Sandikala

IMG_8662Judul buku: Sandikala
Pengarang: F Hadijanto
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, April 2010
Ukuran: 12 x 18 cm, 171 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer, 9 April 2010

 

Menggugat Keberadaan Tuhan

TUHAN, mulai saat ini aku nyatakan Engkau tidak kuperlukan lagi! Namaku Siti Janarwati dan aku tak lagi menyembahmu!”

Jeni tak lagi menyentuh mukena yang selalu menemani hari-harinya bermunajat kepada Tuhannya, baik saat bahagia maupun ketika dirundung masalah. Mukena yang selalu menyertai separuh kehidupannya.

Dia memutuskan untuk tidak lagi berbicara kepadaNya, karena merasa Tuhan tidak lagi berpihak tatkala Faisal, suaminya, terbaring tak berdaya. Padahal dia begitu percaya bahwa Tuhan Yang Maha Baik pasti akan memberikan apa saja yang dia minta. Tapi tidak untuk saat ini.

Dia mempertanyakan apakah Tuhan masih bersamanya, masih mengabulkan doanya, memberikan kebaikan kepadanya. Dulu, Jeni masih bisa menerima jika Tuhan memberinya keterbatasan materi, atau tak pernah kecewa jika doanya tak seratus persen dikabulkanNya, dia masih bisa tersenyum  saat satu-dua masalah menimpanya. Tapi kini, dia tak bisa menerima ketika Tuhan membela orang-orang yang mengingkariNya dan membiarkan Jeni dan suaminya yang begitu setia kepadaNya terpuruk dalam ketidakadilan.

Suaminya, seorang pengusaha yang mencoba berbisnis dengan jujur dan hati lurus, menjadi korban penyerangan terkait proyek pembangunan jalan tol yang dikerjakannya. Dia terluka dan terkapar tak berdaya di rumah sakit. Karena itulah hati Jeni turut “terluka” lantaran Tuhan tak melindungi suaminya dalam peristiwa itu.

Jeni menyadari dirinya bukanlah orang yang luput dari dosa. Sebuah dosa besar lahir dari percintaannya dengan Diani, seorang gadis yang memukau hatinya. Namun Jeni tetap menganggap dosanya tidaklah lebih berat dari dosa orang-orang beringas yang telah membuat suaminya menderita.

Sebuah dialog film The Devil’s Advocate yang diperankan Alpacino dan Keanu Reeves semakin membuatnya mencoba menggugat keberadaan Tuhan. “Kau boleh menghabiskan seluruh hidupmu untuk berbuat kebenaran dan kebaikan, tapi kejahatan akan terus ada dan kadang-kadang menang. Tuhan menjanjikan surga bagimu nanti, tapi aku (iblis) akan memberikan semua yang kamu inginkan saat ini, sepanjang hidupmu.” (hal. 44)

Dalam lamunannya, jika Tuhan terus-menerus menunda segala kebaikan dengan dalih memberikan balasan yang setimpal setelah akhir dunia kelak, mengapa dirinya tidak menerima saja iblis yang menawarkan segalanya untuk saat ini.

Jeni akhirnya menempuh bentangan jalan yang diberikan iblis. Dia ingin membuat Tuhan cemburu dan kembali memperhatikannya. Mulailah dia melakukan perjalanan untuk mencari raja iblis. Sebuah perjalanan menuju neraka dan murka Tuhan.

Pencarian pertamanya terhadap iblis adalah melakukan semedi di kuburan keramat Luar Batang selama lima kali Jumat. Tapi Jeni tidak mendapatkan apa-apa dari pertapaannya itu.

Dia tetap mencari ke Alas Purwo selama tiga hari tiga malam bertapa tanpa tidur, yang juga tidak mampu memenuhi keinginannya untuk bertemu raja iblis. Pun tidak tatkala dia melanjutkan pencariannya di sebuah hotel tua di Parangtritis, dan di gua Masigit, di padepokan Bulowolu, hingga ke tempat-tempat lainnya.

Namun akhirnya, pertemuannya dengan Ratu Laut Selatan mengantarkannya pada hidup yang berbeda. Dia menjadi “pesuruh” raja iblis dalam misi untuk kepentingan orang banyak. Sebuah pekerjaan yang seharusnya dikerjakan orang-orang yang selalu percaya kepada Tuhan.

Begitulah jalan cerita novel Sandikala karya F Hadijanto ini. Novel ini, seperti dikatakan Komaruddin Hidayat dalam kata pengantarnya, menyajikan sebagian potret kehidupan yang sangat akrab dengan pengalaman diri kita.

Kita memperoleh doktrin bahwa Tuhan itu Maha Baik, Maha Mendengar dan Maha Penolong. Namun kenyataannya, ketika dihadapkan kepahitan hidup, kita tidak mudah menggapai dan menemui Tuhan untuk mengadu dan menuntut janji-janji kebaikanNya seperti yang selama ini kita diajarkan untuk selalu meyakininya,” kata Komaruddin.

Toh pada akhirnya, melalui novel ini kita akan tetap menyadari bahwa kita takkan pernah lepas dari kehendakNya. Percayalah… (max)

 

Kembar Keempat

Kembar ke4Judul buku: Kembar Keempat
Pengarang: Sekar Ayu Asmara
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, April 2005
Ukuran: 12 x 18 cm, 225 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

 Luar Biasa yang Tak Biasa

LUAR biasa. Saya merasa itulah komentar yang pas untuk novel ini. Sungguh saya menyesal, baru sekarang bisa membacanya. Lima tahun setelah novel ini terbit atau 2 tahun setelah saya mendapat kirimannya dari Akoer pada 21 Februari 2008 lalu.

Disebut sebagai cerita misteri, karya Sekar Ayu Asmara ini lebih dari itu. Alur cerita yang dia bangun benar-benar menakjubkan. Tak cuma itu, pilihan katanya, thesaurusnya untuk kata-kata tertentu benar-benar memukau. Betul-betul perbendaharaan kata yang membuat kita terpukau dan berkeinginan untuk mencari tahu, benarkah kata-kata yang digunakannya termaktub dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ataupun Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI).

Contohnya saja; merumung, menjerling, meragas, kecundang, cemani, melajar, mencentang, melutu, geleser, gementam, dan masih banyak lagi. Dan, saya tak berkesempatan untuk mencari tahu. Karena walaupun asing, dengan rangkaian kalimat yang dibuatnya, kita sudah mengerti apa yang dimaksudnya.

Keingintahuan pembaca atas pemakaian judul Kembar Keempat untuk novel ini, memaksa kita untuk segera menuntaskan jalan cerita dengan setting berbeda-beda yang ditampilkan Sekar. Terlebih di awal-awal cerita, Sekar cuma menceritakan kembar tiga; Bhara, Bhadra, dan Bhajra yang dibesarkan Bunda yang telah ditinggal mati suaminya. Lalu cerita melompat ke tokoh Axena, anak yatim yang kemudian menjadi model kelas dunia dan menetap di New York. Setelah itu meloncat lagi ke tokoh Havana, peranakan Batak dan Turki yang tinggal di Istanbul. Lalu kembali ke kembar tiga, dan secara bergantian ke Axena dan Havana.

Hebatnya lagi, di bab-bab awal, Sekar mengakhiri dan mengawali bab berikutnya dengan susunan kalimat yang sama dengan subjek yang berbeda. Misalnya di akhir Bab 1, dia tulis “Asa bahagia perlahan melungkup di benak Bhara“. Di awal bab 2, dituliskannya “Asa bahagia perlahan melungkup di benak Axena“. Bab itu ditutup dengan kalimat, “Tiba-tiba, gelisah menggelimuni pucuk hati Axena“, dan bersambut di Bab 3, “Tiba-tiba, gelisah menggelimuni pucuk hati Havana“.

Hingga bab 6, pola seperti itu dipakai Sekar. Seakan menyiratkan, sesuatu yang tak terpisahkan dari masing-masing tokoh yang diceritakan. Bab 7 ke bab 8, pola itu tak dipakainya, tapi diulangnya di akhir bab 8 masuk ke bab 9, bab 11 ke 12, 12-13, 13-14, 20-21, 23-24, 27 hingga 30, lalu dari 31 sampai di awal bab 40.

Dengan tokoh berbeda-beda, Sekar mengantarkan kita menjelajah dunia. Axena yang tinggal di Manhattan, New York, lalu ke Paris, Kairo. Havana di Istanbul, dan Bhajra di Bali. Sekar dengan fasih mengantarkan kita “berjalan-jalan”. Dia seakan menjadi guide yang membuat kita menjadi tahu deskripsi wilayah yang (mungkin) belum kita singgahi itu.

Tak hanya njelimet dengan lokasi, Sekar pun dengan anteng menyebut istilah interior, produk fashion, kuliner, dan sebagainya. Sungguh luas pengetahuannya.

Terlepas dari itu, jalinan cerita yang dibangun Sekar, benar-benar membuat kita terperangah. Bagaimana pada akhirnya Bhara, Bhadra, Bhajra, Axena dan Havana mempunyai keterkaitan satu sama lainnya. Lalu siapakah kembar keempat itu?

Axena sebelum akhirnya bertemu Bhara, menjalin jalinan cinta dengan Merav yang kemudian tewas dalam tragedi 11 September 2001 di WTC. Havana sebelum mengenal Bhadra, sudah menjalani cinta terlarang dengan Yilmaz. Lalu Bhajra?

Pada akhirnya, Bhara-Axena, Bhadra-Havana tak bisa menyatu. Kenapa? Ternyata mereka adalah saudara kembar! Tak hanya empat, tapi kembar enam! Lalu ada apa dengan kembar keempat? Siapa gerangan orang tua kandung mereka? Mengapa mereka sampai terpisah-pisah?

Keinginan untuk mengetahui kelindan cerita ini, membuat kita tak ingin melepaskan buku ini sebelum merampungkan seluruh ceritanya.

Sungguh luar biasa. Hanya itu yang bisa saya komentari. Kalau tak percaya, silahkan saja baca. Semoga buku ini masih ada di rak-rak toko buku. Kalau tak lagi ada, hubungi saja Akoer! (max)

Kasmaran

KasmaranJudul buku: Kasmaran; Sebuah Memoar Cinta
Dituturkan kembali oleh: Kafi Kurnia dan Dwitri Waluyo
Editor: Qaris Tajuddin
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Desember 2009
Ukuran: 12 x 18 cm, 202 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

Cinta Membuat Buta

Selalu ada kejutan-kejutan dalam perjalanan. Orang yang menemani kita di awal perjalanan bisa tiba-tiba turun, justru saat kita mulai nyaman dengannya. Tapi, saat kita mulai dapat melupakannya, dia tiba-tiba hadir mengejutkan. Kembali tersenyum dan duduk tepat di samping kita.” (hal.8)

Dalam perjalanannya menuju kota tempat kelahirannya, Anjani bertekat membuka lembaran kelam cerita hidupnya kepada Raras, anaknya. Anjani menganggap Raras lebih patut mengetahui semua kisah yang telah dijalaninya, ketimbang menceritakannya kepada anak sulungnya Wresni, atau si bungsu Angga. Sebuah cerita yang disimpannya dengan rapi dalam kotak Pandora yang tak boleh dibuka oleh siapapun, termasuk Permadi suaminya.

Diawali perkenalannya dengan Seno ketika masih kelas dua SMP. Lelaki inilah cinta pertamanya (dan menjadi cinta terakhirnya). Seiring perjalanan waktu, Seno pun pergi melanjutkan sekolah di akademi militer. Mereka berpisah. Seno yang menginginkan perpisahan itu. Sementara Anjani berupaya mempertahankannya, walau konsekuensinya harus berhubungan jarak jauh. Seno tetap menolak.

Dalam penantiannya yang tak pasti, Permadi, sosok yang berbeda dengan Seno, hadir mengisi hari-hari Anjani. Mereka akhirnya menikah. Pernikahan itu, tidak serta merta membuat Anjani bahagia. Dia tetap mengimpikan kehadiran Seno.

Dan, Seno pun datang, disaat Anjani sudah bisa melupakannya. Disaat Anjani sudah hidup tentram dan mapan bersama suami dan 3 anaknya. Anjani tak bisa menolak kehadiran Seno. Mereka pun kerap berjumpa, baik sepengetahuan Permadi maupun secara diam-diam. Demi itu, Anjani rela berbohong.

Pesona Seno, benar-benar membius Anjani. Dia tak ingin melepaskan lagi dan kehilangan pria itu. Hubungan mereka semakin mendalam. Walaupun Seno telah beristri dan Anjani bersuami, mereka merasa cinta sebenarnya hanya ada antarmereka beruda.

Perselingkuhan itupun akhirnya terkuak. Anjani bercerai dengan Permadi. Sementara Seno tak pernah mau menceraikan istrinya. Anjani rela menjadi istri kedua Seno. Saat itulah Anjani merasakan ada yang hilang dari hidupnya. Sementara itu, ternyata Seno bukanlah seideal yang dibayangkan Anjani. Tabiat buruknya mulai kelihatan. Posesif. Pembohong. Dan rela berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya.

Hubungan mereka retak. Seno ternyata juga punya perempuan-perempuan lain selain istrinya dan Anjani.

Membaca keseluruhan novel ini, pembaca pasti akan geleng-geleng kepala. Betapa cinta telah membuat buta. Betapa cinta tak sekadar menuntut pengorbanan, tapi lebih dari itu; menuntut segalanya. Akal sehat dibikin mati. Bagi yang konservatif, pastilah akan menganggap Anjani gila. Karena, berani bertindak nekad atas pilihannya itu. Tapi apapun juga, Anjani telah memilih. Dan, dia terluka. (max)

Dendam Dinasti Berdarah

DendamdinastiberdarahJudul buku: Dendam Dinasti Berdarah
Pengarang: John Simon
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Desember 2009
Ukuran: 12 x 18 cm, 223 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

Kalahkan Kasus Century

JIKA saja kisah ini nyata, maka heboh kasus Bank Century pasti kalah jauh dibanding merger Bank Gamma dan Bank Omega. Bila Bank Century dikhawatirkan berdampak sistemik bagi perekonomian sehingga muncul kebijakan bailout yang dihebohkan potisi Senayan, dampak rencana merger dua bank itu justru telah melenyapkan sejumlah nyawa orang.

Mengambil setting lokasi di Malaysia, cerita yang dijalin John Simon benar-benar membuka mata, betapa banyaknya intrik di dunia perbankan. Intrik bermula dari dibukanya tender penjualan saham Bank Gamma yang awalnya dimiliki keluarga Richard Koh, dijual oleh Clement Brothers yang telah memberikan kredit terbesar pada Gamma Group.

Tiga konsorsium; CelTrans International, North Hill-Omega Group, dan Bukit Jaya, bersaing untuk mendapatkan 90% saham (9 juta saham) yang ditawarkan Clement senilai 180 juta ringgit. Mereka diberi waktu selama satu hari untuk mengajukan penawaran.

Satu persatu eksekutif konsorsium CelTrans dan Bukit Jaya dikerjai orang-orang North Hill-Omega Group. Ada yang terpaksa bunuh diri dan ada diancam dihabisi. Hingga akhirnya North Hill-Omega Group dinyatakan sebagai pemenang tender.

Tapi jalan mereka untuk menguasai Bank Gamma, ternyata tak lempang begitu saja. Selain ada perlawanan dari karyawan Bank Gamma yang takut akan di-PHK massal, juga ada perlawanan dari anak Richard Koh, Alex yang ingin merebut kembali Bank Gamma dan mencengkeramkan kuku bisnisnya dari pengasingannya di Singapura. Walau upayanya untuk kembali menguasai Bank Gamma gagal dengan ikut tender melalui konsorsium Bukit Jaya, bukan berarti Alex patah arang. Dia pun membalas “permainan kotor” North Hill-Omega Group dengan melibatkan kelompok Cobra.

Di tubuh Omega sendiri, juga terjadi intrik. Tiga tokoh utama; Henry, Stella dan Leon terseret dalam kasus ini. Balas dendam yang dilancarkan Alex, mengancam jiwa mereka. Satu persatu eksekutif Omega diserang kelompok suruhan Alex.

Leon yang sudah tahu merger Gamma-Omega bermasalah dan makan korban, mengungkap praktek fraud yang terjadi di balik merger itu kepada Billy yang bekerja di koran Peninsula Times. Tujuannya, agar merger ini dibatalkan oleh Kantor Pusat Otoritas Keuangan. Merger pun akhirnya dibatalkan, setelah adanya campur tangan putri Richard Koh yang bernama Patricia, sang pemilik Dragon Ring.

Jalinan cerita yang disusun John, benar-benar berkelindan. Pembaca akan dibuat menahan nafas membaca alur cerita yang begitu bergerak cepat dan punya banyak kejutan di sana-sini. Hingga pada akhirnya akan tahu bahwa cerita ini belum akan berakhir. Karena memang, John akan melanjutkan novelnya ini ke saga kedua; Empire The Dragons. (max)

Kamu Sadar, Saya Punya Alasan Selingkuh kan Sayang?

Kamu-sadar-saya-selingkuhJudul buku: Kamu Sadar, Saya Punya Alasan Selingkuh kan Sayang?
Pengarang: Tamara Grealdine
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: IV, Oktober 2006
Ukuran: 12 x 18 cm, xxi + 225 halaman

Tamara yang Bukan Djenar

NYARIS saja bila membaca keseluruhan isi buku ini, mengingatkan kita kepada gaya bercerita dan pilihan tema yang diusung Djenar Maesa Ayu. Tak jelas, apakah memang Tamara Geraldine terobsesi pada Djenar yang disebutnya “pacar gue” itu atau tidak.

Tapi, begitu lembar demi lembar buku setebal 225 ini dilahap, kita akan melihat Tamara sebenarnya. Teegee, begitu ia menginisialkan namanya, benar-benar beda. Beda dalam arti sebenarnya. Beda dari apa yang kita ketahui tentang dia selama ini, sebagai selebritas dan presenter acara olahraga.

Menulis bagi saya, suatu upaya pembebasan,” katanya seperti disebut Putu Fajar Arcana yang menulis tentang Teegee di akhir buku ini. Spirit pembebasan itu, menguar dengan dahsyat dari 12 rangkaian cerpen yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama ini. Bisa dikata, lari dari pakem menye-menye yang kerap disuguhkan pengarang perempuan lainnya. Dalam bahasa Arswendo Atmowiloto, “Tamara menempatkan posisinya di depan jauh dengan generasi pengarang perempuan yang masih berkuntetan dengan penjodohan atau keperawanan. (Dia) juga bukan generasi rikuh, malu-malu soal selingkuh sebagai sesuatu yang tabu…” (hal.xv)

Tamara dengan berani mengangkat tema-tema sederhana yang terjadi setiap hari di sekitar kita, kata Djenar, namun memberi pemahaman yang tidak sederhana. “Analisa-analisa yang cerdas, bahasa yang tidak dibuat-buat, alur cerita yang padat, komentar-komentar yang jujur, gaya yang inovatif dan orisinal, cara bertutur yang bebas…” (hal.220)

Arswendo dan Djenar tidak asal komentar. Cerpen-cerpen Teegee membuktikan itu. Coba saja baca, bagaimana dia dengan cerdas menjadikan punggung dalam cerpen ‘(Punggung) Caska dan Berto’ mengungkap tema sederhana soal perselingkuhan dengan cara penyampaian yang tidak biasa.

Tak hanya itu, hampir keseluruhan kumpulan cerpen ini begitu. Tamara dengan gamblang mengangkat bagaimana cinta bukanlah sesuatu yang indah. Selalu ada tragedi, pengkhianatan, yang mau tak mau harus diterima dan disikapi dengan cara yang berbeda melalui tokoh-tokoh dalam ceritanya.

Di cerpen ‘Maaf, Kita Harus Kenalan dengan Cara Seperti Ini!’, ‘Nobody Knows…’, ‘Pengantar Bunga yang Tertahan Pemeriksaan’, ‘U Turn’, kita akan melihat bagaimana Tamara menggambarkan cinta yang tak berujung indah itu.

Dia juga dengan lantang menggugat hubungan ibu-anak yang tak lagi akur, kehidupan keluarga yang berantakan, perkawinan yang tak lagi sakral. Dan tanpa tedeng aling-aling, dia pun menggugat Tuhan. Di cerpen ‘Mengajari Tuhan’, sangat terlihat kematangan Tamara dalam menyampaikan gugatannya itu. Atau di cerpen ‘Perempuan yang Bertemn dengan Hantu’, Tamara sungguh apik menjalin rangkaian ceritanya.

Dan pada akhirnya, kita hanya bisa menduga-duga bahwa beginikah Tamara adanya. Tamara yang terwakilkan oleh tokoh-tokoh rekaannya. Mungkinkah? (max)

(Lagi-lagi) Menumpuk Buku

BukujogSILAHKAN bilang saya gila. Gila buku, tentunya. Saya jamin, saya takkan marah dengan cacian itu. Justru saya bangga, walau kadang saya balik bertanya, “Benarkah saya gila?”

Kegilaan saya terhadap buku, memang sesuatu yang aneh. Untuk sementara ini (dan semoga tidak bertahan), saya tidak ragu membeli buku-buku lama maupun baru, untuk kemudian menumpuknya. Kapan akan membacanya? Belum tahu. Namun tentu saja, ada sebersit harap dan keyakinan, bahwa buku itu suatu saat nanti pasti akan terbaca. Kalau tidak oleh saya; minimal oleh istri, anak-anak dan keluarga saya.

Dengan keyakinan serupa itu, maka jangan heran kegilaan saya semakin bertambah. Dan semakin menjadi-jadi tatkala ada ajang-ajang book fair yang dipastikan sejumlah counter penerbit buku menawarkan diskon dan buku obralan, serta cuci gudang untuk buku-buku tertentu. Kalau memang sedang beruntung, bisa dipastikan dapat buku-buku bagus dengan harga yang sangat miring. Kalau lagi apes, ya pilih saja buku yang rasanya perlu untuk dibeli dan dikoleksi, hahaha.

Syukurnya, untuk Kota Padang ajang book fair digelar secara berkala sejak beberapa tahun belakangan. Cuma untuk 2009 lalu, karena agenda pesta demokrasi pemilu dan pilpres (ditambah pula kemudian musibah gempa), book fair baru sekali diadakan di Gedung Bagindo Aziz Chan. Itupun cuma Gramedia Book Fair 2009 yang memperjualbelikan buku-buku terbitan Gramedia Grup seperti Buku Kompas, Elex Media Komputindo, Grasindo, Gramedia Pustaka Utama dan sebagainya.

Di gelaran acara yang ditaja 8-16 Agustus 2009 ini, saya sungguh beruntung. Di sini, saya mendapat buku-buku kumpulan cerpen (kumcer) karya pengarang terkenal terbitan Buku Kompas yang harganya dibanderol cuma Rp 10 ribu saja! Seperti ‘Potongan cerita di Kartu Pos’ (Agus Noor, 2006), ‘Lelaki Ikan’ (Hudan Hidayat, 2006), ‘Pembunuh’ (Rayni N Massardi, 2005), ‘Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura’ (Sunaryono Basuki Ks, 2005). Lalu saya juga mendapat buku kumcer ‘Mandi Api’ (Gde Aryantha Soethama, 2006) yang cuma ditarif Rp 5.000.

Di luar buku-buku itu, saya juga membeli buku baru ‘Smokol; Cerpen Kompas Pilihan 2008’ seharga Rp 35.000 yang didiskon 10%. Ditambah dua seri buku Balada Si Roy; ‘Bad Days’  dan ‘Avonturir’ yang sama-sama cetakan keempat Februari 2002. Harganya, Rp 6.500. Buku karya Gola Gong ini, untuk melengkapi koleksi bukunya yang sudah beberapa buah saya miliki.

Buku-buku yang saya dapat di Gramedia Book Fair 2009 ini, jelas berbeda dengan buku-buku yang berhasil “saya kumpulkan” di stand Gramedia saat pelaksanaan Padang Book Fair IV 2008 yang dilaksanakan awal November 2008. Ketika itu, tidak satupun buku Gramedia Grup yang diobral. Hanya buku-buku terbitan Gagas Media dan Media Kita, yang dipatok seharga Rp 5.000 dan Rp 10.000. Umumnya, berupa novel adaptasi film dan chicklit atau teenlit.

Kendati begitu saya tetap membelinya, termasuk novel adaptasi film, dengan alasan lebih enak membaca jalan ceritanya melalui buku ketimbang menonton filmnya yang kadang kelewat buruk sound-nya dan bahkan kelewat lebay. Di antaranya, saya membeli ‘Mendadak Dangdut’ (Ninit Yunita, 2006), ‘Garasi (Noriyu, 2006), ‘Alexandria’ (Salman Aristo, 2005), ‘Kejar Jakarta’ (Adhitya Mulya, 2005), ‘Brownies’ (Fira  Basuki, 2004).

Lalu buku-buku ringan sejenis metropop, seperti ‘Gang Rebel’ (Ridwan Abang, 2006), ‘BijiKaka’ (Nuril Basri, 2007), ‘Nais Tu Mit Yu’ (Dina Mardiana, 2006), ‘Bukan Belahan Jiwa’ (D Sudrajat, 2007), ditambah buku Kahlil Gibran ‘Dunia yang Sempurna’ (2007). Semuanya seharga Rp 5.000.

Ditambah lagi buku-buku “agak berat”, juga saya bawa pulang, semacam buku ‘Melawan dengan Restoran’ (Sobron Aidit & Budi Kurniawan, 2007), novel ‘Dunia Paralel’ (Micki Mahendra, 2006), ‘Jakarta Metropolis Tunggang Langgang’ (Marco Kusumawijaya, 2004) dan ’10 Arrrrrgh’ (Melly Goeslow, 2004). Tak ketinggalan, saya membeli novel karya teman chatting/ngeblog saya Windry Ramadhina ‘Orange’ (2008) seharga Rp 35.000 yang didiskon 10%.

Jauh sebelum Padang Book Fair IV ini, saya juga sudah memborong buku pula saat pelaksanaan Minangkabau Book Fair 2008 yang diadakan akhir Mei 2008. Untuk ajang ini, stand Gramedia tidak ada melego murah buku-buku sastra. Hanya buku-buku tutorial dan referensi terbitan Elex Media Komputindo yang diobral seharga Rp 5.000 dan Rp 7.500.

Daripada tidak ada yang dibeli, saya terpaksa membeli. Minimal untuk dikoleksi atau dibuka sesekali apabila saya butuh tutorial sesuatu. Pilihan saya jatuhkan pada buku ‘Berkreasi Membuat Logo dengan CorelDraw 12’ (Yoga, 2005), ’26 Kreasi Web Buttons (Gregorius Agung, 2004), ‘Digital Painting dengan Photoshop CS’ (Teddy Awaluddin SE & Ir Bayu Adjie, 2004). Ketiganya seharga Rp 5.000.

Ditambah dua guidebook for parents lumayan tebal seharga Rp 7.500 pun saya masukan ke keranjang belanja. Yaitu buku ‘Petualangan Keluarga Shelby’ (Dr Ken West, 2002) dan ‘Aku Cinta Buku’ (Joko D Muktiono, 2003).

Sebelum membeli buku-buku obral itu, saya terlebih dulu membeli buku berdiskon kecil-kecilan (10%-red) di stand Gramedia. Di antaranya ‘Max Havelaar’ (Multatuli, 2008) yang ditarif Rp 68 ribu, kumcer Tamara Geraldine ‘Kamu Sadar, Saya Punya Alasan Selingkuh kan Sayang? (2005) yang masih ditarif Rp 40 ribu dan buku tutorial ‘Tip Membuat Foto Indah & Menarik’ (Vincent Bayu Tapa Brata, 2007).

Buku baru yang bisa saya beli murah, justru di stand Citrahati yang menjadi panpel Minangkabau Book Fair 2008 itu. Mereka mau lepas novel karya sastrawan Sumbar Wisran Hadi ‘Orang-orang Blanti’ (2008) dengan harga cuma Rp 10 ribu dalam kondisi 80% baik. Separoh halamannya ada bercak menguning bekas air yang mengering. Tak apalah, yang penting punya buku.

Saking sakaw-nya saya dengan buku murah meriah –dengan harapan mendapat buku sangat murah seperti tatkala pelaksanaan Pesta Buku Minangkabau 2008 yang dilaksanakan sebulan sebelum Minangkabau Book Fair 2008 ini–, saya mencoba melirik stand lain. Mana tahu ada stand yang obral besar-besaran. Tidak ada. Kalaupun ada, cuma mengobral buku-buku jadoel yang sudah menguning lusuh.

Kendati begitu, saya tetap juga membeli buku-buku jadoel ini buat koleksi, lantaran harganya cuma Rp 5.000. Di antaranya saya membeli ‘Kadarwati, Wanita dengan Lima Nama’ (Pandir Kelana, 1982), ‘Bunga Rampai dari Hikayat Lama’ (Sanoesi Pane, 1948) cetakan III 1987, ‘Ki Hadjar Dewantara Ayahku’ (Bambang Sokawati Dewantara, 1989), ‘Buku Pintar Islam; Seputar Sejarah & Muamalah’ (M Natsir Arsyad, 1993), ‘Surkumur Mudukur dan Plekenyun’ (Arswendo Atmowiloto, 1995), dan buku ‘Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia jilid 1’ karya S Takdir Alisjahbana yang dilansir pertama kali 1949 dan ‘Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia jilid 2’ keluaran pertama 1950. Buku jilid 1 yang saya dapat, merupakan cetakan ke-44 tahun 1983 dan jilid 2 adalah cetakan ke-32 tahun 1986 yang keduanya diterbitkan Penerbit Dian Rakyat.

Puaskah saya dengan 39 buku hasil berburu di beberapa ajang book fair itu? Belum!! Walau belum satupun dari 39 buku itu yang saya baca sampai tulisan ini dipostingkan di blog ini, dalam rentang waktu medio 2008 hingga sekarang, saya tetap menyempatkan diri berbelanja ke Gramedia Padang di Jalan Damar. Di sana, tidak sekalipun saya pulang dengan tangan hampa. Selalu ada saja buku baru yang saya bawa pulang untuk ditumpuk dulu untuk kemudian dibaca suatu saat nanti. (max)

Ijinkan Aku Menjadi Perempuan

Ijinkanakujadiperempuan

Judul buku: Ijinkan Aku Menjadi Perempuan
Pengarang: Lely Noormindha
Penerbit: Akoer
Cetakan: I, Oktober 2009
Ukuran: 12 x 18 cm, 192 halaman
Keterangan: Kiriman Akoer

 

Tragedi Hidup Seorang Pelacur

FAKTA tentang perempuan sepertinya akan terus menjadi perbincangan, diskusi bahkan sumber inspirasi bagi sebuah karya fiksi. Fenomena ketertindasan perempuan dalam berbagai bentuknya, menggelitik bahkan membakar energi perempuan lainnya untuk menghasilkan sebuah karya, khususnya novel, yang bisa mewakili perasaan mereka, dan ‘Ijinkan Aku Menjadi Perempuan‘ adalah salah satunya.”

Demikian prolog yang diantarkan Nafisah FB di dalam buku karya Lely Noormindha ini. Nafisah tidak salah dalam menafsir rangkaian cerita yang tertuang dalam buku setebal 192 halaman ini.

Lely Noormindha mencoba mengangkat perjuangan tokoh utama Venus, untuk menjadi makhluk bebas dari kungkungan kebathilan yang sebenarnya tak pernah diharapkannya. Dia ingin menjadi perempuan yang bangkit dari dosa-dosa yang “terkondisikan” oleh dunianya. Dunia seorang perempuan yang lahir dan besar di lokalisasi Dolly. Sebuah lokalisasi di Kota Surabaya, yang konon disebut-sebut sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara.

Menyimak tema tentang perempuan dan lokalisasi, tentu kita sudah bisa membayangkan apa gerangan jalan cerita di buku terbitan Akoer ini. Eitss…, tapi tunggu dulu. Lely mengusung jalan ceritanya bukan ke arah novel percintaan picisan. Ada banyak cinta di sini. Cinta manusia sebagai individu kepada individu lainnya, cinta manusia kepada sesama manusia, dan yang terutama cinta manusia kepada Illahi Rabbi. Sebuah cinta hakiki, yang tentu butuh perjuangan dan keikhlasan untuk mendapatkan cintaNya.

Venus, gadis belia itu, sudah bertungkus-lumus dengan kemaksiatan yang “disodorkan paksa” kepadanya, sebagai penghuni Dolly yang lahir dari rahim ibu yang juga bagian tak tak terpisahkan dari kegetiran hidup dunia penuh lendir itu. “Pewarisan” profesi ini, bukan atas keinginan ibunya yang telah meninggal karena bunuh diri. Juga bukan atas keinginan ayahnya, yang tentu saja tak jelas siapa yang patut disebut sebagai ayah biologis baginya. Seorang mama (germo) yang membesarkannya di lingkungan itu, menjadikan Venus sebagai “generasi penerus”. Venus tak bisa menolak, tapi dia berkeinginan untuk segera lepas. Terlebih setelah dia mengenal Maryam.

Melalui Maryam, Venus benar-benar memahami tentang dosa dan apa artinya hidup menjadi seorang perempuan. Dia pun menyadari dirinya telah menjadi objek eksploitasi mamanya untuk dijual ke hidung belang. Venus pun lari. Lari untuk hidup yang lebih baik. Lari dari cinta seorang lelaki yang terus berharap cintanya. Bersama Maryam dan teman-temannya, Venus menjalani hidup baru. Hingga vonis itupun tiba. Dia positif mengidap HIV/AIDS akibat enam tahun berkecimpung di dunia pelacuran.

Walau umumnya “pemakai tubuh” Venus memakai kondom, penyakit laknat itu tetap menjangkitinya. Di sini, Lely mengungkap fakta yang sudah menjadi rahasia umum, bahwa kondom bukanlah untuk mencegah serangan HIV/AIDS, justru mempercepat penyebaran penyakit ini. Karena kondomisasi malah melegitimasi seseorang untuk melakukan seks bebas.

“…Kondom sendiri terbukti tidak mampu mencegah transmisi HIV. Hal ini karena kondom terbuat dari bahan dasar lateks (karet), yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori. Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70, yaitu 700 kali lebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron…” (hal.143)

Jalinan cerita yang disajikan Lely, memang dibarengi dengan sejumlah data dan fakta. Di luar itu, tentu saja dia menjalankan dakwah dengan novel sebagai perantaranya. (max)