Arsip

30 Hari Jadi Murid Anakku

IMG_8663Judul buku: 30 Hari Jadi Murid Anakku
Pengarang: Mel
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Mei 2009
Ukuran: 12 x 18 cm, 224 halaman

Belajar Menjadi Orang Dewasa yang Arif

BELAJARLAH dari anak. Banyak kearifan hidup yang selama ini luput atau bahkan kita abaikan, “dipertontonkan” anak dengan sengaja ataupun tidak, guna menyentil kita; apakah kita telah menjadi orang dewasa yang arif dan bijaksana atau belum.

Selama ini, dalam pola pengasuhan terhadap anak, umumnya orangtua cenderung memaksakan nilai-nilai yang mereka yakini baik, padahal belum tentu baik bagi anak. Atau mungkin pemaksaan prilaku agar begini dan begitu sesuai dengan mau dan keinginan orangtuanya. Dan itu, ternyata benar-benar salah kaprah bila kita menyimak buku karya Mel ini.

Mel yang “belajar” dari kehidupan dua jagoan kecilnya, menemukan nilai-nilai yang selama ini luput dari perhatian kita. Walau terkadang kita bisa juga menyadarinya, namun cenderung menganggapnya sebagai hal biasa yang berkembang dan bertumbuh dari anak untuk sekadar menjadi perhatian saja, bukan untuk diterapkan sebagai sebuah nilai yang mengerti bagaimana seharusnya orang dewasa berbuat. Toh, orang dewasa telah pernah jadi anak-anak, sehingga tak ada yang baru dari prilaku anak-anak yang patut diteladani. Demikian mungkin pembelaan kita terhadap keengganan kita untuk belajar dari mereka.

Disusun dalam 30 bab sebagai mozaik dari 30 hari yang dilalui bersama anak-anaknya, Mel menguarkan nilai-nilai terpendam yang dipaparkan dari prilaku anak-anaknya.

Apa saja nilai itu? Di antaranya, menurut Mel, anak-anak sebenarnya bisa menempatkan mana realita dan imajinasi, sebagai pengingat (reminder) bagi ortu, mengajarkan untuk berkompromi dengan mereka dan banyak lagi hal lainnya.

Pengamatan yang dilakukan Mel atas jagoan-jagoannya itu, jelas sebuah kejelian yang tak semua orang mampu melakukannya. Dia bisa begitu larut menyelami dunia anaknya, dan menyadari bahwa nilai-nilai itu benar-benar bertumbuh dari mereka sebagai sebuah yang tak mungkin diabaikan begitu saja.

Buatku, untuk tidak malah jadi terasa tua, hayati saja peran yang didapatkan saat bermain bersama anak-anak…” katanya. (hal.67)

Mel, seperti dikatakan Eep Saefullaoh Fatah dalam pengantarnya, tak seperti orangtua pada umumnya, ia membiarkan anak hidup dan tumbuh dalam dunia mereka sendiri. Mel tak mengajak, apalagi memaksa anaknya masuk ke dalam dunianya. Ia justru berusaha masuk sebisa mungkin ke dunia anaknya.

Mel menegaskan sebuah moralitas yang semakin langka di tengah kehidupan kita: Betapa perlunya orangtua belajar otensitas, kejujuran dan kegembiraan bersahaja dari anak-anak mereka,” kata Eep. (hal.12)

Karena itu, marilah kita belajar lagi melalui anak-anak dan buku Mel ini sebagai jembatannya. (max)

Aminah, The Greatest Love

AminahJudul Buku: Aminah, The Greatest Love
Pengarang: Abdul Salam Al-Asyri
Penerjemah: Arifudin
Penerbit: Pena Pundi Aksara
Cetakan: II, Mei 2008
Ukuran: 16 x 25 cm, 282 halaman (hard cover)
Keterangan: Pemberian Penerbit Pena

 

Cinta Suci Ibunda Nabi

SETELAH sukses dengan buku “Khadijah; The True Love Story of Muhammad” karya Abdul Mun’in Muhammad” dan buku “Aisyah; The True Beauty” karya Sulaiman An Nadawi, penerbit Pena Pundi Aksara melansir “Aminah, The Greatest Love” ini. Tak jauh berbeda dengan buku terdahulu, buku karya Abdul Salam Al-Asyri ini juga bercerita tentang wanita-wanita yang berada di lingkar kehidupan Rasulullah SAW.

Buku yang sudah masuk cetakan kedua ini, menceritakan pahit manis kisah hidup ibunda nabi yang selama ini jarang dikupas tuntas dalam sebuah buku. Bisa dikatakan, inilah biografi Aminah binti Wahab yang dituliskan pengarangnya dengan bahasa sastra yang tidak membikin jemu pembaca. Pembaca dibawa seakan-akan berada di zaman ketika Rasulullah SAW belum dan sudah dilahirkan. Itu semua karena Abdul Salam dengan detail menceritakan kisah Aminah.

Setelah membaca buku setebal 282 halaman ini, kita akan tahu bahwa Aminah bukanlah sekadar perempuan biasa. Sejak kanak-kanak, dirinya sudah memperlihatkan dirinya memang pantas untuk menjadi ibu yang terpilih. Di tengah peradaban yang masih rendah, Aminah muncul sebagai sosok yang mempunyai ketinggian moral dan martabat. Perempuan setia yang mencintai Tuhannya, suami dan anaknya di tengah pahit getir hidup yang harus dijalaninya.

Aminah merupakan anak yatim yang hidup dalam asuhan pamannya, Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah yang memjadi kepala marga bani Zuharah, sebuah marga dari kabilah Quraisy. Aminah mempunyai pesona dan kecantikan yang luar biasa, gabungan dari kecantikan fisik yang elok dan memiliki kekuatan jiwa, kelembutan rasa, ketangkasan gerak, wawasan yang luas, kecerdasan yang tinggi, dan keistimewaan lainnya. Siapa saja jatuh hati padanya.

Begitu banyak bangsawan arab yang ingin mempersuntingnya, yang paling layak adalah Abdullah bin Abdul Muthallib, pemuda Quraisy yang paling tampan, suci, cerdas dan punya keiistimewaan yang tak dimiliki pemuda lainnya. Sayangnya usia pernikahan Aminah-Abdullah hanya seumur jagung. Di saat cinta kasih masih bergelora dan Aminah hamil muda, Abdullah wafat ketika pulang memimpin kabilah Quraisy berdagang di negeri Syam. Dia dimakamkan di Yastrib.

Dengan bahasa yang indah (terjemahan Arifudin yang tentunya memikat) pembaca bisa merasakan bagaimana perasaan Aminah kehilangan suami tercintanya itu. Hingga akhirnya Muhammad lahir yang membawa keistimewaan dan memunculkan kegembiraan kaum Quraisy, namun duka Aminah tak pernah sirna. Dia pun merasakan hidupnya cuma sebentar.

“Lalu apa yang akan terjadi wahai Tuhanku? Kalau Muhammad ditakdirkan tumbuh besar sendirian, menjalani hidupnya seorang diri tanpa seorang ayah atau ibu, maka apakah itu berarti bahwa aku tidak akan berada di sisinya saat ia tumbuh dewasa meraih harapannya? Tentu aku akan menyusul Abdullah sebentar lagi agar takdir anak ini menjadi sempurna. Ia akan melihat figur seorang bapak di wajah setiap laki-laki dan melihat figur seorang ibu di wajah setiap perempuan. Semuanya akan dilihat sama.” (hal.176)

Begitulah…, hingga akhirnya Aminah wafat di perjalanan dari Yastrib menuju Mekkah –sepulangnya melihat makam Abdullah–, kegetiran hidup Aminah dan Rasullah SAW ketika kecil, terpapar di hadapan pembaca melalui buku ini. Sebuah cerita yang membawa hidayah betapa cinta kasih seorang ibu tiada duanya di muka bumi. (max)

Biang Penasaran

Biang-penasaranJudul Buku: Biang Penasaran
Pengarang: Kafi Kurnia
Penerbit: Akoer, Jakarta
Cetakan: I, September 2007
Ukuran: 14 x 22 cm, xv + 309 halaman
Keterangan: Kiriman Penerbit Akoer

 Pemasaran yang Bikin Penasaran

KAFI Kurnia dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi sosok yang unik dalam dunia bisnis Indonesia. Dia tak hanya pandai berteori soal pemasaran, tapi juga dianggap sebagai praktisi yang sukses memasarkan beragam produk. Sekadar menyebut saja, dia berhasil membesarkan sejumlah merek seperti Fastron, Pertamax, Esia dan banyak yang lainnya.

Dia juga dikenal sebagai kolumnis, pelatih, dan motivator handal yang mengampanyekan anti pemasaran yang bikin banyak orang jadi penasaran. Maka jangan heran ketika dia meluncurkan buku “Anti Marketing” pada tahun 2004 silam, buku itu laku terjual mencapai 35 ribu eksemplar. Dia pun semakin sering didaulat untuk tampil sebagai pembicara dalam acara seminar-seminar, serta membawakan acara Intrik secara live di Trijaya Network yang disiarkan lebih dari 30 kota.

Dengan sepak terjang seperti itulah yang mungkin membuat Penerbit Akoer bersama Bisnis Indonesia mau menerbitkan buku Kafi yang diberi tajuk “Biang Penasaran” ini. Buku ini merupakan hasil olah pikir Kafi sejak 20 tahun lalu hingga sekarang, yang tak hanya berbicara soal pemasaran tetapi juga berbagai aspek lain. Seperti masalah entrepreneur, filosofi bisnis, etika, moral, hingga soal kepemimpinan atau manajerial. Pemikirannya dianggap tajam, lugas, imajinatif yang kadang nyeleneh dan provokatif.

Soal imajinatif, dengan mengutip kata-kata Albert Einstein Kafi menyebutkan, “Imajinasi lebih penting dari pengetahuan. Masalahnya, bagaimana caranya tiap hari kita terangsang untuk berpikir imajinatif.” Imajinasi, katanya, juga memerlukan keberanian. “Berani beda. Juga berani salah.”

Untuk membangun imajinasi ini, Kafi menawarkan 3 langkah untuk pemberdayaan otak yang menjadi pemberdayaan strategi kehidupan sehari-hari. Yaitu rumus “Zikir-Pikir-Kikir”. Dengan rumus itulah 74 tulisannya di buku setebal 309 ini dibagi menjadi 3 bab; bab zikir, bab pikir dan bab kikir, yang tentu saja membahas tema seputar bisnis dalam kacamata “kenakalan” ala Kafi.

Gaya menulis Kafi cukup mudah untuk dimengerti, lantaran dia memaparkan apa yang dipikirkan dan hendak disampaikannya kepada pembaca dengan gaya ringan. Tak terlalu serius dan formal seperti kebanyakan buku motivasi lain. Sehingga pembaca tidak menjadi jemu, walaupun nanti apa yang dibahas Kafi ditemukan lagi pada tulisannya yang lain di buku ini.

Dia mengakalinya dengan mengambil masalah keseharian sebagai contoh yang mudah dimengerti pembaca untuk menyampaikan apa yang dimaksudnya. Di awal-awal tulisannya, dia pun menerakan quote (cuplikan kata) dari berbagai tokoh dan literatur tertentu. Dan di tiap akhir tulisan, dia selalu mengakhirinya dengan kesimpulan, yang membuat pembaca tak perlu lagi berkerut untuk mengerti apa inti dari masalah yang dipaparkannya.

Seperti ketika dia menulis soal “Penasaran” (hal.83), dia bercerita ke sana-kemari, ngalor ngidul sana-sini yang akhirnya didapat benang merah setelah dia menyimpulkan bahwa “penasaran adalah vitamin yang membuat kita lebih jeli dan tajam mengolah peluang.” (hal.85)

Apa yang ditulis Kafi memang membikin pembaca penasaran, bukan membingungkan. Bagaimana dia bisa melahirkan sebuah teori dari tema-tema kecil yang akhirnya menjadi pemikiran besar yang selama ini luput dari perhatian. Nah… penasaran kan? Wajar saja karena memang Kafi adalah biangnya penasaran. (max)

Menulis Mari Menulis

Menulis-mari-menulisJudul Buku: Menulis Mari Menulis
Pengarang: Ersis Warmansyah Abbas
Penerbit: Mata Khatulistiwa
Cetakan: I, Desember 2007
Ukuran: 12 x 18 cm, x + 170 halaman
Keterangan: Diterima dari EWA pada 25 Januari 2008

 Betapa Mudahnya EWA Menulis

MEMBACA buku ini, yakini seyakinnya, pengendala akan hilang ke ruang tak bertepi. Hambatan, ganjalan, rasa takut, minder, menyalahkan diri, atau apapun namanya, tidak akan berbekas lagi. Akan diraih penyadaran, menulis sangat mudah, mudah dan memudahkan. Menulis tak lebih bak ‘bersenda gurau’ belaka. Begitu entengnya, begitu mudahnya. Sampeyan telah memilih buku yang tepat untuk dibaca. Selamat

Buku ini benar-benar memotivasi luar dalam. Belum lagi helai demi helai halaman dibuka dan dibaca, pembaca sudah lebih dahulu dimotivasi di cover depan dan belakang buku terbitan Mata Khatulistiwa ini. “Menulis Mari Menulis” sebagai judul buku, jelas sebuah ajakan atau propaganda positif yang dilancarkan Ersis Warmansyah Abbas (EWA). Untuk meyakinkan calon pembacanya bahwa menulis sangatlah mudah dan memprovokasi agar mereka mau menulis, kalimat yang tertera di atas dijadikan sebagai testimoni di cover belakang buku agar calon pembaca semakin tertarik untuk membaca dan kemudian tidak lagi ragu untuk menulis.

Menulis, bagi sebagian orang memang suatu hal yang memberatkan. Kalau tidak perlu-perlu benar dan bukan sebuah keharusan, pastilah mereka lebih memilih menghindar dari aktivitas ini. Banyak alasan yang akan diutarakan kenapa mereka enggan menulis. Malas, tak pandai, tak punya waktu, lagi buntu, tak tahu apa yang akan ditulis dan seabreg jawab lainnya dijadikan pelepas tanya. Padahal kalau saja mereka tahu betapa bermanfaatnya aktivitas menulis, pastilah takkan ada keengganan dan segala halangan yang akan dijadikan alasan untuk tidak melakukannya.

Menulislah, bila engkau tak ingin hilang dari pusaran dunia.” Begitu kata Pramoedya Ananta Toer. Atau “Scripta Manent Verba Volan (yang tertulis akan mengabadi, yang terucap akan berlalu bersama angin)”, sebuah ujaran yang melegitimasi betapa perlunya menulis. Kebimbangan apalagi yang harus disemayamkan dalam diri untuk melakukan ini?

Merasa tak percaya diri, takut dicaci maki, salah teori, atau merasa otak tak berisi untuk mengejawantahkan buah pikir dalam bentuk tulisan, bagi EWA itu hanya alasan yang dicari-cari. Karena jauh-jauh hari, ketika SD, kita sudah diajari untuk menulis, mengenal 26 huruf (a sampai z) dan 10 angka (0 sampai 9), tinggal lagi kemauan, keberanian, keyakinan, untuk merangkainya menjadi kata, melahirkannya menjadi makna.

Abaikan dulu teori, begitu prinsip EWA untuk memotivasi pembaca agar mau menulis, menulis dan menulis. Dan untuk belajar menulis, memang harus terus menulis. Dan syukurnya dia tidak lupa untuk memberi ingat bahwa untuk menulis harus dikembangkan budaya membaca.

Resep saya, dalam kondisi apa pun, membaca dan menulis adalah hal yang tidak mungkin ditinggalkan.” (hal.22) Karena menurut rang Minang kelahiran Muaro Labuah, Kabupaten Solok Selatan yang kini menetap di Kalimantan Selatan itu, membaca berarti memahami dan menulis ulang dengan bahasa sendiri.

Dalam buku yang terdiri dari 6 bab ini, motivator penulisan yang juga dosen di FKIP Unlam itu dengan gamblang memberi motivasi. Tidak mencle-mencle dan tidak pula perlu banyak teori. Jangan pernah mengira dan jangan berharap kalau di buku setebal 170 halaman ini akan ada segudang teori, kaidah, etika menulis dan kepenulisan yang biasanya dimuat dalam buku-buku sejenis. Takkan ada pelajaran bagaimana mengeja, menuliskan ejaan, apalagi tentang ejaan yang disempurnakan. Menulis saja…. dan mari menulis, menuliskan apa yang ingin ditulis. Habis!

EWA tak sekedar memotivasi dan memberikan gambaran kepada pembaca tentang betapa mudahnya menulis. Dia sendiri menunjukkan kepada kita bahwa saking mudahnya menulis, dirinya bisa merampungkan buku ini hanya dalam satu minggu. Walah! Sebelumnya EWA juga telah memberi motivasi serupa dalam buku “Menulis Sangat Mudah” yang mendapat apresiasi tinggi dari pembaca yang dibuktikan cetak ulang sebulan setelah diterbitkan pada tahun 2007 lalu.

Karena something different yang ditawarkan EWA inilah yang membuat pembaca yang juga calon penulis (atau pernah menulis) menjadi menggebu-gebu melepas belenggu yang bikin mereka buntu untuk menulis. Di samping memotivasi, EWA juga memberi lihat kepada pembaca karya-karya yang telah ditulisnya dan dimuat di media massa serta dibukukan pula. Ada sejumlah Cerpen dan puisi yang dijadikan sebagai bukti dan pemotivasi. Terserah orang mau memuji atau akan mencaci maki, EWA pastilah takkan peduli.

Nah, alasan apalagi yang akan kita cari untuk tidak menulis. Soal tulisan kita akan dicaci maki, anggap sebagai motivasi, kalau dipuji pun tetap anggap sebagai motivasi. Yang penting harus percaya diri, mengapa EWA bisa, kita tidak?

Bagaimana menurut Sampeyan?* (max)

nb:
* merupakan kalimat penutup yang selalu dipakai EWA dalam setiap tulisannya.

Ritual Celana Dalam

CelanaJudul: Ritual Celana Dalam
Pengarang: Andy Stevenio
Penerbit: Pustaka Anggrek, Yogyakarta
Cetakan: I, 2007
Ukuran: 12,5 x 18,5 cm, 188 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 26 Mei 2007

 

 Menyembunyikan Artikel Ilmiah Melalui Judul

MELIHAT fisik bukunya, terutama covernya, siapa saja pasti tertarik untuk memiliki dan membaca buku anyar karya Andy Stevenio ini. Terlebih lagi bagi pecinta sastra perkelaminan, pastilah akan menyangka buku setebal 188 halaman ini sebagai bagian dari genre sastra itu. Kenyataannya?

Andy Stevenio cukup berhasil memancing calon pembeli buku dengan pemilihan judul “Ritual Celana Dalam” ini. Design sampul dengan huruf timbul karya Nova dan Echo_tea pun menjebak pecinta buku untuk segera memilikinya, karena desainnya memang oke punya. Namun, setelah membolak-balik buku ini dan membaca tuntas tulisan yang dituangkan, maka semuanya akan kecele.

Buku ini bukanlah karya sastra perkelaminan yang beberapa waktu belakangan sempat ngetrend melalui karya Hudan Hidayat, Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami atau sejumlah karya cerpenis lainnya. Ternyata apa yang disuguhkan Andy di buku ini, tak lebih sebuah artikel ilmiah yang menceritakan soal berbagai jenis perilaku seksual yang tak lazim dilakukan anak manusia.

Hal itu semakin tersingkap, begitu membaca satu persatu judul dari 26 bab yang ada di buku ini. Judulnya semakin menegaskan bahwa karya pengarang kelahiran 27 Oktober di pelosok Kalimantan Barat tersebut, memang bukan cerita fiksi. Misalnya saja Bab I yang memakai judul “Ternyata Mayat Juga Bisa Diajak Kencan” atau yang cukup jelas pada Bab IV berjudul “Seks Ala Lansia”. Walhasil, dengan judul-judul bab yang artikel banget itu, pupuslah sudah keindahan judul “Ritual Celana Dalam” sebagai judul buku yang misterius dan mengulik keingintahuan pembacanya.

Meski hanya artikel ilmiah –saya lebih senang menyebutnya artikel populer–, cara penyajiannya memang beda dengan artikel-artikel yang biasa ditulis akademisi atau seksolog yang langsung menghujam pada pokok persoalan. Di tangan Andy, pengetahuan seputar kelainan seksual tidak disampaikan melalui teori-teori, opini-opini (tapi kadang dia juga beropini atas tema yang diangkatnya) layaknya karya tulis populer lainnya. Dia justru mengolah menjadi feature –tepatnya semi feature–, sehingga cerita yang ditampilkan seakan-akan nyata, karena dideskripsikan dengan pemakaian tokoh di setiap cerita.

Kendati mengusung semi feature, ada saatnya ketika memasuki ending cerita, opini si pengarang muncul di dalamnya. Opini dalam bentuk kesimpulan, yang biasa ada di artikel populer. Baca saja ending Bab I. “Sang pelaku tidak menganggap ini adalah sebuah kelainan apalagi penyakit tetapi bagi orang awam ini adalah suatu kelainan jiwa. Suka atau tidak suka cap seperti itu harus dialamatkan kepada pelaku. Tidak seorang pun yang jiwanya sehat mau melakukan perbuatan ini dengan alasan apapun. Suatu kelakuan yang tidak masuk akal tetapi kenyataan yang memang ada.” (hal. 26)

Sebagai buku yang layak baca untuk mengetahui beberapa jenis kelainan seksual pada manusia, buku ini cukup bagus, terutama bagi remaja di atas 17 tahun. Namun akan cukup berbahaya bila “jatuh” ke tangan anak-anak ABG yang belum cukup umur dan berpotensi untuk mencoba-coba dan mengeksplorasi kelainan seksual yang kira-kira mereka punya. Dan pihak penerbit mengerti betul dengan hal ini. Sehingga di sampul belakang dituliskan peringatan; “Buku ini diperuntukkan kepada mereka yang sudah berumur 17 tahun ke atas”. Dan syukurnya, tulisan Andy ini tidak kelewat vulgar betul.

Bagi pembaca dewasa, atau yang terbiasa dengan buku-buku karya ilmiah, karya populer ataupun fiksi dan non fiksi yang biasanya taat dan patuh pada aturan baku penulisan (seperti penggunaan tanda baca), buku terbitan Pustaka Anggrek ini jelas akan membikin mereka mengutuk. Andy (atau mungkin penyuntingnya) seakan lupa (ataukah tidak tahu?) bahwa buku ini penuh dengan kekurangan dari segi “etika” penulisan. Penggunaan tanda baca serupa koma dan titik, atau penggunaan kata sambung, penunjuk tempat, tanda petik dan sebagainya, sama sekali diabaikan, sehingga mengganggu keasyikan membaca dan bahkan pada akhirnya bikin malas untuk membaca secara runtut. Inilah kekurangan yang paling mendasar dari buku yang cukup bagus ini. Sangat mengganggu!!! (***)

Panduan Teknis Pendakian Gunung

BukuhendriJudul: Panduan Teknis Pendakian Gunung
Pengarang: Hendri Agustin
Penerbit: Andi Pulisher, Yogyakarta
Cetakan: I, 2006
Ukuran: 14 x 21 cm, viii + 264 halaman
Dibeli: Gramedia Padang, 12 Okt 2006

 

Diktat Wajib (Calon) Petualang

KENDATI penuh tantangan dan resiko yang bahkan nyawa sebagai taruhannya, dunia petualangan tak pernah mati. Para petualang atau tepatnya penggiat alam bebas terus tumbuh bagaikan jamur, ada yang datang dan ada yang pergi.

Berbagai aktivitas, mulai dari pendakian gunung, panjat tebing, arung jeram, sampai ke penelusuran gua, menarik minat berbagai kalangan yang umumnya didominasi kaum muda. Dari semua kegiatan itu, mendaki gunung menjadi kegiatan yang paling banyak menarik minat para petualang pemula. Alasan mereka, untuk mendaki gunung tidak kelewat butuh skill maupun peralatan yang memadai. Cukup bermodal keberanian dan modal nekad doang, mereka yakin bisa sampai di puncak gunung.

Persepsi serupa itu, sudah bukan rahasia umum lagi. Coba lihat, setiap malam Minggu di Koto Baru, kaki Gunung Marapi. Betapa banyak anak muda yang pergi naik gunung hanya dengan membawa tas sandang (bukan carrier), dan bahkan ada yang tanpa bawa apa-apa sama sekali lantaran nebeng dengan teman-temannya. Bagi mereka, mendaki gunung adalah kegiatan hura-hura, dan huru hara tanpa memikirkan keselamatan jiwanya.

Maka jangan heran, selalu saja ada korban berjatuhan saat melakukan pendakian. Mulai hanya sebatas diserang mountain sickness, kesasar, sampai yang harus kehilangan nyawanya akibat kelalaian dan ketidaktahuan mereka soal seluk beluk pendakian.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa Hendri Agustin menulis buku Panduan Teknis Pendakian Gunung. Sebagai pendaki kawakan yang telah melakukan pendakian ke hampir seluruh gunung di Indonesia dan beberapa pegunungan di mancanegara, lelaki kelahiran Padangpanjang, 19 Agustus 1968 ini merasa miris benar dengan fenomena itu.

Sebuah kepedulian yang patut diacungi jempol, mengingat sangat minimnya buku sejenis yang secara detail menulis teknis-teknis pendakian dan segala tetek bengeknya. Selama ini, kalaupun ada buku serupa, hanya sebatas diktat yang biasanya beredar untuk kalangan sendiri di kelompok-kelompok pecinta alam. Itupun isinya tak sedetail isi buku setebal 264 halaman yang diterbitkan Penerbit Andi ini.

Pengalamannya yang bejibun dalam beraktivitas di alam bebas, tidak membuat Hendri harus pelit berbagi ilmu. Dia tak mau tanggung-tanggung mengupas tuntas A sampai Z soal mendaki. Mulai dari ilmu pengetahuan yang ilmiah banget dan teoritis, sampai ke aplikasi teknis di lapangan yang memang akan dilalui seorang pendaki dalam berkegiatan.

Cakrawala pendaki pemula, akan terbuka lebar begitu membaca buku langka ini. Mereka akan tahu banyak bahwa mendaki tidak semata bagaimana menjejakkan kaki di puncak. Lebih dari itu, kegiatan mendaki jauh lebih menyenangkan saat menjalani prosesnya –seperti yang pernah diutarakan Gola Gong dalam serial Balada Si Roy-nya. Mereka akan menjadi tahu, safety procedureadalah hal yang paling utama dalam berkecimpung di kegiatan ini.

Kelebihan lain yang dimiliki buku karya Hendri yang tercatat sebagai pendiri situs petualangan www.highcamp.info dan perintis mailing list Highcamp The Adventures yang beranggotakan sekitar 890 orang ini, adalah disertakannya kumpulan tip yang notabene diangkatkan dari pengalaman yang dia dapat sejak menggeluti dunia petualangan semasa SMA dulu. Belum lagi dengan adanya lampiran yang memuat data gunung-gunung di Indonesia berketinggian di atas 1.000 Mdpl (hal.243), yang di peta Atlas saja belum tentu selengkap itu. Serta adanya check list perlengkapan (hal. 257) dan perencanaan logistik (hal.258) yang dapat menjadi panduan mempersiapkan sebuah pendakian.

Tidak itu saja, buku ini menjadi berbobot dengan adanya bab yang membahas Leave No Trace (hal. 195) yang sering diabaikan para pendaki sebagai prinsip utama dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Prinsip ini, di kalangan petualang dikonsep ringan menjadi “jangan mengambil sesuatu, selain foto dan jangan meninggalkan sesuatu, selain jejak“.

Dengan kelebihan serupa itu, jadilah buku ini sebagai diktat wajib tidak hanya bagi pendaki pemula, tapi juga buat petualang senior sebagai pembanding dan rujukan tambahan bagi mereka.

Sayangnya, buku sebagus ini, tidak semua petualang maupun pendaki pemula yang mengetahui keberadaannya. Karena buku ini dijual di toko-toko besar yang belum tentu menjadi “lokasi bermain” mereka. Justru alangkah lebih baiknya, buku ini dijual di toko outdoor yang menjual perlengkapan alam bebas, karena di situlah biasanya para petualang ini biasanya bermain.

Selain itu, ada mubazir yang tidak begitu mengganggu di buku ini. Yaitu pemuatan foto-foto hasil jepretan Hendri yang yahud punya, namun ditampilkan hitam putih. Coba kalau foto-foto ini dicetak di kertas lux berwarna, woww kereenn.. Pastilah para pembacanya akan mengakui bahwa mendaki itu memang indah!!!. (***)