rakyat Aceh selama ini. Dan itu benar.., bagaimana perang dengan GAM berakhir sudah dan akhirnya keistimewaan Aceh diakui.

Membaca seluruh esai Cak Nun ini, kita benar-benar diberi pencerahan. Dan hampir seluruh tulisannya itu disesuaikan dengan keadaan yang berlangsung ketika tulisan itu ditulis, namun nilainya tetap tak luntur di kekinian.

Sayangnya, tidak seluruh tulisan yang dimuat di buku ini disebutkan sumber pemuatan sebelumnya. Hanya sebagian yang disebutkan, itupun hanya tulisan-tulisan yang pernah dimuat di Harian Kompas. Sementara tulisan yang entah pernah dimuat di mana atau tidak pernah dipublikasikan sebelumnya pun, tidak ada penjelasan dari pihak penerbit. Sehingga pembaca hanya bisa mereka-reka, kapan dan dimana Cak Nun menuliskan tulisannya itu. (max)